Mati, dilupakan orang.
Mati, tidak berjejak.
Mati, jauh dari kebisingan.
Mati, menimbulkan penyesalan.
Mati, bebas dari segalanya.
Tetapi dalam beberapa bulan terakhir, keinginanku teredam cukup jauh di dalam. Untuk sesaat, aku ingin terus melanjutkan hidup.
Aku ingat perasaan lugu dan naif saat kepalaku dibelai, aku ingat betapa kencangnya tawaku saat Ia melemparkan guyonan.
Tetapi waktu berkata tidak. Waktu berkata bukan sekarang saatnya.
Satu hal yang tidak pernah aku pikir akan terjadi adalah pulang dengan isakan kencang dan berada di dekapan Ayahku. Ayahku yang pernah kubenci karena darahnya mengalir di dalam diriku.
Belasan jam terakhir aku terus bertanya. Apakah memang ini akhirnya? Tidak bisakah aku diberikan waktu lebih untuk menikmati segalanya?
Sekarang, aku meminta waktu. Aku minta waktu untuk dibuat selama mungkin. Aku minta waktu untuk menebus dosa-dosa yang telah kubuat. Aku minta waktu untuk sekali, sekali ini saja, memberikan aku kesempatan.
Aku ingin hidup dengan tenang. Aku ingin hidupku berarti dengan-Nya. Aku ingin memberikan diriku kesempatan lebih untuk tetap hidup dan meraih semua hal yang kuinginkan.
Jadi, Tuhan, bisakah engkau memberikan aku waktu lebih lama untuk hidup?