Kepadanya yang selalu terjaga, semoga Allah senantiasa menaungi setiap langkahnya dengan cahaya yang lembut, menjaga hatinya tetap jernih di tengah dunia yang riuh, dan menguatkan imannya di setiap persimpangan. Semoga setiap doa yang ia bisikkan di sepertiga malam diangkat tanpa terlewat, setiap niat baiknya ditumbuhkan menjadi kebaikan yang berlipat. Dan jika bahagianya tidak tertulis di samping namaku, semoga tetap diberi kebahagiaan yang utuh, yang menenangkan, yang menetap, yang membawanya semakin dekat pada-Nya.

Ada rasa yang tumbuh tanpa suara, tanpa pernah sampai pada telinga yang dituju. Ia tidak meminta untuk segera diketahui, tidak juga mendesak untuk diberi nama. Ia hanya ada—tenang, konsisten, seperti langkah yang dijaga arahnya. Yang membuatnya bertahan bukan sekadar debar, melainkan keyakinan pada pribadi yang baik, yang sikapnya teduh, yang kehadirannya membawa damai tanpa perlu banyak kata. Dan untuk sesuatu yang seperti itu, waktu tidak terasa sebagai ancaman. Jika harus lama, biarlah. Jika harus tetap dalam diam, tak mengapa. Karena ketika hati sudah tahu nilainya, menunggu bukan lagi beban, hanya bentuk lain dari menghargai.

Bukan karena tak berani mengungkapkan, melainkan karena tak ingin merusak ketenangan yang sudah ada. Ada hal-hal yang terasa lebih indah ketika dijaga dalam sunyi, ketika dibiarkan tumbuh tanpa tekanan dan tanpa tuntutan. Rasa itu tidak berusaha memiliki, hanya berusaha tetap tulus. Ia percaya, jika memang ditakdirkan bertemu di waktu yang sama, jalan akan terbuka dengan sendirinya. Dan jika belum, bersabar pun tetap terasa cukup, karena yang dijaga bukan sekadar harapan, melainkan keyakinan pada kebaikan yang tak pernah salah arah.

Dan pada akhirnya, rasa ini belajar untuk ikhlas. Jika suatu hari ia tahu, lalu tetap melangkah ke arah yang bukan menuju sini, tidak apa-apa. Tidak semua yang dijaga harus dimiliki, tidak semua yang ditunggu harus berakhir bersama. Mengagumi kebaikannya sudah menjadi hal yang cukup indah untuk disyukuri. Karena mencintai dengan tulus berarti juga siap menerima kemungkinan yang tidak sesuai harapan—tanpa marah, tanpa menyalahkan waktu. Jika bahagianya ada di tempat lain, maka merelakan adalah bentuk paling dewasa dari mencintai.

Yang terkasih, Welina.