Malam akhirnya datang, bukan tanpa sebab, melainkan takdir waktu yang membawanya untuk menjelang. Lampu sepenuhnya menyala, dengan kegelapan di dalamnya.

Di atas meja, terlihat kertas kosong. Bukan belum sempat diisi, melainkan malam mencari apa yang harus dipenuhi.

Terkadang bisa mendapatkan satu panel saja sudah cukup dan kadang tidak ada yang lahir satupun di dalamnya.

Ada masa ketika tangan bergerak tanpa arah, seperti mengambil pensil dan penghapus tanpa tau apa yang dicipta. Bingung, rasanya bingung.

Diluar kamar, semua tetap berjalan. Tidak ada yang berhenti hanya karena hati seseorang terhenti. Semua orang berfokus pada diri sendiri.

Sementara di kamar malam ini, seseorang duduk sendirian. Menatap kertas yang berisi goresan goresan, tanpa tau apa makna dari goresan itu. Dan ia sadar, bahwa setiap goresan yang ia buat, tiada arti.

Rei Ardhana, namanya.

Duduk di kelas satu sma, tepatnya 3 baris dari meja guru dan dua baris dari arah pintu.

Rei sama sekali tidak ingin terlihat mencolok, ia hanyalah siswa biasa dengan aktivitas yang biasa.

Hari-harinya selalu berjalan sama. Berangkat sekolah selalu tepat pada pukul 06:30, selalu melewati jalan yang sama, suara motor yang sama, dan suasana hati yang sama.

Suatu hari ketika duduk di bangku kelas, matanya tertuju pada ponsel di depannya. Terlihat cuplikan manga yang dibagikan di platform internet. Banyak sekali komentar-komentar baik dari banyak orang.

Dan Rei terpikir, apakah dia bisa juga jadi seperti Akira?

Dari situ ia mulai untuk mengunggah gambarnya di internet. Tanpa harapan yang besar, atau rencana apapun. Hanya satu unggahan kecil.

Tapi tidak ada yang menyangka respon orang orang datang lebih dari yang ia harapkan.

Lama kelamaan komentar berdatangan. Berbagai pujian di lontarkan untuk garis sempitnya. Banyak orang menyukai garis garis itu, seolah olah menemukan sesuatu yang ia sendiri tidak yakin pernah ada.

Rei senang, atau setidaknya, mencoba terlihat senang. Dibalik itu, ada rasa yang tidak seharusnya dirayakan. Sesuatu yang tertangkap, bertanya pelan

Apakah aku pantas untuk mendapatkan pujian ini?

Bukan tanpa sebab, melainkan ia tau dari mana garis itu berasal. Dari potongan potongan visual sebelumnya, dari karya orang lain yang tersimpan di kepalanya.

Bukan menyalin mentah mentah atau menjiplak, tapi tetap saja ia merasa itu tidak pantas untuk digali.

Baginya gambarnya memang terlihat rapi. Indah di mata insan lain. Namun semakin lama ia menatapnya, yang ia temukan hanya permukaan. Tidak ada suara dibaliknya, tidak ada harapan di dalamnya, yang tersisa hanyalah keheningan.