Cinta beda agama, kasta, suku bangsa, atau sekedar masalah weton saja.

Pada akhirnya intuisi menjadi aternatif utama, meski sangat rentan berakhir sama.

"Kau pernah muda, dan ku juga. Kau sering gagal, dan aku pun sama". Farid Stevy menguatkan lewat larik-larik miliknya.

Namun selamanya kita adalah kegagalan itu pula. Ku sebut kita karena aku tak paham masa depan jauh di sana. Karena kau tak pasti bahagia selamanya.

Penguatan-penguatan dan baris-baris kegagalan seakan menjadi dua utas yang saling memilin menjadi satu.

Dewasa seperti kata-kata orang. Beranak pinak. Sukses. Terus hidup dan takut mati.

Dewasa yang sebenarnya seperti apa?

Membiarkan sel menua dengan sendirinya?

Bercinta selamanya?

Menghabiskan oksigen di udara?

Memaksa bahagia namun bagaimana?

Kenyataannya seperti apa?

Lihatlah patah-patah orang lain yang tak terhindarkan.

Langkah-langkah tersesat pada pikiran sendiri.

Menghitamkan langit yang sebenarnya biru.

Menantang angin yang arahnya tak terkira.

Lara-lara pilu berlalu dan kembali menjadi baru.

Desember, 2025.