kita berdua;
saling bacakan doa kematian
dengan lidah penuh kata-kata pengampunan
yang tak benar-benar ingin mengampuni
kutatap tubuhmu yang berkabut
sebelum diseret senyap ke altar malam
kupetik dendam dari jemarimu
kusimpan dalam dada,
sebagai pusaka
malam ini,
kunikahi ajalmu dalam diam
agar setiap luka terabadikan
pada gerbang sejarah yang tak disahkan
kau jadi bab tak bersuara
pada kitab yang diabaikan
janji kita;
tidak saling selamat
tidak saling pulang
aku tidak rebah seperti kau
aku memilih hidup yang terkutuk
menyulam segala getir
di balik jendela aras nurani yang tak lagi terang
mari kita lupakan segalanya
di dinding kota yang berlumur puisi
yang takkan dibaca siapa-siapa
tumpahkan segala selamat tinggal;
biar menjelma hutan doa yang liar
di masa depan yang tidak menyebut nama kita
kita bukan obituari,
kita adalah kabar
yang nyaris tak sempat disampaikan
tercekat di tenggorokan zaman
dilupakan sejarah