October 1, 2026
Di Mata Mereka, Aku Baik Baik Saja
Tentang luka yang tidak terlihat, hidup yang tetap berjalan, dan manusia yang belajar membawa keduanya sekaligus.

By monorail
1 min read
Dan aku pernah berkata, "aku tidak akan pernah sanggup."
Aku mengucapkannya dengan keyakinan seorang manusia yang percaya bahwa ada luka-luka tertentu yang cukup dalam untuk mengakhiri segalanya. Bahwa ada kehilangan yang akan membuat seseorang berhenti menjadi dirinya sendiri. Bahwa ada kesedihan yang terlalu berat untuk dipikul oleh sepasang bahu yang sudah lelah sejak awal.
Namun ternyata aku masih di sini.
Masih berdiri meski lututku berkali-kali ingin menyerah. Masih bergerak meski setiap langkah terasa seperti menyeret tubuh yang telah lama kehabisan tenaga. Masih bernapas meski ada hari-hari ketika udara terasa lebih menyerupai beban daripada anugerah. Masih berjalan. Masih hidup.
Aneh rasanya.
Sebab jika ditanya bagaimana rasanya, aku akan berkata bahwa aku seperti seseorang yang baru saja tertusuk, lalu dibiarkan berjalan sambil kehilangan darah sedikit demi sedikit. Tidak cukup deras untuk membunuh, tetapi cukup lama untuk melemahkan. Tidak cukup terlihat untuk mengundang pertolongan, tetapi cukup nyata untuk menyiksa.
Lukanya ada. Perihnya ada. Darahnya mengalir.
Hanya saja tak pernah tampak di permukaan.
Maka orang-orang melihatku berbicara seperti biasa. Tertawa pada waktu yang tepat. Menjawab pertanyaan seperlunya. Menjalani hari demi hari sebagaimana mestinya. Mereka melihat tubuh yang masih berfungsi dan mengira jiwanya pun baik-baik saja.
Dan mungkin aku tidak bisa menyalahkan mereka.
Bagaimana mungkin seseorang percaya pada luka yang tidak bisa dilihat? Bagaimana mungkin mereka memahami bahwa ada perang yang berlangsung setiap hari di tempat yang tak memiliki bentuk, warna, ataupun suara?
Jadi aku terus berjalan.
Bukan karena aku telah sembuh dan telah menang. Melainkan karena hidup, dengan segala kejamnya, tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun untuk pulih.
Dan pada akhirnya, itulah hal yang paling mengejutkanku.
Bukan bahwa aku selamat.
Melainkan bahwa manusia ternyata mampu membawa luka sedalam itu ke mana-mana, menyimpannya di balik senyum, percakapan, dan rutinitas, lalu tetap melanjutkan hidup seolah tidak ada apa-apa.
Karena di dalam diriku, semuanya masih berdarah.
Tetapi di mata mereka, aku baik-baik saja.