Aku menantangmu, takdir keparat! Kau mainkan hidupku, Seperti dadu murahan di meja judi.

Kau beri aku cinta, Lalu kau rampas dengan tangan busukmu. Kau berikan di matanya surga, Lalu kau campakkan aku ke parit neraka.

Apa puas kau melihatku remuk? Apa puas kau mendengarku menangis? Sialan, aku takkan membungkuk untukmu.

Ambil dia, Ambil semua yang kucinta. Tapi kau takkan bisa mencabut namanya dari dagingku, Ia sudah tertulis dengan darahku. Dan jika itu adalah dosa — Maka biarlah aku yang menanggungnya.

Dengar baik-baik, Aku tidak kalah, Aku hanya berdarah. Dan aku akan terus berdarah — Hingga kau mengerti: Lebih baik mati hingga berkeping, Daripada tunduk pada kehendak takdir.