Let's be honest. Aku mulai mempertanyakan satu hal: "Oh, maybe I'm not actually healing. Maybe I just look better because I've learned how to hide it."

Aku banyak mencari informasi tentang healing dan apa yang harus aku lakukan, tapi aku tidak merasakan apa pun seperti yang orang-orang sering sebut, 'healing' atau sembuh. Yang aku rasakan justru lebih seperti merapikan kekacauan, bukan menghilangkannya.

Kenyataannya, healing tidak semudah bicara. Kurasa itu adalah sebuah proses di mana kamu akan duduk berhadapan dengan perasaanmu sendiri dan perlahan menuntaskan segala kejanggalan serta perasaan aneh yang kamu rasakan. Lalu healing itu apa? Dari semua kegiatan yang orang-orang sebut "healing", kenapa aku tidak merasakannya?

Beberapa hal yang kemudian aku sadari: aku tidak lagi begitu ekspresif terhadap apa yang aku rasakan. Di dalam kepalaku selalu muncul banyak pilihan ketika aku dihadapkan pada sebuah perasaan tertentu. Semacam game yang harus kamu pilih untuk bisa mengerti akan seperti apa babak berikutnya. Beberapa orang mungkin melihatku tampak tenang di luar. Tapi pikiranku tidak setenang itu. Aku hanya memilih diam dan mencerna apa yang terjadi serta apa yang aku rasakan alih-alih langsung memberi respons yang nantinya malah membuatku menyesal sendiri atau bahkan bisa menyakiti orang lain.

Aku sadar, aku tidak benar-benar melupakan apa yang pernah menggangguku. Dan yap, aku hanya berhenti membicarakannya. Lalu, sering kali aku baru menyadari itu saat aku merasa sudah tidak memikirkannya lagi. Seolah-olah pikiranku hanya menundanya, bukan melepaskannya. Seperti, "let's not deal with this now. Focus on something else first, yuk!" Kira-kira begitu gambarannya. Terus di saat yang tak terduga, dia akan muncul dan bilang, "hey, you still have this, you know.." sambil senyum.

Kemudian, aku jadi ragu apakah perasaan yang aku rasakan tidak benar-benar nyata atau aku hanya membesar-besarkannya. The result: Aku menjadi dumb dan asing dengan perasaanku sendiri.

Mungkin karena aku lebih memilih menekan apa yang aku rasakan, aku memilih untuk mengesampingkan apa yang aku rasakan dan lebih fokus pada apa yang harus aku lakukan. Lalu, ketidaknyamanan itu akan datang padaku di saat aku sekadar duduk tanpa melakukan apa pun, tapi dia juga datang di saat aku menulis ini.

Aku tidak benar-benar hadir saat perasaanku menginginkan aku ada di sana untuk mendengarkannya.

Tidak semua orang berada di fase yang sama dengan kita atau pernah berada di fase yang kita jalani. Misalnya, aku berbicara tentang kondisiku dengan si A, tapi setelah aku melihat respons si A yang langsung menilai apa yang aku rasakan alih-alih mencoba untuk memahami dari sudut pandangku, aku jadi berpikir "Oh, I'm talking to the wrong person". Tapi bukan berarti orangnya yang salah. Hanya jembatan yang aku lihat sebagai penghubung yang bisa mengantarkanku sampai di sana, tidaklah sama dengan jembatan yang sedang si A lihat di depannya.

Sejak saat itu aku lebih berhati-hati dan tidak secepat dulu untuk bereaksi. Aku hanya pernah mengalami itu, dan alangkah baiknya jika aku tidak mengulanginya lagi. Tapi tolong jangan salah paham. Aku juga mengerti bahwa tidak semua perasaan orang lain perlu kita pahami. Kadang cukup tahu saja sudah cukup untuk mereka yang ingin didengarkan. Mmm entahlah, tapi ya gitu rasanya.

Dan di titik ini, aku mulai bertanya: "Is this what healing looks like? Or is this just another version of surviving?" Karena jujur saja, kalau ini healing, kenapa aku merasa semakin jauh dari apa yang sebenarnya aku rasakan?

Aku selalu merasa apa pun yang kita rasakan tidak akan bisa terasa sama untuk waktu yang lama. Termasuk healing itu sendiri. Aku tidak bisa mengatakan diriku sudah sembuh dari apa yang pernah melukaiku. Daripada itu, aku akan mengatakan aku cukup bisa mengontrol bagaimana aku akan merasa saat aku dihadapkan pada luka yang mirip dengan yang pernah aku rasakan sebelumnya. Dan mungkin, tanpa aku sadari, aku tidak sedang healing. Aku hanya belajar bagaimana cara menyembunyikannya dengan lebih rapi.