Dari banyak rekam sejarah jatuh bangunnya manusia, aku sedikit menangkap polanya bahwa manusia itu makhluk yang kompleks, mudah berubah, tak terduga, dan karenanya ia menjadi tidak sempurna.
Dulu, aku sempat berdiskusi dengan teman kelasku mengenai satu pertanyaan sederhana: siapakah manusia itu? Pertanyaan itu muncul karena dalam pengamatan sehari-hari, kami kerap melihat manusia yang tindakannya justru terasa tidak manusiawi. Barangkali, kami pun termasuk di antaranya.
Setelah diskusi panjang, kami sampai pada jawaban sementara—jawaban khas anak SMA—bahwa manusia adalah siapa pun yang memiliki rasa kemanusiaan.
Rasa kemanusiaan itu beragam bentuknya. Namun yang paling menonjol adalah empati: sebuah kemampuan memosisikan diri di tempat orang lain. Artinya, berempati adalah turut ikut menderita, bahagia, khawatir, malu, ataupun marahnya orang lain. Itulah rasa kemanusiaan.
Lalu muncul pertanyaan lain: Apakah ini semacam kutukan? Manusia dituntut menjaga rasa kemanusiaannya agar tetap berada pada batasnya sebagai manusia. Namun sekuat apapun manusia mempertahankan kemanusiaannya, ia justru sering tersiksa oleh rasa kemanusiaannya sendiri. Semakin peka, semakin rentan. Aneh, bukan?
Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai animal rational—makhluk yang berpikir dan berbicara. Artinya, ciri khas manusia terletak pada akalnya: kemampuan bernalar, memahami, dan mengungkapkan sesuatu melalui bahasa.
Dengan akalnya, manusia dikaruniai fitrah untuk bisa menentukan kehendak, memahami rasa, dan mengenali batas-batas. Berbeda dengan binatang yang cenderung terikat pada naluri dan kebiasaan, manusia mampu melampaui dorongan alaminya.
Manusia dengan kesadarannya dapat beradaptasi dengan situasi atau keadaan, seperti mengabaikan hal yang amat ia butuhkan atau mengingkari apa yang sebetulnya ia inginkan. Dengan akalnya pula, manusia mempunyai fleksibilitas sudut pandang dalam memaknai setiap hal sesuai kapasitas pengalaman dan keilmuannya. Ada yang menganggap kegagalan semua rencana sebagai musibah, ada pula yang memaknai keterlambatan sebagai keselamatan.
Yang paling mudah berubah dari manusia adalah tubuhnya, disusul perasaan dan cara berpikirnya. Dalam seluruh proses perubahan itu, jiwa tetap menetap—ia adalah orang yang sama kemarin, hari ini, dan esok (Abdul Latif Samian, 2001).
Ada kalanya manusia terjebak dalam dualitas nilai moral: baik dan buruk. Manusia dituntut mengupayakan kebaikan bukan hanya dari niat dan tindakan, tetapi juga dari akibatnya. Kebaikan, pada dasarnya, bersumber dari Yang Maha Baik, sebab segala yang ada pasti berakar pada Yang Mengadakannya. Sesuatu disebut baik ketika membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain; sebaliknya, sesuatu dianggap buruk ketika menimbulkan kerugian atau kerusakan.
Namun, dalam tingkat kesadaran tertentu, manusia tidak boleh berhenti dan terjebak di antara dua sisi itu. Baik dan buruk, dalam banyak hal, lahir dari kesepakatan sosial, ia semacam bahasa yang kita gunakan untuk memahami hidup, bukan hidup itu sendiri.
Kesadaran ini menuntut kemampuan mengenali dua sisi sekaligus. Filsuf perang Tiongkok, Sun Tzu, dalam The Art of War, menulis, "If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles." Kalimat ini tidak semata berbicara tentang peperangan, melainkan tentang kewaspadaan: mengenali apa yang kita anggap benar, sekaligus memahami apa yang kita anggap salah.
Karena itu, penting untuk mengenali baik dan buruk agar tidak terikat dan dikuasai olehnya. Sebab, apa yang kita sebut baik, dalam sudut pandang lain bisa saja tampak buruk; dan apa yang tampak buruk, mungkin menyimpan kebaikan. Seperti ketika seseorang merasa lapar, namun rasa laparnya justru menjadi rezeki bagi para pedagang.
Dalam laku hidup orang Jawa, dikenal sikap ojo gumunan lan ojo kagetan: memandang hidup dengan tenang dan apa adanya. Dualitas apa pun akan selalu hadir. Yang terpenting adalah bukan meniadakannya, melainkan mampu memberi makna atas apa yang terjadi.
Di balik kebaikan bisa jadi ada keburukan, di balik keburukan mungkin ada kebaikan yang tidak kita sadari. Atau ternyata kebaikan bisa jadi bekal untuk berbuat buruk, keburukan secara tak terduga mendorong kebaikan tumbuh.
Seperti titik hitam kecil di atas kertas putih, dan titik putih kecil di atas kertas hitam: selalu ada celah dalam kebaikan yang tampak sempurna, dan selalu ada ruang terang dalam keburukan yang tampak mutlak—agar tak ada manusia yang sepenuhnya merasa paling baik, dan tak ada pula yang sepenuhnya merasa paling buruk.
Dengan demikian, menjadi manusia adalah sebuah proses menemukan kesadaran demi kesadaran yang dilandasi dengan empati dan akal budi. Terlepas dari semua kerentanan, perubahan, dan kerumitannya, manusia tetap sempurna sebab ketidaksempurnaannya. Maka sesungguhnya, ketidaksempurnaan manusia adalah manusiawi.
(2025–2026)
Source:
Samian, A. L. (2001). Satu ulasan tentang definisi manusia. Jurnal Akidah & Pemikiran Islam (AFKAR), 2(1), 1–20.