Di antara heningnya jagat raya, ada satu orbit kecil yang masih setia mengelilingi poros cahayanya—Altair, bintang terang yang kini menjauh. Ia, sang orbit, bukan lagi pusat dari lintasan sang bintang. Tapi ia tetap berputar, diam-diam, perlahan, seakan takut menghentikan dirinya sendiri.

Orang-orang bilang waktu menyembuhkan. Tapi di alam semesta, waktu adalah relativitas yang menggantung. Sang orbit tahu itu. Sebab setiap kali ia menyapu ruang-ruang lamanya, bayangan Altair masih tergantung di antara debu kosmik dan jejak gravitasi yang belum pudar.

Di semesta yang sunyi, rindu tak mengenal garis waktu. Ia hidup di antara lintasan-lintasan tak kasatmata, di mana Altair pernah bersinar, dan tak pernah benar-benar hilang

Altair telah berpindah galaksi. Telah bersinar untuk sistem lain. Tapi orbit itu masih mengingat getar cahaya yang pernah singgah dalam dirinya. Pernah ada redam hangat dalam putaran mereka. Tabrakan lintas jiwa yang tak pernah dipetakan oleh ilmu mana pun.

Dan malam-malam panjang di antaranya, masih jadi saksi bisu bagi sang orbit yang tak henti berputar sambil bertanya: "Apakah kau, Altair, juga kadang melihat langit dan mencariku, seperti aku mencarimu dalam setiap kelamnya semesta ini?"

Tak ada jawaban. Hanya gema bintang lain.

Tapi rindu itu tidak pernah lenyap. Ia hanya berubah bentuk—menjadi rotasi yang tak pernah selesai.

Beberapa rindu tak berakhir dengan pelukan, hanya menjadi lintasan sunyi yang terus mengitari bayang-bayang yang tak kembali.