June 24, 2026
MEREKA YANG TAK PERNAH MENGELUH
Pesawat ke Jakarta masih beberapa jam lagi. Di tengah jeda menunggu itu, sebuah pesan WhatsApp dari beberapa hari lalu muncul kembali di…

By Dany Mustafa
2 min read
Pesawat ke Jakarta masih beberapa jam lagi. Di tengah jeda menunggu itu, sebuah pesan WhatsApp dari beberapa hari lalu muncul kembali di kepalaku. Temanku berkomentar di statusku, singkat saja: "jangan lupa share pengalamanmu di Medium, biar bisa ikut belajar." Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk mengingatkanku. Sudah berapa lama aku tidak menulis? Sudah berapa lama aku berhenti merefleksikan apa yang aku jalani?
Pagi ini, aku memutuskan berhenti menunda. Aku ingin kembali mengingat satu minggu di Langkat dan Aceh Tamiang, bukan sekadar laporan kegiatan, tapi dua momen yang, kalau aku jujur, membuatku malu pada diriku sendiri.
Momen pertama terjadi sore itu, sekitar pukul lima, setelah aku selesai mewawancarai Mas Zulham, seorang difabel, bersama ibunya. Kami berbincang hampir satu jam. Begitu obrolan selesai, aku melakukan hal yang biasa aku lakukan: merapikan catatan, mengecek baterai hp, mungkin sambil memikirkan jadwal berikutnya. Mas Zulham melakukan hal yang sangat berbeda. Ia langsung berdiri, mandi, lalu bergegas ke masjid, menunggu azan magrib, bukan menunggu waktu mendesaknya.
Aku terdiam memperhatikan itu. Di saat aku, dan mungkin banyak orang lain, masih menyusun alasan untuk menunda salat lima menit lagi, sepuluh menit lagi, Mas Zulham justru bergerak lebih dulu daripada azan itu sendiri, seolah itu adalah satu-satunya hal yang ia tunggu sepanjang hari. Tidak ada yang ia ucapkan untuk menggurui aku. Ia hanya berjalan ke masjid. Tapi langkah itu lebih keras dari ceramah apa pun yang pernah aku dengar tentang salat.
Pulang dari sana, aku terus bertanya pada diri sendiri: apa misi utama manusia di dunia? Salah satunya adalah beribadah. Apa ibadah utama itu? Salat. Selama ini, ambisi dan imajinasi tentang kesuksesan, serta kesibukan mengejarnya, sering membuatku abai pada hal paling dasar itu. Bukan berarti memiliki misi khusus — ingin jadi ilmuwan, pejabat publik, pengusaha, atau pegiat sosial — itu salah. Aku sendiri punya misi semacam itu, dan terus aku perjuangkan. Tapi Mas Zulham, yang oleh banyak orang mungkin dianggap kurang, justru mengajariku bahwa selesai dengan hal mendasar itu adalah syarat sebelum sah mengejar hal-hal besar lainnya. Ironisnya, justru dia yang dianggap berkekurangan, yang paling tertib menjalankannya.
Momen kedua terjadi pada wawancara lain, dengan saudara kita yang kurang mampu secara ekonomi. Sebelum berangkat, aku sudah membawa kerangka kerja dari buku: mulai dengan memetakan siapa kelompok rentan, lalu cari potensi apa yang bisa diberdayakan. Kerangka itu rapi di kepala. Tapi begitu duduk berhadapan langsung, kerangka itu terasa terlalu rapi untuk kenyataan yang aku temui.
Ada satu momen yang sampai sekarang masih terngiang. Seorang ibu, sambil tersenyum, bercerita bahwa dengan uang dua ribu rupiah, ia bisa membeli tahu atau tempe, menggorengnya, dan itu sudah cukup menjadi lauk untuk satu hari penuh keluarganya. Ia mengucapkan alhamdulillah untuk itu. Bukan basa-basi, tapi syukur yang benar-benar penuh, seolah dua ribu rupiah itu adalah kecukupan, bukan kekurangan. Aku duduk di depannya sambil diam-diam menghitung, betapa seringnya aku menghabiskan uang sepuluh kali lebih besar dari itu hanya untuk hal yang aku lupakan keesokan harinya.
Dari satu kalimat itu, aku tersadar pada paradoks yang lebih besar, betapa timpangnya negeri ini. Ada yang dengan mudah menghabiskan dua puluh juta rupiah dalam semalam, dan ada yang bersyukur penuh atas dua ribu rupiah dalam sehari. Ada yang tenang menyantap apa saja setiap hari, dan ada yang hanya berharap bisa makan apa saja. Dan yang paling menohok, yang serba kekurangan itu justru yang paling menjaga diri untuk tetap bekerja secara halal, sementara tidak sedikit yang sudah berkecukupan, namun tergoda menghalalkan segala cara demi terus menambah kekayaannya.
Mas Zulham dan ibu itu sebenarnya mengajariku hal yang sama, hanya dari dua arah berbeda. Yang satu menyambut kewajibannya pada Tuhan tanpa ditunda. Yang satu lagi menyambut rezekinya yang kecil tanpa mengeluh, dan menjaga cara mendapatkannya tetap bersih. Keduanya tidak punya banyak hal yang oleh dunia disebut berhasil. Tapi keduanya selesai dengan hal-hal mendasar yang selama ini sering aku tunda, atau lupakan, karena terlalu sibuk mengejar misi khususku sendiri.
Pesawatku akan boarding sebentar lagi. Dan aku masih belum punya jawaban, mengapa negeri ini bisa begitu paradoks, mengapa kita yang katanya sama-sama warga negara ini bisa begitu jauh dari sejahtera bersama. Tapi setidaknya aku tahu satu hal yang bisa aku bawa pulang, lebih dulu dari jawaban-jawaban besar itu. Sebelum aku kembali sibuk mengejar misi khususku di Jakarta, semoga aku bisa lebih dulu selesai dengan yang utama, seperti Mas Zulham yang tidak menunggu azan untuk bergerak, dan seperti ibu itu, yang bersyukur sebelum sempat mengeluh.
Deli Serdang, Juni 2026
Refleksi Diri #4