Untuk Ayah dan Ibu di surga, dan Ummi dan Abi yang membesarkanku di bumi…
Putri terlahir bukan dalam pelukan, tapi dalam kehilangan. Belum sempat memanggil "Ayah"… belum sempat mengenali wajah "Ibu"… Putri sudah diizinkan Tuhan untuk hidup dalam sunyi yang bahkan belum sempat tertangkap oleh ingatanku, Tapi sampai hari ini kesunyian itu masih terus bisa kurasakan.
Maaf… Putri tak tahu seperti apa suara kalian, Maaf jika wajah kalian pun hanya hidup dalam selebaran foto peninggalan kalian—bukan memori. Tapi putri percaya, cinta kalian tetap mengalir dari tempat paling tenang nan jauh disana, dalam bentuk rindu yang tak pernah selesai. yang sabar ya Ayah, Ibu Putri sedang mengumpulkan bekal untuk bisa bersatu dan berkumpul dengan kalian disana.
Dan Putri juga percaya satu hal—Allah tidak akan pernah meninggalkanku sendirian.
Di bumi ini… Tuhan mengirim dua hati yang tak pernah melahirkan aku dari tubuhnya, tapi mencintaiku seolah mereka pernah menunggu kehadiranku seumur hidup.
Ummi, Abi… Terima kasih karena bersedia memilihku. Terima kasih karena tetap memelukku ketika dunia bahkan belum tahu aku ada. Terima kasih karena Ummi dan Abi yang sebenarnya tak harus menerimaku, Tapi kalian memilih tetap melakukannya—dengan sepenuh hati.
Ummi dan Abi tidak hanya sekadar menjadi rumah untukku, Kalian adalah cahaya yang menuntunku pulang—berkali-kali, Ketika aku tersesat dalam gelap yang bahkan aku sendiri tak tahu namanya.
Ummi dan Abi tidak hanya merawat tubuh kecil yang rapuh ini, Tapi juga memeluk jiwaku yang datang dalam sunyi Menggendongku saat dunia terasa asing, Membimbing langkah kaki kecilku yang gemetaran menapak bumi pertama kali.
Dan saat putri mulai bisa mengenali suara, Kata pertama yang keluar dari lisanku bukan "Ayah" atau "ibu" yang tak pernah kulihat wujudnya, Tapi "Ummi" dan "Abi"—nama kalian yang sejak awal kutanam dalam ingatan dan hati.
Namun, izinkan Putri jujur sama Ummi dan Abi… Hingga hari ini, sepi masih kerap mengetuk malamku. Ada ruang kosong di dalam hati yang tak bisa kutambal, Entah karena kehilangan yang terlalu dini, atau luka yang tak pernah diberi waktu untuk tumbuh menjadi dewasa.
Maafkan putri… Maaf karena belum bisa menjadi anak yang baik. Maaf karena sering marah tanpa alasan, Maaf karena sering merasa hampa, Maaf karrena putri begitu sulit untuk disayangi dan dicintai, Maaf karna sering gagal menjadi pribadi yang kuat seperti yang kalian harapkan.
Maaf… Maaf Karena belum bisa jadi anak yang soleha. Maaf karena Belum bisa menyembuhkan luka kalian dengan kebanggaan. Maaf karena Belum bisa sempurna. Putri tahu ummi dan abi Lelah ya memiliki putri? Tapi terima kasih karena ummi dan abi tetap memilih untuk tinggal. Terima kasih karena dititik paling mengecewakan dan durhakanya seorang anak, Ummi dan Abi tidak pernah pergi dari putri.
Terima kasih ya mi.. bi.. Terima kasih karena mencintai putri meski putri tidak tahu bagaimana caranya membalas. Terima kasih karena tetap terus memeluk putri bahkan saat putri sendiri sibuk menolak dunia. Terima kasih untuk tetap menjadi langit ketika yang bisa kulakukan hanya menjadi hujan dan badai.
Jika suatu hari nanti putri tumbuh menjadi seseorang yang baik, Ummi dan Abi harus ingat, itu bukan karena putri kuat… Tapi karena tangan ummi dan abi yang tak pernah berhenti menggenggam, Saat putri nyaris melepaskan segalanya.
Doakan putri ya mi.. bi.., agar putri bisa menjemput harapan kalian—di dunia maupun di akhirat. Agar suatu saat, putri bisa berdiri tegak… dan berkata: "Aku adalah anak dari cinta yang tidak pernah menyerah."