Pada malam itu, bintang-bintang telah jatuh Dia datang, seperti hangat yang menusuk cakrawala Aku berdiri di depan pintu, berharap secercah pijar itu hadir "Gelapnya malam bukan petaka," katanya.
Waktu berdenyut, tidak menunggu siapa yang akan hanyut Mimpi indah itu, barangkali hanyalah mimpi di depan pintu Tapi aku takut padanya, Takut ia lumat dikunyah oleh waktu.
Sensasi yang menggetarkan darah itu, Apakah sebuah pertanda? atau hanya fatamorgana? Barangkali itu pertanda, aku masih ingin menggapainya. Pertanda bagi siapa yang mampu melihat, Petaka bagi jiwa yang terkurung sekat.
Lagi-lagi, mimpi tak sekedar bertamu pada malam Ia hadir pada mereka yang percaya. Mimpi-mimpi itu nyata, Dan di ambang batas, satu ketukan akan membukanya.
T. F. Ridha — 31–12–2025