Musik pesta menggema lembut di ruangan megah itu, tapi bagi Julian Erza, setiap nadanya terasa seperti gema kosong yang memantul di dinding dadanya sendiri. Lilin-lilin tinggi masih menyala, menetes perlahan di antara mawar-mawar putih yang mulai layu di ujung kelopak. Para tamu tertawa, bersulang, mengucapkan doa selamat yang terdengar seperti barisan kalimat hafalan.
Di sampingnya, Hana Safira tersenyum sopan. Ia tampak tenang; matanya sesekali mencuri pandang ke wajah Julian yang entah sudah berapa kali menatap ke arah yang sama — pintu keluar.
"Cari siapa, Kak?" tanyanya lirih, cukup dekat untuk terdengar, tapi tidak menuntut jawaban.
Julian terdiam. Jemarinya memutar cincin di jarinya — cincin yang baru saja disematkan. Ia menatap meja, mencoba menyusun kebohongan yang bisa dipercaya.
"Nggak cari siapa-siapa."
Hana menatapnya lama, tapi tak berkata apa-apa. Senyumnya tipis — seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya tapi memilih diam.
Julian akhirnya berdiri. Katanya pada Hana, ia mau menyapa teman kuliah. Nyatanya, langkahnya langsung menuju meja di pojok ruangan, tempat Ardian, Leon, dan Evan duduk sambil bercanda.
"Aduh, pengantin baru! Gimana? Udah lega?" seru Leon begitu melihatnya. "Gue kira lo bakal kabur sebelum ijab kabul," sahut Evan sambil tertawa.
Julian tak menanggapi ocehan mereka. Ia hanya menatap gelas di tangannya, lalu pelan bertanya:
"Kalian liat Niel?"
Tiga pasang mata langsung saling pandang. Ardian bersandar di kursinya, ekspresinya datar.
"Serius lo nanya gitu sekarang?"
Julian mengangkat kepalanya. Tatapannya tenang, tapi suaranya goyah.
"Gue cuma nanya."
Leon terkekeh kaku.
"Fokus dulu lah sama acara—"
"Gue serius." Nada suara Julian rendah tapi tegas. "Kalian liat dia atau nggak?"
Keheningan jatuh. Tawa dan suara tamu di sekitar mereka mendadak terasa jauh. Ardian akhirnya menghela napas, menatap Julian dengan sorot lelah.
"Niel dibawa balik sama Rafa."
Julian menatap kosong.
"Semua ini terlalu tiba-tiba buat dia. Lo pikir aja, orang yang dia cinta tiba-tiba nikah sama orang lain, dan dia harus ngeliat itu langsung di depan matanya. Orang gila mana yang sanggup liat?" lanjut Ardian pelan, suaranya datar tapi menyimpan amarah yang tertahan.
Julian menunduk. Napasnya berat; jemarinya mencengkeram gelas begitu keras hingga sendi-sendi tangannya memutih. Ia tidak menjawab — hanya diam, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak boleh keluar.
Ardian berdiri, menepuk bahunya cukup keras.
"Tanggung jawab atas semua pilihan yang udah lo pilih."
Julian tak bergerak. Matanya hanya tertuju pada pintu yang setengah terbuka, tempat angin menyelinap masuk dan menggoyangkan tirai putih di sudut ruangan.
"Ini bukan pilihan, tapi hal yang harus gue jalanin, mau nggak mau." gumamnya dalam hati.
Ia kembali duduk di samping wanita yang kini sah menjadi istrinya. Musik kembali mengalun, para tamu kembali tertawa, dan di tengah cahaya lilin yang menari di atas meja, Julian menatap cincinnya sendiri — diam, seperti seseorang yang baru sadar telah menukar kebebasan dengan penyesalan.