Aku tidak tahu apa yang akan aku tuliskan kali ini, jadi aku hanya akan menulis yang ada di kepalaku saja. Aku harap tulisanku kali ini tidak memberi energi buruk kepada siapapun. Mohon maaf, aku hanya ingin menuangkan isi hati saja yang hampir meledak. Sekali lagi, aku tidak pandai menuangkan dalam kata-kata. Oleh sebab itu, jangan berharap tulisan ini akan bagus. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca curahan hatiku ini. Aku berharap segala yang terbaik untuk kalian!

Kemarin aku menerima tawaran kawanku untuk menjadi pemandu acara di comeback pamerannya sebagai kurator. Pameran tersebut bertajuk "Hari Ini Aku Kembali Pulang," dengan artisnya adalah Kak Dayu Sartika. Ini merupakan pengalaman pertamaku menjadi pemandu acara di pameran seni. Bagi kawanku, Kak Sekar, terima kasih atas tawaran dan pengalaman yang luar biasanya.

Aku tertegun sejenak ketika diajak untuk menjawab sebuah pertanyaan di selembar kertas. Pertanyaan tersebut adalah "Menurut kalian, apa itu pulang?" Satu hal yang terlintas di benakku adalah penggalan lagu berjudul Home dari Edith Whiskers. Penggalan dari chorus, kurang lebih berbunyi seperti ini "Home is whereever I'm with you." Dan kasihkulah yang terlintas ketika penggalan lirik itu berbunyi di benakku.

Aku terdiam sejenak. Mungkinkah aku bisa pulang jika rasa hampir kehilangan masih menyelimuti hatiku. Aku membuka gawai yang sedari tadi menempel di genggamanku. Tidak ada notifikasi dari kasihku. Namun, lugas aku tetap menulis, home is whereever I'm with you. Kasihku, dia tetap adalah rumah bagiku, tempat ternyaman untuk pulang. Ketika lelah menyapa, bercengkerama dengannya adalah obat penenang.

Namun, bagaimana jika hangatnya ketenangan itu kurasakan perlahan sirna dalam satu malam? Ini salahku, kutekankan sedari awal. Percakapan yang berangsur dingin, jarak yang semakin menjauh, dan panggilan suara yang tak lagi menjadi peraduan rindu. Pertanyaan silih berganti mengaliri kepalaku. Aku menyusuri ruang hampa di sepanjang riuhnya jalanan Kuta selepas pameran itu. Melajukan sepeda motorku setelah berdiam sebentar mencari jawaban dari kasihku. Derasnya air mataku dan paraunya isak tangisku dapat terdengar oleh telingaku. Rupanya aku masih lebih tertarik membuka gawaiku dengan harapan kasihku menberikan balasan daripada melihat lampu merah yang menjemukan. Baru kali ini aku berharap lampu merah bertahan lebih lama. Harapan bahwa jika saja aku dapat mengulang waktu, diri ini tidak memilih untuk berdusta — untuk alasan sekecil apapun.

Aku mendamba kasih dan cinta, aku pula yang melukainya. Jika nantinya kasihku meninggalkanku, mungkin saja aku akan menghukum diriku laiknya Sisipus mendorong batu tanpa henti. Hingga aku menulis ini, dadaku terasa sesak dilputi rasa bersalah. Bahwa aku mengenal kasihku, cintanya padaku akan menuntunnya untuk menaruh rasa khawatir dan rindu, kemudian gawaiku akan berbunyi karena ia menghubungiku. Namun, kasihku memilih terlelap dalam tidur meninggalkan sedikit pesanku yang terlewat olehnya. Sepanjang aku tahu, ia melakukan itu ketika hatinya terasa berat.

Kasihku sedang disambangi oleh rasa sakit dan lelah yang menggerayangi tubuhnya. Mungkin akibat cuaca yang tak dapat diprediksi, tapi seharusnya aku bisa menemani barang hanya mengecupnya dari layar gawai. Kuharap saat ini sinyal telepon sedang mengirimkan peluk hangatku, sayangnya harapanku meleset. Maafkan aku, kasihku.

Hingga kendaraanku menuju arah Jalan Imam Bonjol, aku masih mencoba merefleksikan jawaban dari pertanyaan yang memburu, "Bagaimana aku bisa pulang jika hampir kehilangan?" Mungkin saja benar bahwasannya perasaan kasihku padaku tiba-tiba memudar. Aku khawatir. Tidak ada pembenaran yang aku harapkan, aku hanya ingin menikmati sesaknya dada ini sembari detak jantungku semakin memburu. Aku dapat merasakan kebingunganku melanda. Perlahan tapi pasti, aku mengisi fragmen-fragmen kosong dalam kepalaku dengan harapan bahwa kasihku akan memberi cinta dengan hangat barang sebentar saja.

Katakan saja aku ini adalah semi tunawisma. Setidaknya ini perasaanku tengah malam ini. Aku merasa hampir kehilangan rumahku. Mengutip dari pameran seni oleh Kak Dayu Sartika, ia menuturkan bahwa pulang berarti kembali kepada diri sendiri, di tempat ternyaman, terdekat, dan menerima proses yang mewarnai. Bayangkan jika kasihku memlih pergi, akan ada kekosongan yang mendatangi dan rumah itu akan pergi — termasuk diri sendiri. Ia adalah bagian dariku, kasihku mengisi ruang hati dan telah ia penuhi diriku.

Hukum saja aku, aku tak apa. Namun, bolehlah segala maafku diterima. Jika setelah ini aku diam sejenak, itu bukan berarti aku tidak menaruh cinta pada kasihku, tetapi aku sedang mengurai rasa sesalku. Bukannya aku tak cinta pada kasihku, tetapi kepercayaan diriku gugur untuk sementara waktu. Rasa tidak pantas datang menggantikannya. Satu hal yang perlu kutegaskan, aku telah meluluh lantahkan egoku, ia tak lagi berarti dihadapan kasihku. Harapku hanya satu, masih ada tempat itu untukku di hatinya.