Malam belum benar-benar usai, meski waktu terus merangkak ke hari berikutnya. Di luar, hujan masih mendera genting-genting tua yang nyaris lapuk. Angin menderu seperti bisikan Tuhan yang lupa dimengerti manusia. Di dalam kamar sempit itu, Sari duduk bersandar pada dinding, tubuhnya diapit dua putri kecilnya yang telah tertidur dalam pelukannya. Tapi pikirannya jauh—melayang-layang di antara rasa bersalah, marah, dan kelelahan yang menggerogoti jiwa.
Napasnya berat. Tubuhnya mungkin diam, tapi di dalam dadanya, ada badai yang lebih liar daripada hujan malam itu.
Ia memandangi wajah Kanaya yang tertidur sambil masih memeluk boneka lusuh. Matanya masih basah. Dan Nadira… si sulung yang selalu cepat dewasa, memeluknya erat seolah takut Sari akan menghilang begitu saja. Anak-anak itu adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan sejauh ini. Bukan karena cinta yang tak pernah berubah, tapi karena kewajiban untuk mencintai, bahkan ketika hatinya mulai patah.
"Aku lelah…" pikirnya, "Tapi aku tidak boleh lelah…"
Sudah berapa lama ia menahan semuanya sendiri? Ia tak ingat lagi. Mungkin sejak Kanaya lahir. Atau bahkan sejak Damar mulai pulang lebih sering dengan wajah keras dan suara yang meninggi. Dulu Damar adalah pria yang lembut. Ia tak pernah membentak. Bahkan memanggil nama Sari pun selalu dengan nada rendah dan sabar. Tapi hidup mengubah orang. Dan Damar, dalam diamnya, mulai kalah oleh tuntutan yang tak berhenti.
Sari tahu Damar tidak sepenuhnya jahat. Ia hanya tersesat di antara impian yang gagal dan harga diri yang terus tergores. Tapi kesadaran itu tak lagi cukup untuk menutupi luka-luka yang ditinggalkannya. Uang yang habis untuk adik-adiknya, sementara anaknya sendiri menelan ludah saat melihat anak tetangga makan permen. Janji-janji yang terus diulang tanpa pernah ditepati. Dan diam yang membunuh lebih pelan daripada kemarahan.
"Aku marah padamu, Mas… tapi lebih dari itu, aku kecewa. Dan kecewa itu lebih sulit disembuhkan."
Sari mengusap kepala Nadira dengan lembut. Anak itu selalu diam ketika semua meledak. Tapi diamnya menyimpan luka yang dalam. Ia tahu, suatu saat Nadira akan bertanya: kenapa Ibu tetap tinggal? Kenapa Ibu tidak melawan? Atau… kenapa Ibu akhirnya pergi?
Ia belum tahu jawabannya.
Pelan-pelan, Sari melepaskan pelukan. Ia berdiri, berusaha tidak membangunkan anak-anaknya. Melangkah ke dapur dengan kaki telanjang, lantai dingin menusuk telapak kaki yang mulai pecah-pecah karena terlalu sering berjalan tanpa alas.
Dapur masih berantakan. Piring pecah, kuah sayur mengering di lantai. Bau amis bercampur dengan sisa sambal yang tumpah. Sari menatap semua itu tanpa ekspresi. Ia tidak punya tenaga untuk menangis malam ini. Ia hanya ingin membersihkan. Sekadar membereskan sisa-sisa perang, seperti prajurit yang tak pernah ikut bertarung tapi harus menguburkan korban.
Ia mengambil sapu, mulai menyapu pecahan kaca. Tangan kirinya sedikit gemetar, tapi tetap bekerja. Di luar, kilat menyambar. Tapi di dalam pikirannya, hanya ada satu hal:
"Aku harus kuat. Untuk mereka."
Selesai menyapu, ia menyeka meja. Lalu duduk sebentar di kursi dapur yang nyaris patah. Angin masuk dari celah jendela. Membelai rambutnya yang mulai menua. Dan di sana, dalam heningnya, Sari membuka dompet kecil dari balik lemari. Isinya: selembar uang lima puluh ribu, satu fotokopi KTP, dan selembar foto kecil—foto Nadira dan Kanaya, tersenyum dengan gigi ompong, memegang balon warna-warni di taman kota dua tahun lalu.
Ia menatap foto itu lama. Menyentuhnya dengan ujung jari. Lalu mendesah.
"Mau ga mau aku harus pergi... "
Beberapa hari telah berlalu sejak malam penuh amarah itu. Rumah kecil di pinggiran kota itu masih sama: cat dinding yang mengelupas, sofa tua yang mengempis, dan suara kipas angin yang terus berderit. Tapi suasananya sedikit berbeda. Lebih tenang. Lebih hening. Seperti luka yang belum sembuh, tapi mulai dikeringkan angin.
Damar duduk di teras, menyulut rokok yang tinggal separuh. Tatapannya kosong menembus ujung jalan. Di dalam, terdengar suara Sari yang sedang mencuci piring, diiringi suara tawa kecil Nadira dan Kanaya yang sedang menggambar bersama.
Entah mengapa, suara tawa itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Sari keluar tak lama kemudian. Wajahnya tenang, tapi ada keraguan yang terselip di matanya. Ia duduk di samping suaminya, menjaga jarak beberapa jengkal. Tak ada kata-kata selama beberapa menit. Hanya suara korek api yang diklik Damar dan suara ayam tetangga dari kejauhan.
Lalu Sari membuka suara, pelan tapi tegas.
"Mas… aku mau ngomong."
Damar tidak menoleh. Ia tetap menatap jalanan, tapi bahunya sedikit menegang.
"Hm?"
"Aku… kepikiran buat kerja ke luar negeri."
Damar langsung memalingkan wajah, menatap Sari dengan tajam.
"Apa? Ke luar negeri? Kamu serius, Sar?"
Sari mengangguk pelan. Tangannya menggenggam ujung kerudungnya yang sudah agak pudar.
"Iya. Ke Malaysia. Aku sudah tanya-tanya. Ada temannya Mbak Rina—saudaramu—yang kerja di sana. Katanya bisa bantu carikan agen. Aku cuma pengen bantu Mas. Bantu kita semua. Ekonomi kita nggak bisa terus kayak gini, Mas…"
"Tapi… kamu perempuan. Di sana kamu sendirian. Gimana kalau kenapa-kenapa? Aku nggak setuju." Damar meletakkan rokoknya dan memijit pelipisnya keras-keras.
"Mas, aku ngerti. Tapi kita nggak bisa terus bertahan kayak gini. Aku juga capek tiap hari lihat Nadira dan Kanaya harus menahan keinginan mereka. Aku cuma mau mereka punya masa depan."
"Aku masih bisa kerja! Aku bisa tambah proyek. Bisa angkut semen lebih banyak!"
"Iya, Mas. Tapi berapa lama lagi? Kamu sendiri pulang kadang nggak bawa apa-apa. Aku tahu kamu sudah usaha. Tapi aku juga pengen bantu. Aku juga ibu dari anak-anak itu. Aku nggak bisa cuma diem di rumah dan lihat mereka kekurangan terus."
Damar terdiam. Tangannya mengepal, wajahnya menegang. Tapi sorot matanya bukan marah—lebih ke bingung dan takut. Sari menyadari itu. Ia menghela napas, lalu menatap suaminya dalam-dalam.
"Aku nggak pergi selamanya, Mas. Aku pergi untuk balik. Untuk kita. Untuk rumah ini. Aku cuma minta waktu dua tahun. Setelah itu aku pulang. Kita kumpulin uang, perbaiki rumah, mungkin buka usaha kecil. Aku nggak mau anak-anak besar dalam kekurangan terus."
"Tapi… anak-anak butuh ibunya, Sar."
Sari tersenyum pilu. "Makanya aku butuh Mas. Gantian. Sekarang Mas yang jaga mereka. Aku titipkan mereka ke tangan orang yang juga mencintai mereka. Ada ibu dan ada risa, adek mu juga bisa bantu jagain mereka"
Damar tertunduk. Ia tak pernah membayangkan harus melepas istrinya ke negeri yang jauh, bekerja entah di rumah siapa, dalam situasi apa. Tapi ia juga tahu, Sari benar. Ia melihatnya tiap hari: Sari menjahit baju robek, menambal sepatu Nadira dengan lem murahan, menyambung lauk dengan air supaya cukup untuk makan malam. Dan meski Sari tidak pernah mengeluh, matanya selalu bicara.
Diam-diam, Sari mengeluarkan ponsel tuanya. Ia membuka pesan dari Mbak Rina.
"Ini, Mas. Aku udah hubungi saudara Mas. Dia bilang temannya di Malaysia kerja jadi ART. Ada agen yang bisa bantu pengurusan. Resmi. Aku cuma perlu fotokopi KTP, KK, dan uang administrasi. Aku akan coba kerja bersih-bersih rumah atau jaga anak. Yang penting halal."
Damar memandangi ponsel itu, lalu menatap Sari. Wajah istrinya penuh harap, tapi juga keteguhan. Ia bukan perempuan yang minta izin untuk pergi. Ia perempuan yang minta pengertian, karena hatinya sudah bulat.
Akhirnya, Damar mendesah panjang. Ia mengangguk, walau sangat pelan. Matanya mulai berkaca.
"Kalau itu keputusanmu… aku nggak akan larang. Tapi janji, Sar… pulang, ya. Pulang ke rumah ini. Pulang ke aku. Pulang ke anak-anak."
Sari menggenggam tangan suaminya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Aku janji, Mas. Aku pergi… untuk pulang."
---
Malam hari diiringi angin yang cukup kencang, didalam ruang tamu rumah kecil itu Damar menatap foto-foto Nadira dan Kanaya yang terpajang di dinding. Tatapannya dalam—tersirat rasa khawatir akan kegagalan, kehilangan, dan kekecewaan yang tak henti membayangi. Tapi di balik itu, ia menemukan sedikit ketenangan… meski tak cukup untuk mengusir takut
"Apa aku akan sanggup menghadapi ini... " Bisiknya, sangat pelan sampai suaranya kalah dengan angin yang berhembus pada malam itu
-----
Beberapa hari kemudian, proses dimulai. Sari mengurus dokumen, membuat paspor, dan menyerahkan diri pada agen yang direkomendasikan. Ia tahu jalan ini tidak mudah. Tapi ia lebih takut membiarkan anak-anaknya besar dalam kelaparan dan kehilangan harapan.