Ujung meliuk yang indah Hamparan surgawi yang cerah Tampak menawan Tampak memesona Garis horizon nan jauh di sana Berpadu dengan kilauan siluet ujung langit Dia yang berwana jingga ke merahan Merah darah, jingga, hingga kuning Lembut menyapa dari kejauahan Pancaran yang menghangatkan tiada dua Lama tak kurasa dan kuresapi dia Dia yang tiada duanya Kamu tahu aku sedang membicarakan siapa Dia lah matahari terbenam Sunset di kaki cakrawala aku sering menyebutnya Sahabat yang tak lekang oleh waktu Menyambut hangat di penghujung hari Pertanda waktu akan segera berganti Salam untukmu Salam untuk esok yang kembali lagi Salam untuk esok yang berganti hari Salam untukku lagi
Sebuah puisi yang didedikasikan untuk matahari terbenam, sunset adalah sapaan akrab untuknya. Begitu indah, begitu hangat ketika dia muncul. Untuk kesekian kalinya dia datang, tidak pernah terbesit kebosanan untuk menatapnya dengan seksama dengan betul-betul. Matahari terbenam itu salah satu momen yang sakral untuk aku abadikan. Bukan karena ada unsur magisnya, tapi momen itu adalah momen peringatan, mengingat hal-hal apa saja yang sudah kita lalui selama satu hari itu, dan mempersiapkan untuk menyongsong hal-hal di esok hari. Begitu lah tentang sunset atau matahari terbenam. Aku benar jatuh cinta hebat dengannya.
Teruntuk matahari terbenam hari ini, semoga kita masih bisa bertemu di esok hari dan esok-esok yang lain.