Aku mulai menyukai semua hal tentangmu, menyukai karya tulismu yang sebenarnya tidak aku pahami dan aku malu mengakuinya sebab aku takut dilihat sebagai orang yang tidak memahamimu.

Aku ingat tentang candaanmu yang sebenarnya tidak lucu, tapi ntah mengapa aku malah tersenyum. Bukan karena lucu, tapi karena aku ingin tertawa bersamamu. Bahkan mendengarkan musik berdua tentang band favoritmu, yang kini ternyata masih berada di playlist ku.

Mendengarkan cerita hari-harimu tentang kucing oren lucu yang kamu temui di jalan. Sialnya ketika giliranku kamu mulai mengantuk, tapi tak mengapa masih ada hari esok dan aku akan melakukannya untukmu.

Suara notifikasi ketika kamu mengirim pesan adalah suara favoritku, sampai aku membedakan suara notifikasi orang lain dengan milikmu agar aku tidak terlewat pesan apapun dikala sibuk. Akan kutunggu semua pesanmu walau sedikit lebih lama, tapi tak mengapa mungkin kamu ada urusan lain.

Bahkan perlahan mengubah cara pandangku hanya untuk bisa tetap sejalan denganmu. Anehnya, aku tidak merasa kehilangan apapun.

Awalnya hanya hal kecil—selera musik, cara melihat sesuatu. Tapi tanpa sadar, aku mulai mengalah pada hal-hal yang dulu kupikir penting.

Memang kamu tidak pernah memintaku. Tapi aku tetap melakukannya.

Mungkin ini akan berhasil, mungkin kamu akan lebih melihatku, mungkin kamu juga akan melakukanya. Sialnya aku salah. Beharap semua berubah sesuai yang aku inginkan.

Aku mulai menunggu lebih lama dari biasanya. Pesan yang dulu cepat dibalas, kini hanya dibaca—atau bahkan tidak sama sekali.

Sampai suatu hari, aku mulai merasa lelah dengan diriku sendiri. Aku mulai berpikir lebih banyak sebelum menjadi diriku sendiri. Mulai ragu apakah aku cukup—atau hanya sedang berusaha menjadi cukup.

Dan di titik itu, aku tidak lagi mencintaimu dengan tenang. Aku mencintaimu dengan cara yang membuatku kehilangan diriku sendiri tanpa sadar. Sampai akhirnya aku mengerti—masih ada di dalam diriku yang belum cukup.

Suatu malam, di tengah percakapan yang mulai terasa asing, kamu akhirnya mengatakan "Kamu sekarang mulai berubah yah." Terucap pertanyaan dari suara lembutmu yang ternyata masih aku kagumi. "Aku sudah tak tahan begini terus. Jika mulai berubah, itu memang berubah, kan? Lalu mengapa? "Akan kulakukan yang terbaik, tapi sekarang bukan berarti untukmu." Jawab ku.

Aku masih ingat setelah percakapan itu kamu mulai peduli—menanyakan hal-hal yang dulu tidak pernah kamu tanyakan. Tapi anehnya, saat itu aku sudah terlalu lelah untuk menjawab.

Akhirnya kamu mulai sadar ternyata aku sudah benar-benar pergi. Mungkin kamu hanya ingin didengar, mungkin kamu hanya ingin perhatian—bukan cinta. Aku tidak bisa menyelamatkanmu lagi.

Di sore hari—bangku taman kota tempat kita terakhir kali bertemu dengan cuaca mendung seolah olah langit merestui kita. Aku bertanya kenapa kita rela mempertahankan cerita ini, walau harus ada yang dikorbankan.

Mengubah diri untuk orang lain, memaksa hal yang tidak kita suka, memberi semua hal untuk cerita yang tidak layak diperjuangkan, dan kita menyebutnya sebagai "cinta".

None