Sumber Foto: Pinterest.
Ada hari-hari ketika dunia terasa terlalu luas; seperti lorong tanpa ujung yang terus-menerus menarikku untuk berlari, mengejar, dan membuktikan diri. Langitnya terlalu tinggi, jalannya terlalu ramai, dan suara-suara di kepalaku terlalu gaduh untuk diabaikan. Seolah segalanya menuntut agar aku jadi lebih: lebih hebat, lebih cepat, lebih banyak, dan lebih kuat.
Dan aku, yang hanya manusia biasa, berkali-kali tergoda untuk mengiyakan semuanya.
Aku tumbuh dalam lintasan waktu yang gemar mengukur nilai manusia dari pencapaiannya. Dari seberapa jauh ia telah pergi, seberapa keras ia bekerja, dan seberapa sedikit ia beristirahat. Aku dibentuk oleh lingkungan yang menyamakan istirahat dengan kemunduran, dan kesederhanaan dengan kegagalan. Maka tak heran, jika di usia yang belum genap seperempat abad, dadaku sudah sesak oleh tuntutan dan bahu ini letih memikul ambisi yang bahkan bukan milikku sepenuhnya.
Tapi suatu malam, aku duduk diam sendirian. Tanpa layar, tanpa notifikasi, tanpa suara siapa-siapa. Hanya aku dan detak pelan hatiku sendiri. Dan di sana, dalam keheningan yang tidak kutakuti untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa aku tidak perlu sebesar dunia ini untuk bisa hidup dengan damai di dalamnya. Aku hanya perlu merasa cukup.
Cukup, bukan karena aku telah mencapai segalanya, tapi karena aku telah menerima bahwa tidak semua hal harus kukejar. Bahwa tidak semua validasi harus kudapatkan. Bahwa ada versi diriku yang berjalan pelan, tidak mencolok, tapi hidupnya tenang, dan itu juga sah.
Cukup, karena aku memilih mencintai prosesku sendiri. Karena aku tahu bahwa menyiram satu pohon kecil dengan cinta setiap hari lebih berarti daripada mencoba menumbuhkan hutan dalam semalam. Bahwa merawat satu persahabatan yang tulus lebih hangat daripada ribuan koneksi kosong di dunia maya.
Cukup, karena aku mengizinkan diriku berhenti, tanpa merasa kalah.
Aku belajar bahwa; kadang yang dibutuhkan bukan dorongan untuk naik lebih tinggi, tapi pelukan yang berkata, "Kamu aman di sini. Kamu sudah cukup."
Dunia akan selalu besar, luas, dan tak terjangkau. Tapi di tengah semua itu, aku ingin jadi seseorang yang bisa melihat langit tanpa iri, yang bisa melangkah tanpa terburu-buru, dan yang bisa memeluk dirinya sendiri sambil berbisik:
"Kamu tidak harus jadi segalanya untuk merasa layak menjadi seseorang."
Di dunia yang besarnya tak terkira ini, aku ingin selalu merasa cukup di dalamnya. Cukup untuk hidup.
Cukup untuk bermimpi.
Cukup untuk mencintai, perlahan-lahan.
- Surabaya, 26 Juni 2025.