Bahagia itu pilihan. Tepatnya, kita bisa bahagai apabila kita memilih. Tapi, kondisi-kondisi yang sudah diwajarkan, membuat kita merasa bahagia saat di mana kita berduka, tidaklah cocok. Rumit memahami ini, karena semua rasanya seperti semula. Akan aneh dan menjadi unik kalau tiba-tiba.
Tapi, serius. Jika kita memilih bahagia, maka segala duka itu bisa hilang. Mungkin sementara, tapi bisa juga kita memilih bahagia selamanya. Dan, apakah sudah tulisan ini seperti membisikkan kebohongan?
Pilihan, pilihan, dan pilihan.
Mengapa kita perlu memilih dan memutuskan, barangkali seperti inilah yang sering terbesit di kepala. Pertanyaan yang berujung kepada kenapa dan buat apa.
Tapi, sekalinya bertemu momen yang menyenangkan, maka berbahagialah. Banyak glorifikasi, momen ini sedih, momen itu mengecewakan, yang kita bersama sepakati. Pun, oleh karena perbedaan ekspektasi dengan realita. Tapi, kalau bahasan yang ini nampaknya dapat melebar kemana-mana.
Terpenting, mulai dari bersyukur akan hal kecil, saya rasa da[at memberikan kita kebahagiaan meski hanya sebercak.
Mungkin, ketika kita mendengar bahwa kita mesti berusaha agar mendapat hasil yang bagus, membuat kita seketika menyimpulkan jikalau hasilnya buruk, maka usahanya juga demikian. Saat itu juga kita tidak bahagia. Nada dan nuansa ini ialah mengecewakan. Jadi, bahagia tidak masuk daftar pilihan.
Yang mestinya diwajarkan adalah kegagalannya, tapi dengan limitasi tertentu. Di dunia dengan manusia lainnya yang melimpah ruah, dengan milyaran kepala yang semua arah tujunya berbeda-beda, maklumi dan anggap hal yang normal merupakan pilihan juga.