Saya pernah membaca buku tentang semiotika, yang saya ambil paksa di sekret lembaga mahasiswa, lupa judulnya apa. Meski cuma separuh karena kepala saya mendadak penuh. Ada simbol, makna, tanda dan angka-angka. Tapi satu hal tertinggal di kepala: Benda tak pernah hanya sekadar benda. Ia tak sepolos itu. Ia bisa jadi simbol.

Seperti pagar, misalnya…

Benda itu memang lebih sering diam, dan bergerak di waktu-waktu tertentu saja. Tapi dia berdiri dengan sangat percaya diri. Maksud saya, seolah dia paham betul akan tugasnya: membatasi. Darinya, dia menentukan siapa yang boleh masuk dan siapa yang sebaiknya menjauh. Dia memang tidak cerewet, malahan kadang berdecit, tapi keberadaannya bilang "Dilarang masuk!"

Terkadang warnanya merah, kadang kuning, kelabu, merah muda, mungkin biru. Maksud saya, dia menarik. Dia bisa membatasi, membelah, memisah, tapi rupanya beragam, bisa pagar atau mungkin tembok sekalian. Dan dunia ini penuh sekali dengan hal-hal seperti itu. Jika sambung-menyambung mungkin akan mencapai surga, ataukah surga juga memiliki pagar dan temboknya sendiri? Entahlah.

Miliar-miliar, juta-juta, ratus-ratus sekian, tembok di dunia ini, ada beberapa dari mereka yang tampil menonjol. Mungkin kalian kira tembok cina? tidak, dia terlalu megah,yang membuat kita hanya fokus pada kemegahannya. Hingga lupa pada fokus utama. Yap! Tembok dan simbol fokus kita.

Sebagai pembuka, saya memilih Tembok Berlin. Bukan tanpa alasan, jika dilihat historisnya, setelah Perang Dunia ke-II, sayangnya Berlin juga terbagi dua. Barat yang didukung Amerika Serikat dan Timur yang dikontrol Uni Soviet.

Mulanya warga Berlin Timur, mulai banyak yang melarikan diri ke Barat karena berbagai alasan. Mulai dari kondisi ekonomi, sosial, politik, dan bisa saja perihal percintaan misalnya. Untuk menghentikan pelarian itu, Agustus 1961, Pemerintah Jerman Timur mulai membangun tembok. Iya! tembok. Tidak hanya sekadar tembok, benda dengan panjang 155 km itu, juga dilengkapi menara-menara pengawas, kawat berduri, dan orang-orang yang bersedih di baliknya.

Maksud saya, tembok itu bukan hanya sekadar tembok biasa. Hebatnya, dia bisa memisahkan keluarga, impian, hingga ideologi. Namun akhirnya, November 1989 (hampir 30 tahun), tembok itu runtuh, atau mungkin diruntuhkan. Maksud saya, betapa bodohnya tembok itu, dia ingin mencegah sebuah ide menyeberang, padahal ide itu licin (bos), dia bisa lewat mana saja.

Pagar panjang di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat juga tak mau kalah. Tak mau kalah bodoh pastinya. sebagian dibangun sejak 1990-an, lalu di-perluas pada era pertama Trump (Presiden Problematik AS saat ini). Bodohnya, karena negara yang katanya "liberty" malah masih mempertahankan pikiran kolot dari masa lalu. Bahkan setelah melihat betapa bodohnya Tembok Berlin di masa lalu.

Alasannya demi menghentikan imigran gelap. Selayaknya yang terjadi pada Tembok Berlin, imigrasi juga bukanlah air hujan. Dia muncul karena berbagai alasan. Entah itu ekonomi, konflik, atau hanya sekadar ingin hidup.

Pagar itu menjadi simbol, siapa yang boleh punya "american dream" dan siapa yang harus tetap bertahan di belakang kawat besi.

Lebih jahatnya lagi, pagar bodoh itu memberikan orang-orang harapan untuk melewati. Melalui celah-celah yang tetap ada di daerah-daerah yang berbahaya. Seperti sungai, tebing dan lainnya. Dengan alasan menuju hidup yang lebih baik, mungkin, jika berada di sana, saya juga akan tetap mencoba. Menggali lubang di bawahnya atau memanjat di atasnya. Dan sebagian besar dari mereka yang mencoba, berakhir gagal, terjebak, tenggelam atau mungkin ditangkap. Yap! Ditangkap dan dimasukkan ke dalam bentuk tembok lainnya.

Tembok penjara. Saya tidak tahu sejak kapan benda satu ini mulai eksis di dunia. Walau dia sedikit lebih jujur. Maksud saya, sedari awal dia lantang: Ini tempat hukuman. Tanpa pura-pura heroik, penjara menyelesaikan beberapa masalah. Tapitapi, akhir-akhir ini atau memang fungsi lainnya sedari awal, penjara juga berbicara tentang status sosial. Siapa yang masuk karena salah ketik, atau kritik, atau mungkin saja memperjuangkan ruang hidupnya, lingkungannya, mata pencariannya, dan siapa yang bisa bayar untuk keluar lebih awal. Ehh! btw Band Sukatani tak pernah lagi membawakan lagu Bayar 3x.

Tapi dari semua pagar atau tembok di dunia ini, yang paling ganjil-karena paling dekat-dan paling tidak penting tapi juga paling mengganggu adalah pagar antar fakultas di FEB-Unhas. Yap! di kampusku sendiri. Di tempat yang katanya penuh dengan ilmu dan wacana-wacana lintas disipliner. Tapi beberapa langkah saja bisa dibatasi pagar besi lengkap dengan rantai dan gembok.

Terus ke depan Ada portal. Belok ke kiri ada tembok. Belok ke kanan tembok lagi. Ah ke belakang saja, eh ternyata ada pagar lagi. Ke kantin sajalah, astagaa!!! pagar lagi. Ke sekretariat himpunan mahasiswa pun, jika dihitung dari lobi depan, totalnya ada 6 penghalang yang harus dilewati. Mungkin saya salah hitung. Tapi maksud saya, dua saja sudah aneh.

Lebih bodohnya lagi, pagar antar fakultas ini, muncul secara tiba-tiba, selayaknya renovasi sekretariat lembaga mahasiswa di FEB-Unhas beberapa waktu yang lalu. Tanpa adanya pengumuman dan tanpa adanya rapat dengar pendapat, dia berdiri kokoh.

Mahasiswa (saya) hanya bisa menerka: mungkinkah karena masa menjabat Dekan tak lagi lama dan render gedungnya yang tinggi menjulang itu tak bisa dia realisasikan? hingga pagar tolol itu menjadi pilihan? mungkin, mungkin saja.

Seperti halnya di lembaga birokratis lainnya, hal-hal absurd macam ini tidak perlu dijelaskan. Cukup ada. Dan walaa' kita semua akhirnya menyesuaikan. Kita semua pada akhirnya menerima. Memilih memutar jalan yang lebih jauh, dan tidak lagi bisa sekadar singgah di Fakultas Ilmu Budaya, untuk mendengarkan puisi indah mahasiswa sastra indonesia.

Beberapa dari kami (mahasiswa) yamg identik dengan sapaan "kupu-kupu" si kuliah-pulang mungkin tidak terganggu dan menganggap ini sebagai upaya keamanan.

"Toh, pagar-pagar itu tetap buka pada hari kuliah, dan baru ditutup kembali saat pukul enam sore"

Helooo, maksud saya, dirimu kira setelah maghrib tiba, mahasiswa menjadi makhluk gila yang tidak boleh ke fakultas sebelah? Blo'on

Kembali ke semiotika, pagar di kampus ini telah jauh melampaui fungsinya. Bukan lagi hanya sekadar pembatas ruang, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan. Bahkan di kampus yang katanya ruang bebas untuk bersuara dan berekspresi, mahasiswa tetap saja dibatasi. Karena sesungguhnya simbol paling dasar dari kekuasaan adalah hak untuk melarang.

Kenapa? kenapa kita tidak pernah belajar dari sejarah ratusan tahun yang lalu. Ahh resah…

Sebelum mengakhiri tulisan yang sama absurdnya ini, saya ingin terlebih dahulu meromantisasi — sebelum adanya pagar absurd itu. Pagi hari, parkir motor di FIB, karena jaraknya lebih dekat ke kantin dan sekretariat mahasiswa. Lalu masuk ke kelas, mampir ke kantin, lalu kembali masuk kelas. Setelahnya, sekitar jam lima sore, kami nongkrong di sastra. Di sana, seperti di pameran seni saja. Heran, sepertinya mahasiswa ilmu budaya-setidanya kebanyakan dari mereka adalah seniman. Beberapa membaca puisi, ada pula spasi (UKM kesenian), ada Sastra Gembira yang gemar berbagi kebahagiaan, Agil yang lihai melukis, ahh lengkap sudah.

Lalu kembali ke ekonomi, sembari berdiskusi tentang apa saja, tiba-tiba Satpam Rektorat datang, sedikit basa-basi lalu mereka pergi lagi. Lanjut main Domi, hingga tak terasa sudah berganti hari saja. Jika beruntung, terdapat proyektor untuk sekadar menonton film atau apalah. Setelahnya, Beberapa kembali ke rumah masing-masing, namun saya dan beberapa sekawan memilih nginap di kampus saja. Bangun, lalu kembali berkuliah sebagaimana mestinya. Dan begitulah seterusnya…

Tamat.