November 2, 2026
Akan Ku Pastikan Kau Mengerti Seluruhku
Sebaliknya, Semoga Kau Membiarkanku

By Zhaafir Kautsar Yuristiawan
2 min read
Martin Heidegger dalam bukunya Being and Time berpendapat, bahwa kita tidak akan pernah mengerti orang lain sebagai sang liyan, kita hanya akan mengerti mereka sejauh mereka menyatakan diri kepada kita, dalam dimensi eksistensi kita sendiri. Dengan kata lain, relasi dengan orang lain ini akan berjalan dengan penuh teka-teki dan penuh misteri. Sama pula, seperti yang diucapkan oleh Erving Goffman tentang teori dramaturginya. Goffman mendiversifikasi dua area dalam cara kita berinteraksi dengan orang lain, area pertama adalah front stage yang selalu kita atur manajemen impresinya, dan area backstage yang menjadi identitas dari diri kita apa adanya.
Namun selanjutnya, Emmanuel Levinas berpendapat bahwa ada celah resiko dalam upaya kita untuk mengerti sepenuhnya sang liyan: subjektifikasi atau memaksakan pemahaman kita pada sang liyan. Maka alih-alih kita mengerti secara objektif tentang orang lain, kita malah terjebak dalam pemaknaan semu yang kita paksakan menjadi kebenaran objektif. Hubungan teka-teki yang penuh misteri ini sudah menjadi keniscayaan dalam membangun relasi kita dengan orang lain, selalu saja ada wajah-wajah baru yang ditampilkan oleh satu sama lain. Dengan menarik sintesis akan beberapa konsep tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa kita tidak akan pernah mengerti akan orang lain sepenuhnya, selalu saja ada bagian lain yang tidak akan pernah dapat kita jangkau.
Tetapi tenang saja, akan kupastikan bahwa kau akan mengerti aku sepenuhnya. Koridor yang telah lama dan sengaja aku jauhkan dari jangkauan orang lain, akan ku persilahkan kau masuk. Akan ku siapkan ruang untuk dirimu mengeksplorasi diri ku secara lebih dalam. Akan ku persilahkan kau untuk mengetahui area backstage ku, dan bagaimana aku mengatur impresiku. Akan ku biarkan kau melihat versi diriku yang lebih rentan dan lebih rapuh.
Di hadapanmu, takkan ku biarkan aku melebur menjadi sang liyan. Akan kupastikan pintu-pintu itu tetap terbuka, agar kelak kau dapat mampir sesekali, dan melihat bagaimana ternyata diriku jauh dari apa yang dipersepsikan oleh orang-orang. Akan ku buktikan bahwa pernyataan Heidegger, Goffman, dan Levinas hanyalah bualan semata di hadapan daya magis mu.
Dan, ku harap, aku dapat melihat ke dalam dirimu lebih jauh lagi. Jika menurut Sartre kita adalah neraka karena saling berupaya untuk menaklukkan kebebasan satu sama lain, maka biarkan kita terbakar bersama dan saling melebur dalam penaklukan kehendak untuk bebas. Jika Freud berbicara bahwa kita tidak akan bertemu dengan orang lain secara acak, karena telah ada jutaan variabel yang terbentuk dari sejak kita kecil yang membentuk diri kita hari ini, sehingga kita bertemu dengan orang yang selaras dengan penempaan kepribadian, maka biarkan aku mengetahui jutaan variabel itu yang membentuk dirimu menjadi wanita tangguh seperti sekarang.
Tolong, jangan biarkan aku melakukan kecacatan logika yang paling dasar: menerima kenyataan atas dasar hal itu adalah kenyataan yang ingin aku dengar, bukan kenyataan yang sebenarnya secara objektif. Jangan biarkan aku terjebak dalam anonimitas publik yang dangkal, tanpa berupaya melihat dirimu jauh lebih dalam dan lebih otentik.
Aku tak berharap pula kau akan tinggal setelah mengetahui seluruhku โ kau pula bisa pergi seperti kebanyakan orang sebelum mu โ namun aku berharap kau dapat mengerti, seorang diriku apa adanya.
Apapun itu keputusanmu dan apapun itu yang ada di ujung jalan, aku berharap kau tidak melegitimasi pernyataan Schopenhauer tentang cinta: bahwa mencintai adalah menderita.