what albrian doesn't know is that adlina larasanti loves everytime he fixes his glasses on his face,

what albrian doesn't know probably is that adlina larasanti giggles over his small tantrums

what albrian doesn't know…

adlina larasanti also loves him as much as he does.

Banyak yang Albrian tak tau tentang Laras,

Tentang kekasihnya yang diam-diam mengaguminya

Tentang kekasihnya yang sedikit banyak mengkhawatirkannya

Tentang Laras yang tak sadar memberikan sepenuh cintanya hanya untuknya seorang.

Laras seperti perempuan pada umumnya yang salah tingkah hanya dengan memikirkan nama pria terkasihnya. Lesung pipinya menjadi penanda bahwa dia jatuh cinta.

Naifnya, dia sampai harus menyembunyikan senyum kecilnya saat dia diam-diam memperhatikan Albrian yang berceloteh, atau mengungkapkan rasa kesalnya.

Laras always giggles at Albrian little tantrums.

His little grudge, or sulky face… Laras likes it all.

Not until he really put all of his anger and spit it in front of her face.

"Kali ini apa lagi?! kamu nggak dibolehin tama? atau nggak approve cuti?,"

"Kalau nggak mau pergi tinggal bilang aja. Amarah Albrian meledak begitu saja setelah Laras bilang ingin menjadwalkan ulang keberangkatan mereka ke Bali. Bukan maksud Laras plin-plan atau nggak niat untuk menyetujui ajakan Albrian, ternyata akhir taun dia harus menggunakan cutinya untuk berkunjung ke rumah saudaranya di Surakarta — tempat kelahiran ayahnya dan beberapa saudaranya tinggal.

"Nggak gitu….. aku mau pake cutinya buat ikut acara keluarga.. ayah mau aku ketemu sodara-sodaranya yan. Kalau perginya taun depan — "

"Nggak usah pergi sekalian. It's supposed to be on your birthday. Your birthday present." Albrian meraih ponselnya dan membuka aplikasi travel untuk memesan tiket pesawat. Jarinya terlihat gemetar saat menyentuh layar ponselnya, menahan emosi. Albrian bukan orang yang bertingkah sembrono. Dia selalu menunggu pikirannya jernih untuk memutuskan suatu hal, namun kali ini dia terlampau kesal karena dia merasa bukan prioritas, atau mungkin dia bukan siapa-siapa di hidup Laras.

"Udah aku cancel." Albrian menunjukkan layar ponselnya.

"Kamu kan pesen business class. Masih bisa direfund?"

"LARASANTI!" Laras berjengit kaget karena pertanyaannya dibalas oleh teriakan Albrian. Bibirnya makin terkatup tak mau membuka suara.

Albrian menghembuskan napasnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. "Bisa-bisanya kamu nanyain refund tiket?! Kamu nggak mikirin perasaan aku kayak gimana? why is it so easy for you to put me aside? kenapa yang terlintas di kepala kamu cuma tiket pesawatnya?! emang kamu nggak mikir gimana perasaan aku yang selalu kamu kesampingin? Sebenernya aku penting nggak sih ras buat kamu?! or you like to play around rich guy, get that fancy bags and free meals?" Tenggorokan Laras tercekat. Dia ingin menjelaskan dengan pelan kenapa lagi-lagi merubah rencananya dan kenapa dia ingin ikut ayahnya pergi tapi niatnya terlanjur kandas setelah mendengar kata-kata dari Albrian barusan.

"Ngomong! jadi kenapa?!"

Laras mendongak ke arah Albrian yang sudah berkacak pinggang dan memberikan tatapan tajam padanya. Matanya berkaca-kaca meski air matanya belum jatuh membasahi pipinya.

"Yaudah kalau itu yang kamu pikirin."

Albrian terdiam. "Aa — " Suaranya serak. Sepersekian detik dia sadar kalau perkataannya barusan sudah melewati batas moral manusia normal.

"Kamu ngasih itu sebagai hadiah ulang taunku kemarin, i thank you for that. Aku minta maaf karena lagi-lagi reschedule plan kita… it's justthere's always something beyond our control Albrian."

"So Prioritizing me as your boyfriend is something you cannot control?! why you don't wanna be a little bit more selfishfor me?" Albrian memelankan intonasinya. "Aku pagi ini belain kamu di depan papa dan keluarga besarnya. I rushed to you when you say you left your wallet at home and scared to take taxi alone. I sacrifice myself for you. Now, tell me yours — Tell me i matter."

Sebenarnya Laras juga meradang mendengar ocehan Albrian sejak tadi, tapi dirinya menahan diri. She knows his boyfriend sometimes need someone to vent out his anger.

Bahkan di saat seperti ini, Larasanti masih memikirkan Albrian di saat Albrian yang mungkin sedang memikirkan dirinya sendiri.

"Yan…" panggil Larasanti. Albrian tak menoleh ke arahnya maupun menyahuti panggilannya.

"Aku sering prioritasin kamu walaupun aku belum bisa ngasih segalanya…. i heard you… i understood you all the time and always... cuma mungkin cara kita aja yang beda."

Albrian melihat wajah Laras yang sudah sendu. Benar dia menolehkan wajahnya ke arah lain, karena tiap kali Albrian menatap mata Laras yang berkaca-kaca, rasa bersalah langsung memenuhi ruang hatinya. "Kamu tau sendiri aku nggak suka omong kosong."

Laras menggigit bibirnya sendiri. Tangannya merapihkan barang-barang yang dia bawa untuk pilates tadi dan mengambil handphone yang sempat dia charge. Tatapan Albrian mengikuti setiap gerak Laras. Benar saja, emosinya lenyap begitu saja berganti dengan rasa bersalah tapi yang dia lewatkan Larasanti sudah terlanjur terluka oleh perkataannya.

"Kamu bilang aja berapa cancellation fee-nya nanti aku bayar."

Entah Laras mengatakan hal tersebut dengan sengaja atau hanya melempar kata-kata spontan di otaknya, yang jelas perkataannya barusan seperti guyuran bensin di kobaran emosi Albrian.

Rahang Albrian mengetat dan tak mau kalah dari Laras, "How are you gonna pay that?", Emosinya benar hilang tapi tidak dengan egonya.

"Aku kerja, punya uang. Bilang aja berapa."

Albrian mendesis, "Lupain aja. Aku bahkan gak inget angkanya." Bola matanya masih mengikuti setiap pergerakan Laras yang sudah siap pergi dari apartemennya. Emosi Albrian mulai mereda. Pikirannya sudah kembali jernih. Separuh hatinya merasakan rasa bersalah hingga membuatnya langsung mengambil kunci mobil dan berjalan mengikuti Laras yang baru melangkahkan kakinya keluar menuju pintu.

"Aku anterin.." Ucap Albrian. Wajahnya memasang raut tanpa dosa seolah tak terjadi apa-apa barusan.

"Nggak usah."

"Dompet kamu ketinggalan. Kamu nggak bawa identitas apa-apa. Gimana kalau — "

"Buat sekarang, kayaknya aku lebih ngerasa nyaman semobil sama orang asing.."

Dada Albrian seperti dihantam batu besar tak kasat matan. Jantungnya berdebar keras mendengar ucapan Laras barusan. Beberapa menit yang lalu, dia sibuk meracau tentang Laras yang tak memahami perasaannya. Hingga melupakan fakta bahwa dirinya juga mengabaikan perasaan kekasihnya.

Matanya hanya bisa menatap Laras nanar. Albrian nggak berani mengeluarkan suara sedikitpun untuk membalas. Sepersekian detik kemudian dia merasa malu telah berbuat demikian.

Tak ada kata pamit dari Laras. Yang Albrian dengar hanya suara pintu yang tertutup dan hanya menyisakan dirinya sendiri di dalam apartemennya.

Congrats Albrian. You just turn yourself into Rudy whose personality you hate the most.

Satu persatu air mata Laras mulai jatuh dari pelupuk matanya. Dia menahan diri untuk nggak menangis di depan Albrian. Dia masih ingin menjelaskan alasannya. Dia juga sudah memikirkannya matang-matang termasuk memikirkan perasaan Albrian setelah mendengar permintaannya tapi Albrian mungkin keburu jengkel hingga nggak bisa berpikir jernih untuk menanggapinya.

Laras melihat ke arah cermin di dalam lift. Selain pipinya yang mulai basah dan ingusnya yang mulai keluar, terlihat samar lipstik pink tipisnya yang tercoret sampai luar bibirnya. Laras memembersihkannya dengan punggung tangannya disertai dengan tangisannya yang tertahan.

Laras bisa saja membalas semua perkataan Albrian tadi dengan semua hal yang dia lakukan untuknya tapi dia enggan. Bukankah cinta tentang rasa tulus dan tanpa pamrih? She did everything she could for Albrian simply because she loves him.

Albrian menyentuh layar handphone-nya berulang kali menantikan balasan pesan dari Laras yang sudah seminggu mendiamkannya.

Albrian sudah mengakui kesalahannya melalui whatsapp.

Dia juga sudah meminta maaf, tapi kenapa Laras masih belum juga berniat merespon pesannya?

Sampai kapan dia harus menunggu amarah kekasihnya mereda? nggak mungkin Laras memutuskan hubungan dengannya hanya karena masalah sepele tadi kan?

"Samperin aja udah.." Celetuk Jeremy di balik meja bar-nya.

"Terus gue ngapain ke rumahnya? melongo doang?"

"Ngapain kek bawain bunga, goyard atau apaan yang manis-manis. Dia kan suka manis-manis tuh." Seketika Albrian ingat perkataannya beberapa hari yang lalu. Setan macam apa yang sempat merasukinya hingga membuatnya berbicara kotor seperti itu. Di tengah penyesalannya, mata Albrian memicing ke arah Jeremy yang sejak tadi memperhatikannya, "Darimana lo tau dia suka makanan manis?"

Raut wajah Jeremy mengkerut heran, "Dia suka liatin gue kan? kan gue manis." Kepalanya langsung terdorong ke belakang karena tangan Albrian yang mendorong dahinya.

"Lagian tumben lo kumat. Depan cewe lo lagi hahaha….. ha.." Jeremy menghentikan tawanya saat Albrian menatap tajam ke arahnya. Jeremy berdehem memecah canggung di antara keduanya, "Emosi tuh wajar yan. Yang gak wajar kalau lo nyakitin orang saat lo emosi. You know words hurt more than a bullet."

Albrian terdiam. Tangannya kembali menyentuh layar ponselnya. Kali ini dia berniat untuk mengirimkan lagi pesan kepada Laras.

"Iya gue tau…"

"Dih gampang amat lo ngakunya. Tumben."

"Dia benci sama gue nggak ya jer? will she see me differently after this?"

"Ya… mana gue tau. Orang kek dia mah dendam sih kaga ya yan, cuma yang lo lupain… the wound will heal but the pain lingers." Kata-kata Jeremy tidak menolong sama sekali, bahkan membuatnya makin pesimis. Albrian makin frustasi merutuki tingkahnya tempo hari. Dia nggak takut kalau Laras tiba-tiba datang kepadanya dan mengeluarkan emosinya, yang dia takutkan hanya tingkah lakunya yang mungkin membuat luka dalam hati kekasihnya.

"Lah…" Suara seorang perempuan mengusik telinganya. Albrian menoleh untuk melihat siapa orang yang bersuara barusan. He knows this girl. She's one of Larasanti closest friends.

"Mana temen gue?" Albrian mengerutkan dahinya. Dia tau mungkin perempuan di depannya ini hanya basa-basi tapi bukan berarti dia bisa seenaknya menyapanya.

Technically, they're strangers without Larasanti around.

"Di rumah." Jawab Albrian asal.

"Oh…. pantes ngajakin pergi weekend ini."

"Kemana?" Tanya Albrian spontan. Kepalanya langsung mendongak tegak.

Tya mengedikkan bahunya. Dia hendak menyudahi basa-basinya begitu saja tapi tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di otaknya, "Kalian kapan pergi ke Bali sih? awal taun ya?" Albrian tak menanggapi pertanyaan Tya barusan dan kembali berbalik memunggunginya. Sedangkan Jeremy memperhatikkan interaksi keduanya antusias.

"Oh… nggak jadi ya? padahal udah ribut mau minjem nama gue buat jadi alesan tuh. Mau beneran dibayarin lagi tiket pesawatnya.. hahaha dikira cuti gue murah apa sama dia." Albrian nggak begitu memperhatikkan celotehan Tya setelahnya, yang dia tangkap hanya Laras yang berusaha memakai nama temannya untuk jadi alasannya ke Bali.

Lagi, Langkah Tya harus terhenti saat Albrian menegurnya, "Emang dia ngomong apa?"

"Biasa… just like what she did kalo nginep tempat lo kan…"

"Maksudnya?"

"Anying… cakep-cakep bloon." Tya memutar bola matanya malas, "Katanya sih dia lagi nyoba ijin ke om anggoro biar dibolehin pergi sama lo itu. Sampe rela ke solo beberapa hari tuh katanya buat nyenengin bapaknya. Last straw kalau masih nggak dibolehin baru pake nama gue sama Valerie."

Tubuh Albrian kaku. Otaknya langsung mereka-ulang kejadian beberapa hari lalu saat dirinya membentak Laras dengan kata-kata tak pantas. Meskipun dia nggak terlalu percaya teman Laras yang satu ini, tapi tiap detail penjelasannya menggambarkan jelas hal tersebut adalah sesuatu yang akan dilakukan oleh Larasanti.

"Malah bengong.. kabarin aja kalau mau ke Bali. Gue juga mau kali liburan." Tya melenggang dari tempat duduk Albrian dan menghampiri seorang yang sudah duduk menunggunya di resto & bar milik Jeremy.

Tya hanya berniat ingin basa-basi menyapa Albrian. Toh, mereka juga sudah beberapa kali bertemu. Apalagi Albrian juga tau kalau Tya merupakan sahabat terdekat Laras. Namun dia merutuki keputusannya tadi. Kenapa tingkahnya seolah Tya adalah cewek random gak jelas yang sengaja mendekatinya?

"Yah udah punya cowok ya temennya Laras yang itu yan." Gerutu Jeremy.

Albrian tak menyahut. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya yang tipis dengan jemarinya yang serius mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.

"Cewe lo ternyata diem-diem lucu juga ya. Strict parents sampe pergi sama cowonya ke Bali harus minta ijin segitunya." Jeremy terkekeh geli menanggapi percakapan teman Laras dan Albrian barusan.

"Tapi kalau cowonya lo sih gue jadi bapaknya juga bakal nggak ngebolehin hahahaha…" Sambung Jeremy.

"Kok sendirian?" Om Anggoro melihat ke arah pintu rumahnya, menanti anak perempuannya yang beberapa jam yang lalu pamit keluar."Adlina mana?" Tanya Om Anggoro lagi. Albrian yang datang ke rumahnya hanya bermodal nekat menunjukkan raut kebingungannya — tak tau harus menjawab apa.

"Emang kemana om adlina?" Om Anggoro mengerutkan alisnya. Bukankah pacar anaknya ini yang harusnya lebih tau kemana Laras pergi.

"Kirain tadi pergi sama kamu." Om Anggoro merogoh saku di celananya, mencari ponselnya. Karena tak menemukannya disana, Om Anggoro melenggang ke ruang kerjanya sedangkan Albrian mendudukkan dirinya di sofa tanpa disuruh. Tak hanya Om Anggoro yang sibuk mencari ponselnya, Albrian juga berkali-kali mengecek ponselnya menanti balasan pesan dari Laras.

Om Anggoro berjalan menghampirinya ke ruang tamu dengan ponsel menempel di telinganya. Suasana rumah yang hening membuat suara sambungan telfon di ponsel Om Anggoro terdengar jelas oleh Albrian.

"Sampai mana dek?"

"Di luar mau hujan. Nanti ayah bawain payung kalau udah sampai di depan rumah."

"Iya."

Om Anggoro melihat Albrian dengan ekspresi kesal, "Kok bisa adlina nggak sama kamu?"

"Emang gak bilang om."

"Kamu nggak ada inisiatif buat jemput dia?"

Albrian diam. Nggak mungkin dia menceritakan bahwa pesannya tak berbalas seminggu terakhir.

"Bukannya dia mau ambil kacamata kamu?" Om Anggoro mengucapkannya dengan nada ketus, "Dua puluh lima tahun om gedein dia aja belum pernah dikasih yang namanya kacamata buat baca."

Albrian makin bingung. Buat apa Laras membelikannya kacamata dan bagaimana dia nggak tau sama sekali? Sorot mata Albrian menatap Om Anggoro penasaran. Suhu badannya mulai naik karena gugup.

"Sariawan kamu?! dari tadi diem aja?"

"Belinya dimana om?"

"Mana saya tau. Jadi.. dia nggak ngasih tau kamu?"

Yang Albrian ingat hanya Larasanti yang menyarankan dirinya segera mengganti kacamatanya karena patah tertindih olehnya. Sebenarnya Albrian nggak begitu butuh kacamata. Dia masih bisa membaca dan melihat dengan cukup jelas, Walaupun terkadang matanya harus bekerja lebih ekstra tanpa kacamata saat dirinya lelah.

"Beberapa kali nanya sama om frame yang cocok yang cocok buat mata kamu. Emang kamu selama ini minus?"

"Iya. Dikit."

"Oh. Kirain buat gaya-gayaan."

Suara samar dentingan pintu gerbang dari luar membuat Om Anggoro langsung bangkit dari tempat duduknya, "Udah dibilangin disuruh nelfon aja kalau sampe rumah."

Om anggoro mengambil satu payung yang diletakkan di dekat pintu rumahnya. Albrian buru-buru menyusul Om Anggoro dan mengambil alih payungnya dari tangan Om Anggoro, "Biar aku aja om."

"Nih.."

Om Anggoro memperhatikan Albrian yang berjalan menerobos rintikan hujan menuju gerbang rumahnya yang sudah terbuka. Saat melihat anak perempuannya pulang dengan keadaan sama seperti saat dia pergi, Om Anggoro berbalik meninggalkan mereka di luar berdua.

Albrian memayungi Larasanti agar terhindar dari rintik hujan. Laras belum sadar sosok yang memayunginya karena dia masih sibuk menutup pagar rumahnya sampai sebuah suara membuyarkan keheningannya, "Emang nggak punya kuota sampe nggak bisa bales chat pacarnya?"

Laras sedikit berjengit saat mendengar suara yang sudah begitu familiar menggema di telinganya. Fokusnya beralih menatap seorang laki-laki yang memayunginya. Seketika indera penciumannya bekerja mengenali wangi di tubuh manusia di sampingnya ini.

"Kalau cuma bisa marah-marah mending pulang aja." Laras menjawab Albrian ketus. Sedangkan Albrian melirik paperbag di tangan Laras.

"Sorry.."

"Buat?"

"Aku udah keterlaluan minggu lalu. Maaf ya…"

Laras diam dan tak ada niatan untuk membalas permintaan maaf Albrian.

"Aku salah.. kemarin aku lagi nggak waras. Maaf ya…. sayang.." Albrian meraih pergelangan tangan Laras dan berusaha menggenggamnya.

"Kamu minta maaf karena ngerasa bersalah udah ngomong kayak gitu atau minta maaf karena perbuatan kamu kemarin salah?@

'What's the difference?' Batin Albrian. Dia nggak mungkin mengutarakannya langsung atau pertengakaran mereka akan terulang.

"I did wrong. Aku salah. Aku nyakitin kamu. Aku minta maaf…. ya? aku bahkan nggak bisa tidur dengan tenang seminggu ke belakang karena mikirin kamu. I won't do that again. I promise."

Laras masih diam. Kata-kata Albrian masih terekam jelas di otaknya. Bukan berarti dia dendam dengan kekasihnya sendiri, dia mungkin butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang tak sengaja digoreskan oleh Albrian.

"Kamu boleh marah balik sesuka kamu. Just hit me if it makes you feel better. Asal jangan diemin aku kayak gini. Ya?"

Laras menghembuskan napas beratnya. Suara berisik tetesan hujan sudah mulai berjatuhan di atas payungnya.

"Udah mau hujan…."

"Raaaaassss…" Rengek Albrian.

"Iya… Kamu mau berdiri kayak gini terus?" Albrian menggeleng. Ekspresinya masih terlihat sendu menanti jawaban atas permintaan maafnya tadi.

Albrian terhenyak saat sebelah tangannya digenggam oleh Laras hingga membuat badannya terseret mengikuti langkah perempuan di depannya.

"Yang di dalem paper bag buat aku?"

"Nggak."

"Terus?"

"Bisa diem nggak?"

"Nggak. Aku kangen denger suara kamu." Laras hampir tersandung kakinya sendiri mendengarnya. Sebisa mungkin dia menyembunyikan senyum salah tingkahnya yang refleks terangkat saat mendengar gombalan Albrian barusan.

"Kamu udah nggak marah?"

"Masih."

"Jangan marah. I'll treat you the most delicious dessert ever."

Laras tersenyum miris. Seminggu yang lalu bahkan mereka masih mendebatkan siapa yang paling banyak berkorban di antara hubungan mereka. Ucapan Albrian barusan lebih terasa seperti garam di atas luka dibanding sogokan manis.

what albrian doesn't know, his words left unhealed scar on Laras' heart.