Aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang tidak begitu empuk. Cukup, untuk beristirahat dari semua hiruk pikuk keseharian ku. Hari ini aku pulang dengan membawa tentengan yang cukup berat dari pada hari-hari biasanya. Menikmati sepinya jalan layang pasopati. Sesekali aku mengintip ke bawah, melihat kendaraan berlalu lalang dengan tujuannya masing-masing.

Sekejap saja, beberapa bait lagu terlantun di otak ku.

Ada titik-titik di ujung doa-doa

Keselamatan penutup malam

Kuisi dengan namamu

Kucoba memaafkanmu selalu

Kalau disitu ada salahku

Maafkanku juga

Begitulah lirik yang terlantun dan terus terulang di otak ku. Aku berpikir, kenapa akhir-akhir ini aku merasa mellow?

Sesampainya di rumah, ayah ku masih terjaga. Tentunya aku menyapa dan melontarkan salam sambil mencium tangannya. Aku masuk ke kamar dan… mata ku terpaku pada foto-foto yang sengaja aku pajang di lemari baju ku.

Lagu itu… terputar lagi di otak ku.

Semua momen kebersamaan dipajang oleh ku. Aku dan orang-orang terkasih yang pernah hadir di kehidupan ku. Mata ku tertuju pada foto yang letaknya di pojok kiri, atas. Terpampang jelas wajah ayah dan ibu. Dengan senyum ayah yang secukupnya (dasar lelaki nonchalant) dan senyum ibu ku yang lebar juga manis (dasar ibu-ibu narsis).

Seketika, aku mengucapkan kata terima kasih. Dan doa ku terlantun "semoga, kalian sehat selalu dan selalu berlapang dada atas semua hiruk pikuk kehidupan ini."

Rasa sayang ku menggebu-gebu.

Mengingat semua rasa yang telah dilalui bersama. Semua upaya penerimaan sudah dilalui bersama. Seribu kata maaf selalu terlontar.

Betapa hebatnya ayah dan ibu mendidik anak-anaknya. Tegar dan sabar. Terkadang, ada rasa kesal dan pikiran-pikiran yang tidak sejalan. Ada perasaan tidak terima atas beberapa perlakuan mereka. Namun, ini pertama dan terakhir kalinya mereka menjadi orang tua. Mereka pun belajar. Terima kasih, sudah belajar menjadi orang tua yang baik.

Aku tau. Semakin bertambahnya usia ku, semakin sedikit waktu interaksi. Dan hal yang paling sedih adalah… usia ayah dan ibu pun bertambah. Lagi-lagi… sehat-sehat yaa, ayah, ibu. Doakan anak mu ini bisa membahagiakan kalian, kelak. Menjadi anak berbakti yang bisa membanggakan kalian.

Meskipun aku diam, senang rasanya bisa melihat kalian bertengkar seperti anak kecil. Saling mengejek satu sama lain "Bubun(ibu) besar" dan "Ayah gendut". Kadang membuat kepala ku pening. Namun, lucu dan seru. Menyimak segala omongan "julit", jokes ibu-ibu dan bapak-bapak yang freak, dan keluhan kalian, membuat dunia ku terasa hidup.

Meskipun aku diam, sedih rasanya ketika melihat kadang kala dunia tidak adil untuk kalian. Ingin aku lahap satu persatu orang yang menyakiti kalian.

Meskipun aku diam, lega rasanya ketika kalian bisa bercerita panjang lebar dan menumpahkan segala keluh-kesah kalian kepada kita (aku dan adek). Kalau ada apa-apa, cerita yaa. Jangan di pendem sendiri.

Beribu kata maaf dan makasih selalu terlontar. Aku pun yakin, doa kami akan selalu terikat. Semoga kita bisa menjalani semuanya bersama.

Maaf, anak mu ini selalu menyebalkan dan terkadang membuat kalian kesal.

"Kalau disitu ada salah ku, maafkan ku juga"

Ketegaran dan kesabaran kalian, memang seluas samudra.

Aku, beruntung terlahir menjadi anak ayah dan ibu. Jika ada kehidupan kedua, aku ingin menjadi anak kalian lagi.