Mainmu terlalu jauh, jangan lupa pulang, ya?
Aku tergerak untuk menciptakan tulisan ini, setelah membaca beberapa halaman buku bertajuk "Jalan Pulang" karya Maria Hartiningsih, meresapi setiap catatan perjalanannya yang sarat akan makna.
Gamang, tak tahu arah tujuan. Ingin aku jauh dari ingar-bingar dunia.
"Apakah benar, semua yang telah menginjak kepala dua akan selalu mengalami hal ini?"
Dalam batinku bertanya.
Sebagian orang mungkin menganggap bahwa momen life after graduate adalah hal yang membingungkan — bingung karena kehidupan tidak lagi berjalan seperti biasanya. Tidak ada lagi goals terukur yang bisa kita capai. Semuanya, harus dimulai dari diri sendiri, berdasar kesadaran dari dalam diri.
Tak ada lagi yang memantau atau memberi arahan. Banyak diluar sana merasa kebingungan dalam menghadapi fase ini.
Lantas, bagaimana dengan aku?
Bagiku, kehidupan setelah wisuda justru menjadi satu kesempatan bagiku untuk kembali menata ulang hidup.
Memang, dulu hidupmu seberantakan itu?
Em, tidak juga.
Namun, sepertinya pikiran-pikiran yang menghantui, kekhawatiran, kecemasan, membuatku merasakan bahwa sepertinya ada yang "tidak beres" dalam diriku.
Namun, bak peribahasa nasi sudah menjadi bubur. Perasaan-perasaan tak mengenakkan itu aku tekan dan kubur dalam-dalam, mencoba untuk menyangkal tiap kali sanubari mengatakan,
"Berhenti, kamu ada di persimpangan yang salah".
Aku hidup diatas keraguanku sendiri. Dengan arah tujuan yang tak pasti.
Membuatku dengan mudahnya terbawa arus kehidupan, ibarat air yang menggenang pada lembar daun talas. Ya, aku bak manusia yang kehilangan pendirian. Semua hal, aku coba untuk jalani dan ikuti — meskipun pada kenyataannya itu tak selaras dengan tujuanku yang pasti.
Menceritakan tentang hal ini, membuatku teringat akan sebuah kutipan seorang penulis, kurang lebih begini,
"Kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan yang menggelimuni diri adalah sebab dari adanya perasaan tidak aman."
Dalam hal demikian, kepalsuan menjelma, dan mengelabui kita seolah itu adalah kebenaran.
Pernahkah kamu menjumpai penipu atau pencuri?
Orang-orang seperti ini biasanya terjadi pada individu dengan kondisi ekonomi rendah atau berada di bawah. Sehingga dari hal itu, mereka memiliki motif yang kuat untuk melakukan tindak pencurian.
Tindakan itu mungkin membuat mereka merasa aman, padahal jika dinilai dari sudut pandang hukum sudah pasti salah.
Tapi mau bagaimanapun juga, dibalik sebab "mengapa" mereka melakukannya adalah karena mereka sedang berada dalam kondisi cemas/khawatir kekurangan.
Hal tersebut membuatku merefleksikan bahwa, aku pernah berada dalam kondisi cemas yang disebabkan karena penolakan lingkungan sosial.
Sehingga dari hal ini, aku mengubah sikapku, aku berusaha untuk mengikuti apa saja — hanya supaya aku bisa diterima di lingkungan itu.
Padahal kenyataannya, semua yang aku lakukan ketika dalam kondisi cemas dan apa yang aku tuju kala itu, berbanding terbalik dengan nilai dan tujuan utamaku.
Aku merasa tidak dapat berkiprah secara optimal, karena apa yang aku lakukan tidak benar-benar sesuai dengan keinginanku.
"Kecemasan dan kekhawatiran berpotensi untuk mendorong tindak berbahaya atau merugikan, bagi diri sendiri maupun orang lain."
Pada akhirnya, aku menyadari. Perlahan mencoba untuk mengatakan pada diriku sendiri,
"Mulai sekarang, coba jujur deh ke diri sendiri..."
Aku mencoba menata ulang hidupku, sudah seperti komputer yang di-reset.
Aku mulai meninjau dan mempertanyakan sebenarnya apa sih tujuan hidupku? Apa yang aku cari? Apa yang ingin aku tekuni? Hidup seperti apa yang aku inginkan?
Sekilas membuatku teringat dengan kutipan Jalaludin Rumi. Intinya tuh begini:
"Ketika kamu mencoba untuk jujur sama diri sendiri, akan terbuka banyak jalan yang nantinya bakal tuntun kamu ke arah yang lebih jelas."
Sampai sini, aku gak bisa menahan air mataku buat gak jatuh...
Ternyata buat pulang ke diri sendiri itu, se-simple kamu mencoba untuk jujur ke diri kamu sendiri, dengan apa yang kamu rasakan, apa yang kamu inginkan.
Kamu mengakui kesalahan-kesalahanmu. Kamu memaafkan orang-orang disekitarmu, ketika mereka pernah buat salah ke kamu.
Konsepnya sepadan ketika kita mau berpulang ke hadapan Allah. Pasti maunya kita taubat dulu kan?
Mengakui kesalahan-kesalahan kita, kembali mendekat dan jujur sama Allah.
Sejak aku memutuskan untuk jujur sama diri sendiri, sama apa yang aku suka dan tidak suka.
Ajaibnya, perlahan Allah seperti menunjukkan jalannya ke aku, "ini loh jalannya, Ra" melalui perantara orang-orang yang aku temui secara tidak sengaja.
Pertemuan yang ditakdirkan, bukan hanya sekadar sapa kemudian lupa, namun ada makna yang tersisa, yang membuatku berpikir dan belajar banyak dari sana.
Merasa bahwa,
"Mungkin Allah lagi kasih jawaban dari kegelisahan aku selama ini, melalui perantara orang-orang ini."
Memang terkadang Allah mempertemukan kita dengan seseorang bukan tanpa alasan. Bisa jadi mereka memberi pengalaman atau pembelajaran.