Bahasa Indonesia punya lebih dari sejuta kata. Tapi anehnya, ketika kita mendengar kabar orang yang kita kenal pergi selamanya, lidah kita tiba-tiba hanya mampu menghasilkan satu suara bisu: "Oh."
Sebuah kata yang lebih banyak menahan napas daripada menjelaskan duka.
Aku sering memikirkan kematian di hari Rabu. Bukan karena hari itu spesial atau bertepatan dengan hari kelahiranku, tapi mungkin karena hujan di hari Rabu selalu terdengar seperti orang yang sedang menarik napas panjang sebelum menyerah.
Kalo hari ini aku mati… misalnya, tersedak daging ayam geprek yang terlalu tebal, atau tiba-tiba jantungku memutuskan untuk tidak mau berdiskusi lagi dengan tubuhku — aku penasaran dengan satu hal.
Kata apa yang akan kau sisakan?
Aku tidak sedang meminta eulogi. Aku tidak butuh puisi yang membuat orang-orang di pemakaman menguap pelan sambil nyetel HP di silent. Aku cuma penasaran, di detik-detik terakhir ketika kau mendengar kabar itu, apa kata pertama yang berhasil keluar dari mulutmu?
Mungkin kau akan berkata, "Anjir, seriusan?"
Itu oke. Aku bahkan akan tertawa dari dalam peti kayu karena tahu itu kayak kamu banget. Kita manusia memang lucu. Di depan pintu kematian, kita masih sibuk memikirkan hal remeh. Kau mungkin akan menyesal karena kemarin kita ribut soal siapa yang harus bayar parkir, atau karena aku pernah meminjam charger laptopmu dan lupa ngembaliin selama tujuh bulan.
Tapi di luar humor murahan itu, ada ruang hampa yang selama ini kita biasa isi dengan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Kita sering kali menghabiskan energi untuk membangun tembok dari kata-kata yang aman.
"Apa kabar?" "Baik-baik aja." "Jaga kesehatan ya."
Padahal, di antara kata "apa kabar" dan "baik-baik aja", sering kali terselip ratusan badai yang kita pilih untuk tidak kita ceritakan. Aku tahu itu. Aku juga melakukan hal yang sama. We both lying ain't we ?
Ada kalanya aku merasa tubuhku ini hanya sekadar rumah bagi tulang-tulang yang lelah. Dan di hari-hari seperti itu, kau hadir membawa tawa yang berisik, atau sekadar diam di sampingku sambil makan mi instan dua bungkus tanpa bertanya "kenapa kamu sedih?" — karena kau tahu aku tidak akan pernah menjawabnya dengan jujur.
Kau mengajarkanku bahwa ikatan antarmanusia tidak selalu harus diukur dari seberapa dalam air mata yang tumpah. Kadang, ikatan itu terukur dari seberapa nyaman kita berdua duduk dalam satu kesunyian tanpa merasa harus mengisinya. Tapi kembali ke pertanyaanku tadi. Kalo aku mati hari ini, kata apa yang akan kau sisakan untukku?
Aku berharap bukan kata maaf. Aku sudah bosan dengan kata maaf yang datang terlambat, seolah-olah maut adalah reminder yang baru kau baca setelah melewati deadline-nya.
Pada akhirnya, kita menghabiskan separuh hidup untuk belajar merangkai kata, lalu menghabiskan sisa separuhnya untuk memilih kata mana yang sebaiknya tak diucapkan.
Padahal, di depan pintu kematian, semua kata yang kita sembunyikan itu hanya akan jadi debu yang menumpuk di langit-langit kerongkongan — menunggu untuk batuk, tapi tidak pernah sempat.
Jadi, katakanlah sekarang.
Katakanlah bahwa kau pernah merasa kesal melihatku memakai kaos yang itu-itu saja. Katakanlah bahwa kau merasa hangat saat kita nonton film sampai tengah malam dan tidak ada yang ngomong. Atau katakanlah saja bahwa aku ini menyebalkan karena terlalu keras kepala, dan berbicara terlalu banyak tapi kau tetap memilih untuk di sini.
Kalo hari ini aku mati, jangan sisakan kata yang indah-indah. Indah itu licin. Indah itu sering kali tidak jujur.
Sisakanlah kata yang biasa saja. Kata yang kotor tapi nyata. Seperti hidup kita yang selama ini sudah terlanjur berjalan tanpa skenario yang rapi.
Aku tidak akan mati hari ini. Setidaknya tidak sebelum aku bisa benar-benar merasakan hidup yang sesungguhnya atau utang di warung makan yang sering kita datangi lunas. Tapi esok hari, atau lusa, atau ketika hujan di hari Rabu kembali terdengar terlalu berat, tolong katakanlah sesuatu.
Sebelum ruang di antara kita berdua akhirnya dipenuhi oleh keheningan yang permanen.
— K