Malam turun perlahan di ujung kota, meninggalkan udara yang lembap setelah hujan singkat sore tadi. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di genangan air yang tersisa di trotoar. Di bawah salah satu lampu itu, Arka berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku jaketnya, bahunya sedikit membungkuk seperti seseorang yang sedang memikul sesuatu yang terlalu lama ia simpan sendiri.
Beberapa langkah di depannya berdiri Nara.
Nara tidak banyak bergerak. Rambutnya yang sedikit basah oleh sisa gerimis menempel di pipinya, dan matanya menatap Arka dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Ada lelah, ada ragu, dan ada sesuatu yang dulu pernah sangat hangat di antara mereka.
Arka menarik napas panjang. Dingin malam terasa masuk sampai ke dadanya.
"ra…" suaranya pelan, hampir seperti seseorang yang sedang belajar berbicara lagi setelah terlalu lama diam.
Ia sempat menunduk, memperhatikan ujung sepatunya yang menyentuh genangan kecil di aspal. Ingatannya tiba-tiba penuh oleh potongan-potongan masa lalu. Malam-malam ketika mereka tertawa terlalu keras di taman kota, pesan singkat yang selalu Nara kirim setiap pagi, dan cara perempuan itu dulu memandangnya seolah Arka adalah tempat pulang yang paling aman.
Ironisnya, justru karena itulah ia mulai takut.
"gue baru sadar sesuatu belakangan ini," katanya akhirnya. "selama ini… gue nggak benar-benar jadi diri gue sendiri waktu sama lo."
Nara tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Arka, menunggu.
"gue selalu mencoba jadi seseorang yang kelihatan kuat di depan lo," lanjut Arka, suaranya lebih pelan sekarang. "seseorang yang nggak gampang takut, nggak gampang cemburu, nggak gampang terluka."
Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu terasa pahit.
"padahal sebenarnya gue cuman… sembunyi."
Angin malam bergerak pelan, membuat daun-daun di pinggir jalan berdesir.
Arka mengangkat wajahnya sedikit, menatap Nara dengan mata yang terlihat lebih jujur daripada yang pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"gue takut lo ngeliat sisi rapuh gue." katanya.
Ia mengingat begitu banyak momen kecil yang dulu terasa sepele — saat Nara bertanya "lo kenapa?" dan Arka hanya menjawab "nggak apa-apa." Saat Nara mencoba mendekat, tapi ia malah membuat jarak. Saat ia memilih diam padahal hatinya penuh dengan hal-hal yang seharusnya ia katakan.
"i thought if i kept everything to myself, i wouldn't hurt you," katanya lirih.
Ia tertawa kecil, suara yang terdengar lebih seperti penyesalan.
"as it turns out," Arka berhenti sejenak, tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya. "because of that, i didn't just hurt you but i ended up hurting myself too."
Nara menunduk sebentar. Ia ingat semua malam ketika Arka terasa begitu jauh meskipun mereka duduk bersebelahan. Ia ingat betapa seringnya ia merasa seperti berbicara dengan seseorang yang menyembunyikan setengah hatinya.
"aku capek, Arka." kata Nara akhirnya, suaranya pelan namun tegas. "capek buat coba ngertiin seseorang yang bahkan nggak mau jujur sama dirinya sendiri."
Kata-kata itu mengenai Arka seperti angin dingin.
Ia mengangguk pelan.
"i know."
Ada jeda panjang di antara mereka. Lampu jalan berdengung halus di atas kepala.
"gue nyesel, ra."
Kali ini Arka tidak berusaha terdengar kuat. Tidak ada topeng lagi dalam suaranya.
"gue nyesel karena gue nggak pernah bener-bener ngebiarin lo ngelihat siapa gue sebenarnya."
Tangannya sedikit gemetar saat ia mengeluarkannya dari saku jaket.
"gue terlalu sibuk jadi orang yang gue pikir bakal lu butuhin… until i forgot how to be the person you truly love."
Nara mengangkat matanya kembali. Di wajah Arka sekarang, tidak ada lagi sikap tenang yang dulu sering ia gunakan untuk menutup perasaannya. Yang ada hanya seseorang yang terlihat rapuh tapi jujur.
"gue nggak minta semuanya balik kayak dulu," lanjut Arka pelan. "gue cuma pengen lo tau… buat yang pertama kalinya gue berhenti pura-pura."
Ia menatap Nara dengan mata yang terasa lebih terbuka daripada sebelumnya.
"i'm scared to lose you." katanya akhirnya, kalimat yang seharusnya ia ucapkan sejak lama.
Udara malam terasa lebih sunyi setelah pengakuan itu.
"if you still have some room left for me in your heart…" Arka menelan napasnya. "please, don't go."
Ia tidak terdengar memaksa, hanya seseorang yang akhirnya berani mengakui bahwa ia sedang tersesat.
"gue pengen belajar lagi," katanya. "belajar mencintai lo tanpa topeng, tanpa peran."
Lampu jalan di atas mereka memantulkan cahaya hangat di mata Nara.
"and if you're willing to stay" lanjut Arka, suaranya hampir berbisik, "i promise you… this time, you will see who i truly am."
"and from now on, let me show you the shape of my heart."
Malam tetap sunyi, tetapi sesuatu di antara mereka terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Arka tidak lagi berusaha menjadi seseorang yang sempurna.
Ia hanya menjadi dirinya sendiri. Seseorang yang rapuh, menyesal, namun akhirnya berani jujur tentang cinta yang selama ini ia sembunyikan.
now playing Shape of My Heart - Backstreet Boys