Merasa ingin membantu orang ternyata tidak selamanya baik. Empati pun bisa berada di posisi yang berbeda. Ini yang aku pelajari di usia 32 tahun menuju 33 tahun ini.

Sebelumnya aku sadar, aku adalah people pleaser. Aku bantu orang sana-sini, aku mengikuti apa yang memang orang butuhkan dari aku tanpa memedulikan diriku sendiri. Namun selama aku memenuhi kebutuhan atau membantu orang lain aku hanya merasakan satu hal.

TAKUT.

Aku takut dibenci orang. Aku takut diomongin orang. Aku takut dikira orang jahat.

Karena ketakutan itulah aku mulai mengatakan "iya" untuk semua, apapun yang orang memang butuhkan. Bahkan dulu lebih tepatnya saat aku di usia 20-an aku tahu persis kalau aku tidak nyaman melakukan permintaan orang lain tapi buktinya aku seperti otomatis aja meng-iya-kan permintaan mereka disaat aku sebenarnya tidak mau. Aku sadar loh, dan aku mulai berpikir apa aku ini people pleaser ya bener? Tapi aku tetap melakukannya. Sampai di beberapa tahun belakangan, di akhir usia 20-an menuju 30 tahun ini aku mencoba untuk menghentikan sikap itu.

Tidak bisa langsung. Betul. Susah. Karena itu sudah jadi kebiasaan. Bahkan ada saatnya dimana aku memang tulus kok membantu orang, tapi orang lain ada yang merasa aku seperti terpaksa. Hal seperti itu justru membuatku mempertanyakan diri sendiri. Apa usahaku untuk lepas dari sikap people pleaser ini sia-sia? Kenapa ketulusanku seperti tidak terlihat? Apa aku memang terlalu sering meng-iya-kan membuat mereka juga jadi tidak yakin?

Nah, di usia 30 lah aku mulai makin mengabaikan semua pendapat orang (Walau lagi-lagi aku akan realistis, itu tidak mudah. Ada kalanya kok aku masih memikirkan pendapat atau omongan orang lain). Tapi setidaknya aku perlahan memperbesar porsi 'tidak peduli' dan memperbesar prinsip 'love myself'.

Pagi ini pun aku tiba-tiba sadar kalau akhir-akhir ini aku merasa saat membantu temanku atau orang sekitar perasaan takut seperti dulu itu sudah tidak ada. Aku seperti melakukan suatu hal karena aku ingin dan aku benar-benar empati ke orang lain. Lalu kalau ada yang meminta sesuatu dariku untuk kepentingannya namun aku merasa tidak nyaman, aku akan menolaknya. Dan aku merasa beneran lega setelah melakukannya.

Aku jadi penasaran juga, kalau ada istilah people pleaser, apakah ada istilah untuk sikap ketika kita membantu orang lain tanpa rasa takut bahkan tanpa rasa pamrih? Dan ternyata ada.

ALTRUISME.

Menurut KBBI:

altruisme/al·tru·is·me/ n 1 paham (sifat) lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain (kebalikan dari egoisme); 2 Antr sikap yang ada pada manusia, yang mungkin bersifat naluri berupa dorongan untuk berbuat jasa kepada manusia lain

Aku jadi berpikir ternyata selama ini aku ingin memiliki sikap ini. Aku ingin membantu orang lain tanpa memikirkan imbalan dan tanpa merasa takut.

Lalu apa aku sudah bersifat altruistik? Tentu belum. Aku masih dalam perjalanan. Masih dalam proses dan aku harap aku bisa memiliki sikap itu segera secara utuh. Setidaknya aku sudah mulai lepas sedikit demi sedikit dari kata people pleaser itu.

Semoga tulisan ini bisa dibaca teman-teman yang mungkin sudah mulai sadar kalau dirinya adalah people pleaser dan kini saatnya kita terapkan altruisme ini. Semangat!

Adios, XOXO Monika