Akhir-akhir ini aku mulai sadar, mungkin yang kurasakan bukan sekadar lelah biasa. Awalnya aku berpikir semua ini hanya fase sementara dan akan hilang setelah aku beristirahat, tertawa lebih banyak, atau mencoba lebih kuat lagi. Namun, seiring waktu berjalan ternyata semuanya tetap tinggal.

Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan berubah dan semakin lama semakin sulit untuk dijelaskan. Seolah-olah ada bagian yang hilang sedikit demi sedikit tanpa aku sadari.

Kepalaku begitu berisik.

Pikiran datang tanpa permisi, memenuhi ruang di dalam diri dengan ketakutan, kecemasan, dan overthinking yang berputar terus-menerus seperti hujan deras yang tak kunjung reda.

Terkadang air mataku jatuh begitu saja, tanpa benar-benar tahu alasan pastinya. Rasanya seperti ada beban yang menekan dada, tetapi aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada orang lain.

Katanya, pikiranku terlalu penuh karena aku terlalu banyak berpikir. Padahal jika semudah itu untuk berhenti memikirkan semuanya, mungkin aku sudah melakukannya sejak lama.

Ketika malam menjadi waktu paling sunyi bagi banyak orang, justru malam adalah bagian paling bising dalam hidupku.

Ketika semua orang mulai terlelap, pikiranku justru terjaga lebih lama. Aku menatap langit-langit kamar sambil mendengarkan isi kepalaku sendiri yang tak berhenti berbicara. Tentang ketakutan. Tentang kegagalan. Tentang penyesalan. Tentang masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang terasa menakutkan.

Semua datang bersamaan.

Hari-hari yang Terasa Semakin Berat.

Aku mulai sulit fokus. Hal-hal kecil terasa melelahkan. Aku menunda banyak hal, kehilangan semangat, lalu menghabiskan waktu lebih banyak untuk tidur atau hanya diam menatap kosong.

Hal-hal yang dulu mampu membuatku bahagia kini terasa hambar. Aku tertawa, tetapi tidak benar-benar merasa senang.

Aku juga mulai menarik diri dari orang-orang. Bukan karena membenci mereka, tetapi karena aku terlalu lelah menghadapi diriku sendiri.

Aku lelah.

Lelah berpura-pura utuh di tengah retakan yang tak sempat diperbaiki. Lelah menghadapi harapan yang selalu datang hanya untuk hancur lagi.

Bahkan kata-kata motivasi yang dulu sempat menenangkan kini terasa kosong. Aku seperti kehilangan rasa percaya bahwa semuanya akan membaik.

Entah sejak kapan hidupku dipenuhi nuansa sedih yang tidak pernah benar-benar pergi.

Sering kali aku memandang diriku sendiri dengan penuh kecewa. Hampir semua hal terasa seperti kesalahanku, bahkan ketika logikanya tidak sepenuhnya begitu. Dan yang paling menyakitkan, aku merasa menjadi beban bagi semuanya.

Aku takut.

Bukan hanya takut pada kegagalan, tapi pada kemungkinan bahwa usahaku tak pernah cukup. Takut mengecewakan, seolah nilai diriku ditentukan oleh harapan orang lain. Takut tidak menjadi apa-apa, seakan hidup tanpa pencapaian adalah kegagalan. Bahkan takut pada hal-hal yang belum tentu terjadi.

Orang-orang sering berkata, "Coba saja dulu," atau "Lawan rasa takutmu."

Padahal mereka tidak melihat bahwa aku sudah berkali-kali mencoba. Hanya saja, setiap kali ingin melangkah lebih jauh, ketakutan itu selalu menarikku kembali. Seolah ada sesuatu di dalam diriku yang terus membisikkan bahwa aku tidak akan mampu.

Di dunia yang menuntut keberanian ini, aku justru banyak takutnya.

Aku kehilangan arah.

Seperti seseorang yang sedang berlayar di laut luas tanpa tahu harus menuju ke mana. Harapan-harapan yang dulu kususun perlahan runtuh satu per satu, meninggalkan ruang kosong yang tak lagi bisa kututupi dengan rencana-rencana lama.

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri:

"Sebenarnya aku sedang berjalan kemana?"

Terkadang aku menatap langit malam, membawa pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab.

Tentang hidup. Tentang diriku sendiri. Tentang mengapa semuanya terasa begitu berat.

Aku memilih diam, meyakinkan diri bahwa tak ada yang benar-benar akan mengerti. Semua orang juga sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing. Dan pada akhirnya, aku merasa kita hanya benar-benar memiliki diri sendiri.

Namun ironisnya, aku tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diriku sendiri.

Penyesalan datang silih berganti.

Ada saat di mana aku menangis bukan karena dunia terlalu jahat, melainkan karena aku merasa kasihan pada diriku sendiri. Rasanya menyakitkan ketika ingin sembuh, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Sementara waktu terus berjalan.

Orang-orang melangkah maju ke arah masing-masing. Sementara aku masih berdiri di tempat yang sama, berusaha bertahan dari pikiranku sendiri.

Sampai pada titik di mana hidup tak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dinikmati.

Hidup terasa hanya sekadar hidup.