October 28, 2026
Ketika Luka Disembuhkan oleh Warna yang Terlarang
Bagi sebagian orang, luka batin bisa disembuhkan dengan berbagai cara, sekalipun hal itu dilarang secara etika dan agama.

By Akhsa Akhsara
4 min read
HAL MENARIK DARI SESUATU YANG TAK DIDUGA
Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar istilah film bokep atau film porno? Tentu sebagian besar dari Anda memandang film ini adalah film yang cuma sebatas menjual sensualitas semata sebagai trigger nafsu saat melakukan onani atau hubungan intim.
Tapi, apa jadinya jika kita membedah dan melakukan dekonstruksi dari tayangan yang sangat tabu ini dari sudut pandang yang berbeda, termasuk psikologi? Walaupun hal tersebut terdengar sangat bertolak belakang, tapi ada insight baru yang bisa Anda dapatkan dari film tersebut.
Tempo hari, saya secara iseng melakukan dekonstruksi pada salah satu film porno Jepang yang diperankan oleh Yuki Takeuchi dan Akari Niimura dari sudut pandang yang jarang dilihat oleh penikmat film porno. Terlebih saya menontonnya dengan takarir agar dapat memahami konteks dari setiap adegan dari film tersebut (sekalipun hasil terjemahannya agak miss).
Disclaimer : section setelah ini mengandung spoiler dari filmnya.
Seperti halnya film JAV, terutama yang ada dramanya, film ini punya jalan cerita yang sebenarnya menarik untuk di-dekonstruksi. Ia bercerita tentang Yuki, seorang penata rambut yang lagi patah hati setelah dikhianati pacarnya yang udah menjalin hubungan selama 7 tahun, dan mengunjungi salon kecantikan (atau panti pijat) sebagai bentuk self reward atau emotional healing untuk dirinya sendiri.
Di salon tersebut, ia ketemu sama Akari, seorang terapis yang pendiam, yang memberikan Yuki pijatan atau sentuhan yang hangat dan lembut, seolah memberikan pelukan bagi jiwa Yuki yang rapuh. Dan berhubung genre filmnya adalah film porno lesbian, sentuhan itulah yang membuat ia menyepakati kontrak untuk berpacaran (sebagai seorang lesbian) selama setahun, sampai setidaknya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Lantas, kenapa jalan ceritanya menarik untuk di-dekonstruksi ke topik-topik umum seperti psikologi dan penyembuhan trauma emosional?
Seperti yang dikatakan di awal, film ini bercerita soal seorang perempuan yang patah hati karena dikhianati orang yang ia sayangi. Terlebih, ia sudah 7 tahun berpacaran dengan orang tersebut. Tentu, rasanya akan sangat menyakitkan tatkala hubungan yang sudah dibentuk sejak lama runtuh karena pengkhianatan.
Lalu, ia memilih untuk memberikan self reward agar jiwanya yang rapuh itu bisa pelan-pelan pulih, sampai ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Lantas mengapa self reward yang dipilih Yuki bisa mengantarnya ke titik dimana ia bisa berdamai dengan diri sendiri? Ternyata, saat ia dipijat oleh Akari, ia merasakan hal yang sudah lama tidak ia rasakan sebelumnya β yang bahkan membuat saya sampai berdiskusi dengan chatbot AI soal apa yang sebenarnya terjadi secara psikologis.
Jadi, di meja pijat tersebut, Yuki (yang seolah seperti orang yang sudah mati rasa) merasakan sentuhan-sentuhan yang sudah lama tidak ia rasakan pasca berpisah dengan mantannya itu β yang secara psikologi, Yuki datang ke salon tersebut dalam kondisi skin hunger atau lapar akan sentuhan yang cukup parah akibat ia sudah mati rasa secara emosional karena rasa patah hatinya itu.
Pijatan Akari tersebut seolah membuka 'kotak pandora' di dalam tubuh Yuki, karena sentuhan yang ia berikan padanya memicu memori somatis β mengingatkan tubuhnya pada sensasi keintiman yang pernah ia rasakan bersama mantannya dulu. Dan ketika Yuki merasa orgasme, secara psikologi tubuhnya mengalami pelepasan emosional dan menangisi fakta bahwa yang ia merindukan sentuhan dari seseorang yang menyayanginya β which means hal yang sama yang membuat dirinya patah hati karena orang yang pernah menyakitinya.
Setelah momen yang dimana Yuki merasakan tubuhnya mengalami pelepasan emosional, ia mengundang Akari ke salon tempat ia bekerja, seolah mengajaknya ke backstage atau belakang panggung di balik kerentanannya.
Di situ, ia bercerita, berterima kasih dan bahkan merapikan rambut Akari, orang yang membuatnya pulih secara perlahan, meskipun Akari sampai harus melakukan hal yang bahkan sangat terlarang secara moral dan agama (terlebih jika hal itu dilakukan di Indonesia).
Tapi, di penghujung momen di salon itu, di saat Yuki kembali melakukan "hubungan lebih lanjut" dengan Akari, ia berkata "Sebenarnya lebih baik kita tidak terlalu terlibat lebih jauh. Kamu akan menyesalinya," sembari mengingatkan Yuki bahwa ia itu masih seorang perempuan straight yang pada akhirnya akan menginginkan lagi sesosok pria dalam hidupnya.
Dari hasil diskusi saya dengan AI di babak kedua cerita itu, apa yang sebenarnya dilakukan Akari itu bertujuan untuk melindungi dirinya agar Yuki tidak terlalu bergantung padanya β sekalipun Yuki berkata "I'll be fine with just the ring" sampai rela mencium Akari kembali. Tapi, apa boleh dikata, Akari pun berkata "I really can't do thisβ¦", dan meninggalkan Yuki seorang diri dalam keadaan tanpa mengenakan busana.
Tapi, biarpun demikian, mereka berdua akhirnya berkompromi di tengah riuh hujan di atas atap gedung. Mereka memilih untuk berpacaran (sebagai seorang lesbian) selama setahun β yang secara simbolis dan filosofis, adegan tersebut dimaknai sebagai katarsis atas keraguan mereka untuk menyerah pada kebutuhan paling dasar manusia, untuk tidak merasa kesepian.
Lalu, mengapa harus setahun? Sederhananya, satu tahun adalah waktu yang cukup bagi Yuki untuk pelan-pelan pulih dari patah hatinya sampai ia bisa berdamai dengan diri sendiri, dan bagi Akari untuk memberi batasan pada Yuki agar ia tidak bergantung padanya.
Kompromi itu lantas membuahkan hasil : Yuki akhirnya bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Meskipun pada akhirnya, karena rasa suka saling suka, mereka malah menambah durasi pacaran itu, entah sampai Yuki bisa berjodoh kembali dengan laki-laki secara straight lagi.
Dari film tersebut, saya bisa belajar bahwa manusia itu selalunya merupakan sebuah mahkluk sosial. Mereka butuh pengakuan secara sosial, merasa disayangi dan bahkan dapat diterima agar ia tidak merasa kesepian.
Tapi sayangnya, semua hal dalam film dewasa ini tidak bisa serta merta dipraktekkan di dunia nyata. Apalagi jika Anda adalah orang yang taat dengan ajaran agama maupun orang yang tinggal di lingkungan yang konservatif seperti di Indonesia.
Lesbian dan hal-hal LGBTQIA+ lainnya memang jadi suatu hal yang sangat tabu di Indonesia. Mengingat Indonesia sendiri merupakan negara yang menjunjung tinggi aspek-aspek keagamaan seperti pada sila pertama di Pancasila.
Hal tersebut membuat orang yang mungkin mengalami hal serupa seperti Yuki akan menghadapi persimpangan yang dilematis : mencari solusi yang aman dari aspek keagamaan dan norma sosial di Indonesia (semisal mencari pengalihan yang saleh, mendekatkan diri pada komunitas yang positif dan lain sebagainya atau bahkan memendam masalah itu rapat-rapat) atau melawan ajaran dan norma yang ada (semisal menjalin hubungan yang unconventional, mencari validasi dan pelarian lewat komunitas digital bawah tanah (underground community) atau bahkan hidup melajang selamanya).
Pada akhirnya, luka tersebut sebenarnya dapat disembuhkan tergantung pada pilihan dan keyakinan masing-masing atas segala keputusan yang ia pilih. Seperti halnya pada lirik lagu Tempuh dari L'Alphalpha.
Semua orang punya jarak tempuh Yang jelas berbeda 'tuk gapai mimpinya Semua orang punya hal yang harus Mereka lawan dalam batinnya
Kalaupun sudah terlanjur berada pada warna yang terlarang, Tuhan pasti akan mengampuni dosa-dosa kita, sekalipun kita sudah melampaui batas. Selama kita tidak menyekutukannya dengan melakukan hal-hal syirik.