Tatkala ia tumbuh, semua orang menanti. Karena mereka tahu, bagaimana ia akan merekah indah. Gemerlap diantara dedaunan dan embun pagi. Merona tanpa bimbang dan resah.
Andaikata mawar itu adalah aku
Mungkinkah aku akan tetap merona? Mungkinkah aku akan merekah tanpa ragu?
Durinya yang cukup tajam memperingati. Ia bukan hanya simbol kecantikan. Namun, Kekuatan. Bagaimana kekuatan adalah kecantikan itu sendiri. Bertahan dari ancaman demi ancaman.
Andaikata mawar itu adalah aku
Apakah duri itu tetap akan menjadi kekuatan? Atau malah durinya akan menjadi racun bagi diriku sendiri?
Andaikata mawar itu adalah aku, maka diriku memang hanya berandai belaka. Karena mawar itu, sampai kapan pun bukanlah aku.
— Jieka