Sedekat Satu Dunia Sejauh Satu Bahu

Kami berdiri di dunia yang sama, tapi semesta selalu menempatkan kami satu langkah terlalu jauh, satu detik terlalu lambat, atau satu baris terlalu ke kiri.

Tiga pertemuan—tiga langit berbeda. Kadang dia di belakang, kadang di depan, kadang di samping, tapi tak pernah benar-benar menghadap.

Sampai hari itu. Hari saat lengannya nyaris menyentuhku, dan suaranya ikut masuk ke dalam ceritaku. Bukan kisah besar, hanya gerak kecil seperti tolehan ke atas, dan tatapan yang kebetulan beradu. Tapi itu cukup untuk membuat waktu berhenti sebentar.

dia tertawa, dan hatiku seperti ikut jatuh dari tempat tinggi, tanpa sempat melompat.

Di antara suara ramai dan kamera yang tak henti memotret, aku menyimpan diam yang nyaring: aku ingin memegang pundaknya, tapi yang kupegang hanya udara yang tak sempat jadi keberanian.

Lalu datang malam terakhir. Kami duduk sejajar, berbagi punggung pada jendela, dan pandangan pada langit yang sama. Dia bicara, bertanya, menjawab. Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti halaman yang ia buka, bukan hanya lewat.

Dia pintar, bukan yang suka pamer, tapi yang membuatmu ingin bertanya lebih banyak, hanya agar bisa mendengar dia menjelaskan dunia.

Tapi dunia tetap tak berpihak. Dari sudut mata, aku menangkap senyuman yang bukan untukku. Ada cara ia berdiri di samping seseorang lain— bukan dengan sengaja, tapi cukup alami untuk menyakitiku. Dan tawa-tawa di sekitar kami, terasa seperti gema asing dari naskah yang tak kutulis.

Katanya dia biarkan semua mengalir. Tapi aku ingin jadi bendungan kecil, yang cukup tenang untuk membuatnya berhenti sejenak dan berkata:

"Ah, ternyata di sini hangat juga."