July 23, 2026
I Thought I Was Brave
Orang bilang aku adalah seorang wanita pemberani, berani merantau jauh sendiri, berani mencoba hal-hal yang terdengar mustahil, berani…

By Lili Dianti
1 min read
Orang bilang aku adalah seorang wanita pemberani, berani merantau jauh sendiri, berani mencoba hal-hal yang terdengar mustahil, berani menyampaikan kritik terhadap rezim yang zalim, dan berani melawan apabila diperlukan. Tanpa sadar, hal itu membentuk definisiku terhadap keberanian begitu besar. Aku selalu menganggap bahwa berani adalah suatu hal yang besar. Tapi belakangan aku sadar, bahwa tidak begitu lagi.
Aku bisa menelan ratusan penolakan ketika melamar pekerjaan, aku bisa menghadapi gagal untuk mendapatkan beasiswa yang sangat aku dambakan, tapi mengapa aku terlalu takut hanya untuk mengirim sebuah pesan? Bukan karena aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan, tapi karena aku terlalu tahu apa pesan yang ingin aku sampaikan. Satu hal yang pasti, keberanian itu padam saat mengetahui siapa yang ingin aku kirimkan pesan.
Benar adanya jika keberanian tidak selalu tentang hal-hal yang terlihat besar dan mengagumkan. Sesederhana menanyakan kabar kepada seseorang yang sangat kita ingin tahu kabarnya juga perlu keberanian.
"Hai, apa kabar?"
Aku ingin tahu bagaimana dia menjalani hidup hingga saat ini, aku ingin membangun kembali percakapan hangat yang dulu pernah terhenti karena kesalahanku sendiri. Sesederhana itu, tapi ternyata sesulit itu.
Selalu saja kepala dan hati berkonflik, selalu saja kepalaku lebih cepat dari hatiku. Saat menulis ini aku tersadar bahwa ternyata aku terlalu bebas memberi ruang pada rasa takut, bahkan tidak sedikitpun memberi ruang untuk keberanian memunculkan eksistensinya.
Pernah dengar lagu Tulus yang berjudul Jatuh Suka? Beberapa penggalan liriknya mampu mewakili rasa takutku itu.
Sungguh ku tidak memiliki daya Di depan harummu Sungguh terkunci kata yang tertata Di depan ragamu
Bila kau lihat ku tanpa sengaja Beginikah surga Bayangkan bila kau ajakku bicara Ini semua bukan salahmu Punya magis perekat yang sekuat itu Dari lahir sudah begitu Maafkan Aku jatuh suka
Begitupun aku, hilang dayaku ketika mencoba menghubunginya kembali. Sungguh terkunci semua kata yang aku pikirkan, padahal hanya di hadapan layar yang bertuliskan namanya.
Tapi begitu senangnya aku ketika dia menghubungiku duluan walau ternyata itu salah kirim, dalihnya. Senyumku tidak pudar bahkan ketika sudah berganti hari.
Iya, ini bukan salahnya apabila dia memiliki magis perekat yang sekuat itu meskipun hanya melalui layar. Sungguh ironi yang indah, aku jatuh suka.
Mungkin setelah tulisan ini selesai, aku tidak langsung menghubunginya. Tapi setidaknya, aku mampu mempelajari sisi diriku ini. Jika suatu hari nanti aku berhasil menghubunginya, aku akan dengan senang mengingat tulisan ini. Saat itu tiba, artinya aku sudah memberi penghargaan bagi diriku untuk tidak hidup dalam bayang-bayang pertanyaan "bagaimana kalau" berkonotasi negatif.
Barangkali satu pesan sederhana memang tidak bisa mengubah seluruh hidupku. Tapi setidaknya, itu bisa menjadi awal dari keberanian-keberanian lain yang selama ini kutunda.
Ternyata tulisan ini untuk menyadarkan aku tentang bagaimana menjadi cukup berani untuk jujur pada perasaanku sendiri. I thought I was brave. Turns out, I'm still learning. But next time, I'll be braver..