MANUSIA selalu punya banyak spekulasi soal dunia dan berakhir lebih banyak terbukti salah daripada benar. Atau barangkali tiada usaha mereka mencari kebenaran, melainkan pembenaran atas spekulasi itu sendiri. Dua perkara berbeda, namun bisa tampak sama, bergantung pada susunan kata yang diatur lewat mulut manis atau ditulis dalam huruf-huruf rapat nan rapi.
Sebagai seorang tikus, aku tahu manusia kerap berspekulasi bahwa tempat megah dan bersih mustahil jadi sarang para binatang menjijikan — salah satunya, tentu saja kaum kami. Tapi, hei, lihat siapa yang bisa berjalan di malam hari dengan leluasa, menyusuri lorong ke lorong, melompat dari satu meja ke meja lain, tanpa pernah diusir. Bangunan ini sungguh luas, dan aku sendiri tak yakin telah menjamah tiap sudutnya selama tiga tahun hidup sebagai tikus di sini.
Dalam bangunan yang lapang ini, seringnya kulihat para lelaki berjas atau berpakaian rapi dengan rambut klimis. Sementara para perempuan — yang sejujurnya tidak begitu banyak — memakai baju rapi berwarna lebih cerah dengan rambut sanggul kokoh dan alis mereka hitam tegas. Kadang pula ada satu atau dua perempuan yang berpakaian berbeda daripada mereka yang bersanggul, rambutnya tergerai dan pakaian lebih terbuka. Langkah mereka tak kalah percaya diri bak penguasa ruangan. Mereka sering datang ketika lelaki berjas masuk sendirian ke ruangan yang kemudian dikunci rapat.
Dan pada waktu seperti itu, selalu terjadi hal yang bahkan bagi binatang sepertiku tampak begitu liar. Mereka bergerak seperti kami kala krisis makanan: melahap satu sama lain di atas meja mengilap, sering pula berakhir di sofa berbusa empuk. Ruangan pun jadi panas, lembap, dan berbau. Kadang aku merasa iba pada musuhku—para tukang bersih-bersih—yang datang sesudahnya sambil menghela napas panjang sebelum membersihkan kekacauan yang tak manusiawi.
Pernah aku kira barangkali memang itu fungsi bangunan ini: tempat untuk kegiatan liar yang mereka rahasiakan di balik pakaian rapi. Namun kemudian, kudengar pula obrolan serius bercampur tawa menggelegar yang kadang mengagetkan tidur siangku di bawah rak-rak antik nan kokoh yang jarang terjamah dengan serius oleh si tukang bersih-bersih.
Sebagai tikus, aku tipikal yang selalu penasaran pada kegiatan manusia. Walaupun kata para sesepuh tak ada gunanya mendengarkan percakapan hina. Tapi bagaimana aku tahu apakah sesuatu itu hina jika tak pernah tahu apa bentuk hina itu sendiri? Saking penasarannya, sering aku bertanya kepada sesama tikus atau menguping percakapan para tukang bersih-bersih — yang bagi telingaku terdengar lebih jujur daripada ucapan para manusia rapi itu.
Setelah tiga tahun hidup, yang kupahami adalah: bahwa gedung ini disebut rumah wakil rakyat, bahwa rakyat adalah manusia-manusia yang mendiami negeri ini (entah apakah aku masuk dalam kata rakyat itu). Sulit dicerna, namun cukup dipahami dengan otak kecilku. Kesimpulan ini, tepatnya aku tarik saat mereka sendiri mengucap sumpah atas pekerjaan mereka. Sumpah itu lantang di bawah buku tebal yang disebut kitab suci, namun terasa kosong seperti setelan suara robot pembersih.
Aku pernah penasaran dengan bagaimana dunia di luar gedung megah ini, apakah sama megahnya? Karena jika benar mereka bekerja untuk yang disebut 'kesejahteraan', tentulah dunia luar akan tampak hebat. Tetapi ternyata spekulasiku salah. Bukan karena berbanding terbalik, melainkan karena dunia luar itu nyaris tak tampak: hanya hamparan rumput rapi dan beberapa tanaman yang berderet gagah, lalu di ujung sana sebuah pagar hitam terlihat berkilat. Dari jauh tampak kecil, namun aku tahu, bila mendekat ia akan menjulang seperti tembok penjara.
Hal ganjil lain yang kudengar: bahwa mereka yang berpakaian rapi ini juga disebut 'tikus' oleh para tukang bersih-bersih saat bergosip di waktu senggang. Awalnya kukira mereka mengumpat pada kawananku. Tetapi sejak kapan tikus meminta uang dengan angka-angka yang tak kupahami? Tikus paling pandai sekalipun hanya bisa menghitung sampai seratus. Lebih dari itu, terdengar seperti mantra yang asing. Sejak kapan pula tikus menggigit pondasi lalu menuduh pondasi itu yang rapuh? Kami cukup sadar dan jujur hidup sebagai binatang yang senang merusak kabel.
Semakin lama kupahami orang-orang di gedung ini, semakin sering dadaku terasa sesak oleh perasaan yang tak kumengerti. Kadang, tanpa sadar, perasaan itu mendorongku untuk sengaja muncul di hadapan mereka. Tentu mereka akan berteriak, tetapi kami, para tikus, selalu lebih gesit daripada manusia-manusia berperut buncit itu. Setidaknya aku selalu puas tiap wajah mereka terlihat panik, seperti saat mereka dengar kabar soal harta-harta rahasia mereka yang terancam.
Dan pada suatu hari, di luar jendela-jendela besar yang biasa tampak tenang, ada gemuruh samar dari arah jalanan yang jauh di sana. Aku sempat melihat dari atap, pagar yang kokoh itu bergoyang, tak terlalu jelas tapi ada banyak lelaki berseragam lengkap di dekatnya — di luar dan di dalam area gedung —berjejer rapi seperti membentuk pagar lain, seolah yang tinggi itu masih belum cukup. Di luar pagar menjulang suara gemuruh itu berkumandang. Serak, keras dan kasar tapi lebih jujur daripada apapun yang ada di dalam gedung megah ini. Mereka berteriak berulang kali, soal pembungkaman, soal sejarah yang tak dihormati, soal penjahat yang memimpin negara.
Sementara saat aku kembali masuk, di dalamnya para lelaki berjas dan perempuan bersanggul hanya berdiri dari balik tirai. Menyulut rokok, menyuruput anggur-anggur yang baunya asam, dan tertawa seperti guntur siang bolong.
"Lihat itu," ujar seseorang sambil menunjuk jendela. "Rakyat sedang olahraga sore."
Semua di ruangan terkikik. Sepertinya amarah di luar hanya hiburan penutup hari untuk mereka yang duduk-duduk di ruangan dingin ini.
Seorang menyender, memuntahkan asap tipis ke langit-langit, "Besok mereka juga lupa kalau diberi berita panas. Mereka selalu suka berita panas."
Seorang perempuan ikut menyahut, "Kalaupun tidak lupa, pagar itu tebal. Jalanan dari depan ke sini jauh, mereka bisa mati digebukin aparat sebelum sampai."
Walaupun keadaan di luar tampak semakin kacau, gemuruh di luar jendela yang awalnya hanya menyapu pelan, kini masuk lebih dalam di celah jendela. Tapi mereka yang berpakaian rapi tetap pada posisi sama, menertawakan yang lapar sambil mulut mereka penuh bau darah dari daging-daging segar yang selalu jadi menu makan siang.
Seorang tukang bersih-bersih sempat muncul dari balik pintu, membawa ember dan pel. Ia berhenti sejenak mengintip para manusia yang disebut tikus itu dengan mata yang sulit terbaca, lalu bergumam lirih–sangat lirih sampai hanya aku yang sadar gumaman itu,
"Dasar para tikus busuk. Amarah sekeras itu pun tetap tak mempan untuk kalian."
Lama-lama aku pun ikut geram hanya berdiam mendengarkan di bawah kolong rak berdebu. Geram dengan suara tawa yang tak ada hentinya sementara di luar dunia seperti terbakar. Mereka nyatanya tak mewakili siapapun dan sumpah sendiri telah mereka tipu. Pagar dan gedung ini dirancang untuk melindungi mereka dari rakyat dan kemarahannya, juga menahan bau busuk dari obrolan mereka agar tak sampai ke jalanan.
Aku akhirnya terdorong dengan amarah yang mungkin sama dengan mereka yang berteriak di luar sana. Pelan-pelan kudekati salah satu sepatu mengilap dari yang suara tawanya paling mengganggu. Tanpa banyak pertimbangan lagi, aku meloncat dan menggigitnya dengan sekuat tenaga sampai suara mencicitku keluar.
Si pemilik sepatu jelas menjerit walaupun gigitanku jelas tak menembus sepatu tebal itu, tapi aku yakin ia terkejut karena merasa jijik (padahal mereka jauh lebih menjijikan). Gelas-gelas pecah, semua merunduk mencariku yang sudah berbuat kekacauan ini. Jelas saja mereka kalah cepat, aku sudah kembali menyusup di bawah kolong-kolong sempit yang perut buncit mereka saja tak bisa masuk. Mereka berpesta sumpah serapah dan berteriak, menyalahkan apapun yang bisa disalahkan.
Hah! Gigitan kecilku bukan apa-apa, Tuan dan Nyonya. Tubuhku yang bergelimang debu tidak lebih menjijikan dari tingkah kalian yang seolah-olah punya kendali atas manusia. Jempol kawanan kalian tidak akan serapuh itu untuk rusak, sebab yang rusak sesungguhnya adalah pendengaran kalian.
Oh, sungguh! Kami para binatang kecil dan lapar tiada sudi disamakan dengan Tuan dan Nyonya yang busuknya lebih dari bangkai dan lebih keji dari cakar kucing yang biasa mengejar kami. Dan sungguh, sungguh, kalian lebih hina dari apapun yang pernah kulihat di bawah bumi.