Pepper and Lunch
Ghinaya gak pernah peduli soal cinta.
Cinta emang apaan, sih? Kayaknya sampai tua gue juga gak akan ketemu sama definisi paling mutakhir tentang cinta.
Ini sebetulnya apa, ya? Lebih condong ke 'pasrah' daripada 'menemukan'. Pokoknya, jangan pernah tanya Ghinaya tentang percintaan dalam hidupnya. Walaupun dia sering jadi dokter cinta atau mak comblang temen-temennya, tetap aja gak bisa. Percintaan adalah urutan kesekian dalam prioritas hidupnya.
Tapi seenggaknya untuk hari ini, Ghinaya masih bisa menemukan apa yang dia 'cintai' setengah mati, selain crush SMP-nya yang wibu itu. Ini bukan sesosok apa lagi sewujud, tapi sepiring,
Pepper Lunch.
Pepper Lunch yang cuman bisa dia beli kalau di awal bulan. Kalau akhir bulan, biasanya dia puas-puasin makan teriyaki di Hokben.
Menurut Ghinaya, Pepper Lunch itu ibarat semua duka lara di hatinya yang di jadikan sepiring daging enak yang akan ia aduk-aduk bersama nasi panas di atas hotplate yang membara.
Semua kesedihan, kecemasan, kegilaan hari itu seakan luruh bersamaan sesuap daging penuh bumbu yang menjarah lidah Ghinaya.
This is what it feels like to be 'loved' and 'loving' a certain thing.
"Ghi, cinta gak perlu ribet. Yang bikin ribet itu dari diri lo sendiri."