"Hello, princess," sapa Kenneth pada Julio yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Hai," balas Julio singkat.
"So… udah siap quality time sama aku?" tanya Kenneth sambil merangkul Julio dan mengajaknya berjalan keluar dari rumah.
"Udah kok."
"Yes, hopefully that SATAN Mikhael won't bother us," ujar Kenneth dengan nada jahil.
"Kenneth, watch your mouth."
"Ahaha, sorry."
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Kenneth memasangkan sabuk pengaman untuk Julio, mengatur kursi penumpang agar ia nyaman, lalu menyalakan mesin mobil. Seperti kebiasaannya beberapa bulan terakhir, tangan Kenneth menggenggam tangan Julio.
"Kamu kenapa sih, suka banget megang tangan aku kalau di mobil?" tanya Julio penasaran.
"Hm, kenapa ya? I feel warm aja sih," jawab Kenneth.
"Kenapa, Julio? Kamu nggak nyaman?" lanjutnya.
"Nyaman kok. Aku cuma nanya aja, Ken."
"Alright."
20 menit kemudian, mereka tiba di tujuan—mall. Kenneth dan Julio turun dari mobil dan masuk ke dalam.
Mereka menghabiskan waktu dengan bermain di Time Zone, berfoto di photo booth, mencoba berbagai makanan dan minuman, membeli sepatu, serta menemani Kenneth melihat-lihat barang thrift.
4 jam berlalu. Kini keduanya bersantai di taman kecil dekat area parkir.
Udara siang itu tidak terlalu panas, juga tidak mendung. Kenneth dan Julio duduk di kursi gazebo dekat pohon beringin, menyantap es krim sambil mengobrol ringan.
"Hah… capek banget," keluh Kenneth sambil meregangkan tubuh.
Julio hanya tertawa. Es krim di tangannya sudah habis.
Mereka terdiam sejenak, memperhatikan taman yang ramai oleh anak-anak bermain.
Kenneth mengalihkan pandangannya dari anak-anak ke Julio yang sedang tersenyum manis.
"Julio," panggil Kenneth pelan.
Julio meliriknya. "Apa?"
"Why are you so pretty, Julio? Kalau deket-deket kamu bawaannya salting terus." Kenneth mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"I want kiss you so bad," ucap Kenneth dengan wajah penuh keinginan.
"So, here," jawab Julio, memberi lampu hijau.
"Not now, Julio. Jangan uji aku."
"Huh, why?"
"I will kiss you when you are mine," ujar Kenneth sambil memundurkan wajahnya.
"Until I'll make you mine," ulangnya.
"Oh, iya kah? Kamu penganut kiss after relationship?" tanya Julio terkekeh.
"Kenapa? Kuno banget ya aku?"
"Enggak kok. Lucu, sweet deh."
Kenneth tertawa. "Ya buat apa aku cium kamu kalau we don't even have a relationship? Rasanya aneh, menurut aku."
Julio mengangkat tangannya, lalu mengusap kepala Kenneth dengan lembut. "Siapa ya nanti orang yang beruntung punya pacar kayak kamu?"
"Kamu," jawab Kenneth singkat.
"Eh, never mind. Pulang yuk? Udah mau jam tiga. Sebenernya aku masih pengen main, tapi nggak jadi. Takut salting berat," lanjutnya.
"Apasih… aneh kamu."
"Hehe…" Kenneth hanya terkekeh.