August 5, 2026
Kusediakan telinga padamu yang tak lagi takut dengan kerapuhan
Selamat pagi, namaku Diana. Sebelumnya, terima kasih ya, sudah berani meluangkan waktu untuk hadir di sini. Hari ini, aku yang akan…

By Diana
6 min read
Selamat pagi, namaku Diana. Sebelumnya, terima kasih ya, sudah berani meluangkan waktu untuk hadir di sini. Hari ini, aku yang akan menemani sesimu. Aku mau mengingatkan kalau di ruangan ini, semua cerita dan emosimu sangat diterima. Kira-kira apa yang ingin kamu bagikan hari ini, dan bagaimana aku bisa mendukungmu?
Peringatan konten: Tulisan ini menyinggung topik mengenai kesehatan mental (mentions of suicide). Jika topik-topik ini menimbulkan ketidaknyamanan, kamu selalu diizinkan untuk berhenti membaca.
Tahun 2020–2022 menandai rentang waktu yang dipenuhi mimpi-mimpi besar. Kampus Biru menjadi latar tempat bertumbuhnya harapan sekaligus arena penempaan diri. Penempaan diri yang kumaksud tidak berporos pada proses merangkai identitas dari deretan pencapaian. Lebih dari itu, aku berupaya membebaskan diriku dari segala atribut kesuksesan, termasuk keberhasilan-keberhasilan di masa lalu. Aku membangun diriku dari nol, sebuah ruang yang sengaja kukosongkan agar cara pandang yang baru bisa bertumbuh.
Pilihan hidup tersebut membuatku menghadapi konsekuensi yang lebih serius dari prediksiku. Demi perlahan menemukan bentuk, aku melalui berbagai proses yang tak selalu membuahkan ketenangan. Ketidaknyamanan justru lebih sering mengambil alih. Menatap diri sendiri secara objektif adalah proses yang sangat menguras tenaga. Ada pola perilaku yang harus diakui, luka masa lalu yang pantas dibedah, serta pilihan hidup yang perlu dikalibrasi. Proses ini menuntutku untuk berani melepas penyangkalan sekaligus membuka diri atas berbagai kebenaran-yang-tidak-nyaman-tentang-diriku-sendiri. Keputusan untuk merangkul kerentanan inilah yang kelak menjadi esensi dari hal-hal yang kulakukan di masa depan.
Aku menyadari bahwa memiliki cara pandang yang lebih memberdayakan tidak lantas lahir hanya karena aku sudah cukup mengenal diriku. Semakin banyak yang kutahu, aku justru semakin tak bisa menghadapinya. Menulis membantuku banyak hal dalam merekognisi perjalanan itu. Selayaknya kita yang selalu berusaha mengingat kebahagiaan; memotretnya, bahkan menulisnya di segala media, begitupun seharusnya kita menyikapi beragam peristiwa-peristiwa yang berwajah sebaliknya. Dengan menulis, aku menjadi tahu apa yang kurasakan, apa yang kubutuhkan, dan apa yang harus kulakukan setelahnya. Sedikit demi sedikit, apa yang kupahami tentang diriku perlahan terpetakan menjadi kesadaran yang memberdayakan, walau nyatanya tak semua hal tentang diriku bisa langsung kumengerti saat ini juga. Menariknya, proses penerimaan ke dalam ini perlahan ikut terpancar keluar dan direspons dengan hangat oleh sekitarku. Aku jadi jauh lebih berani untuk mengekspresikan diri. Pikiran dan perasaan yang dulu mungkin hanya kusimpan sendiri, pelan-pelan mulai berani kubagikan melalui berbagai media, termasuk lewat tulisan di media sosial. Entah sejak kapan, teman-temanku mulai mempertimbangkan kehadiranku sebagai seseorang yang bisa mendengarkan dan sesekali dimintai sudut pandang atas masalah mereka. Alih-alih keberatan dengan itu semua, aku justru merasa diberi kekuatan untuk mengeksplorasi dimensi diriku yang selama ini belum kuketahui.
Kesempatan baru hadir seiring dengan keberanian yang muncul. Pada September 2022, aku mendaftarkan diri sebagai konselor sebaya di tingkat fakultas. Keputusan ini mengambil tempat di tengah momentum yang krusial, yakni ketika isu kesehatan mental tengah menjadi sorotan tajam. Secara nasional, publikasi I-NAMHS pada tahun tersebut menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sekitar 15,5 juta remaja Indonesia berhadapan dengan masalah kesehatan mental. Menurut pakar dari Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, tingginya angka ini sangat dipengaruhi oleh isolasi sosial selama pandemi COVID-19 yang menurunkan kemampuan adaptasi para remaja.
Di tengah situasi krisis tersebut, fakultasku telah merespons kebutuhan ini dengan baik. Melalui Career Development Center (CDC) Fisipol, telah terjalin kerja sama antara bidang akademik dan kemahasiswaan untuk menyediakan sarana penanganan kesehatan mental. Langkah ini menjadi sebuah keistimewaan, mengingat beberapa fakultas lain saat itu belum sepenuhnya siap membangun infrastruktur serupa.
Namun, tepat pada Oktober 2022, tak lama setelah aku mendaftar sebagai konselor sebaya, UGM dikejutkan oleh insiden mahasiswa yang mengakhiri hidupnya[1]. Peristiwa ini menimpa mahasiswa Fisipol, fakultas yang sebetulnya sudah menyediakan layanan penanganan psikologis melalui CDC Fisipol. Peristiwa ini membuka mata kami bahwa penanganan krisis mental tidak bisa berhenti pada pengadaan infrastruktur. Lebih dari itu, dibutuhkan pendekatan komprehensif yang bertumpu pada kesadaran kolektif di akar rumput. Kampus sangat membutuhkan literasi kesehatan mental sehari-hari, termasuk pemahaman krusial mengenai langkah pertolongan pertama ketika mendengar seorang kawan mengindap depresi dan menyuarakan tendensi untuk menyerah pada hidup.
Proses seleksi yang kulalui untuk menjadi konselor sebaya tidak singkat. Aku harus menyusun esai diri yang menuntut perenungan mendalam, menghadapi tes skolastik dan leaderless group discussion, melewati tahap wawancara, hingga menyepakati komitmen pelatihan selama dua bulan. Meski terdengar padat, aku menjalaninya tanpa beban. Semua terasa mudah seolah aku memang digariskan untuk menjalani proses ini. Segalanya terasa begitu asing, tetapi entah mengapa begitu akrab. Aku merasa akan bertemu dengan orang-orang yang bisa memandangku dengan hangat dan melihat kerentananku dengan penuh penghargaan. Segala hal yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat, pada akhirnya bisa menemukan ruang untuk ditampilkan.
Familiaritas yang ganjil itu perlahan mulai masuk akal. Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa sekaligus konselor sebaya paruh waktu ternyata memberiku ruang untuk menikmati keseharian. Terlebih, pada periode yang sama, aku dipertemukan dengan Valenidha, Resa, Abid, Callysta, dan Sofi. Bertemu mereka menghadirkan sebuah perasaan terhubung yang sulit kujelaskan secara gamblang. Pastinya, sungguh menenangkan rasanya bertemu orang-orang dengan pemahaman tak jauh beda tentang bagaimana dunia ini berjalan dan kepingan pengalaman hidup yang beresonansi denganku. Para staf di CDC Fisipol juga tidak kalah baiknya. Mereka menjadi salah satu sumber dukunganku dalam menjalani peran ini. They really appreciated my vulnerability, my softness, my sensitivity to feel pain, and things that others might find overwhelming. In this place, they embraced me wholeheartedly.
Secara definisi, kami adalah mahasiswa yang mendapat pelatihan khusus untuk memberikan pertolongan pertama psikologis bagi kawan sebaya. Ranah kami pun berbatas. Kami tidak berkapasitas untuk melakukan intervensi klinis apalagi menjatuhkan diagnosis medis. Kami murni hadir bagi mereka yang membutuhkan teman untuk memperjelas benang kusut di pikiran, menawarkan dukungan emosional, hingga mencari alternatif sudut pandang. Jika situasi konseli membutuhkan penanganan klinis, kami akan langsung merujuk mereka ke psikolog yang difasilitasi oleh CDC Fisipol. Peran kami di tahap awal ini krusial untuk membantu menyaring dan mengarahkan kasus, terutama karena jumlah psikolog yang tersedia saat itu masih sangat terbatas.
Menjalani konseling sebaya rasanya tak ubahnya seperti mendengarkan keluh kesah teman sendiri. Kemampuanku untuk terus melakukan refleksi diuji sekaligus dimanfaatkan secara maksimal. Hanya saja, perannya bergeser menjadi lebih profesional, terikat oleh kode etik yang jelas, dan diapresiasi secara finansial. Setiap bulannya, aku bisa duduk bersama lebih dari lima klien dengan berbagai permasalahannya. Kadang, aku juga turun tangan menggantikan jadwal teman-teman konselor lain untuk mendengarkan cerita mereka yang datang. Dari mendengarkan banyak cerita itulah, aku memahami bahwa tidak semua dari kita memiliki lingkungan yang aman untuk sekadar berbagi keluh kesah tanpa dibayangi rasa takut akan dihakimi. Di saat seseorang sudah terjebak dalam situasi itu, kehadiran orang lain yang mampu menawarkan rasa aman menjadi sangat berarti. Ini membuat cerita-cerita yang selama ini disembunyikan bisa dibagikan dengan jujur.
Bagi yang berkenan mendengarkan, ini adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk mendekati luka. Keinginanku untuk menjadi konselor sebaya berangkat dari apresiasiku pada mereka yang bersedia duduk tenang dan menunggu ceritaku selesai. Mereka yang mungkin diliputi rasa waswas saat mendengar kelanjutannya, yang tidak punya pengalaman serupa untuk memahaminya, atau bahkan tidak memiliki solusi praktis untuk ditawarkan. Justru karena mereka tidak menyela dengan berbagai petuah, aku diberi keleluasaan untuk mendengar suaraku sendiri. Ini memperlihatkan bahwa 'titik terang' itu sering kali tidak diberikan oleh orang lain, melainkan ditemukan saat kita diberi wadah untuk memroses emosi.
Di luar sesi-sesi personal tersebut, aku dan para konselor sebaya lain bergerak lebih luas dengan satu resolusi bersama, yaitu membangun jaring pengaman untuk kewarasan di kampus. Kami merancang upaya pengenalan psychological first aid, menggerakkan kampanye kesehatan mental bagi sivitas akademika, hingga menghidupkan berbagai inisiatif program sebagai ruang napas bersama di kampus. Kami juga terus mendorong kapasitas diri agar siap ketika harus berhadapan dengan penanganan kasus yang sama penting dan kritisnya, seperti pendampingan penyintas kekerasan seksual.
Menjadi konselor sebaya ternyata tidak hanya memberiku ruang untuk mendengar, tetapi juga didengarkan. Sebagai bagian dari sistem ini, aku mendapatkan fasilitas kesehatan mental yang terhubung langsung dengan psikolog fakultas. Kesempatan ini kumanfaatkan sebaik mungkin untuk memperkuat pijakanku sendiri, baik sebagai manusia maupun sebagai seorang konselor sebaya. Melalui sesi bersama psikolog, aku memulihkan kapasitasku pada dua peran yang saling berkaitan tersebut. Aku menyadari bahwa kemampuanku merawat kesejahteraan mental diri akan sangat memengaruhi kualitasku saat mendampingi orang lain. Sebab, kepedulian yang terus-menerus kita berikan memiliki harga emosional yang tinggi. Hal ini pada akhirnya ditentukan oleh seberapa mawas diri kita dalam mengakui keterbatasan dan kekuatan yang dimiliki. Aku belajar untuk mengenali kapan diri ini butuh istirahat dan mengevaluasi apakah rutinitas merawat diri selama ini sudah cukup tangguh untuk menangkal bahaya burnout. Dengan memiliki kesadaran ini, aku bisa hadir seutuhnya untuk berempati tanpa harus mengambil alih beban emosional mereka ke pundakku.
Waktu bergerak begitu lekas. Aku akhirnya menghabiskan separuh waktu kuliahku sebagai konselor sebaya di kampus. Ruang bernama BA110 menjadi saksi bisu yang membuatku sadar bahwa selalu ada tempat untuk manusia-manusia sepertiku.
Mengalami penerimaan semacam itu menyadarkanku pada satu realita tentang kelirunya caraku menyembunyikan diri untuk bisa diterima. Pada dasarnya, manusia tidak memiliki sakelar untuk mematikan emosinya secara selektif. Ketika kita membangun tembok pertahanan untuk menangkal rasa sakit dan berlagak keras, tanpa sadar kita juga menumpulkan kemampuan kita untuk merasakan empati, cinta, dan koneksi. Dari sini, aku memahami bahwa kerentanan adalah prasyarat utama agar kita bisa saling terhubung dengan manusia lain.
Perasaan inilah yang pelan-pelan ingin kubagikan kepada mereka yang datang kepadaku. Untukmu yang masih ragu, izinkanlah dirimu untuk menjadi rentan. Sebab hanya dengan ini kita bisa saling menemukan dan memulihkan.
[1] Melalui tulisan ini, teriring duka cita yang teramat dalam atas kepergian kawan kami, TSR (18). Semoga ia kini telah menemukan kedamaian yang sejati, dan semoga kepergiannya senantiasa menjadi pengingat bagi kami semua yang ditinggalkan untuk terus saling menjaga.