Diantara setumpuk rinduku yang tengah berbunga-bunga, aku datang dengan satu pengakuan, pengakuan yang bisa mengantarkanku pada neraka jahannam menurut agamamu, pengakuan yang bisa memadamkan api rinduku, ku tulis pengakuan ini dengan penuh gegap gempita, tanpa rasa hati-hati, mungkin kita tak bakal bersua lagi buat beberapa waktu kedepan, atau selamanya?
Aku rasa tak meminta maaf pun tiada apa-apa Aku tak mengambil hak dia juga, tak mengintervensi, hanya ungkapan Saya tahu kok, saya ini Gay, atau bahasa lainnya Queer Saya tahu kok, saya ini taik sapi atau apalah itu?, itu menurutmu bukan?
Kita dahulu sering bertemu muka, sekarang?, ah sudahlah Jikalau sekarang adalah zaman revolusi, maka cintaku bertabur mesra diantara revolusi, tetapi cintamu itu bertabur mesra tidak?, kurasa tidak, Disaat tokoh-tokoh negara menyampaikan pamflet, pidato, puisi, kuharap kau boleh menerima cintaku yang terlarang ini, sama seperti ketika kau menerima penuh suara dari tokoh-tokoh itu
Tapi sudahlah itu cuma khayalan saya Tak mungkin terjadi di dunia yang sekarang ini Jikalau kau melihat tulisan ini ntah dimana Saya hanya ingin kau membaca ini, tak perduli dengan reaksimu yang heboh, flat, marah?, dsb
cinta cinta ditolakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk cinta ditolakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk cinta
intinya itu.