Kelakar Kenangan Nadi — Anggian Egypt & Arlenggo Essa

Hari Sabtu tepat pukul 16.45 sore menjadi latar yang tenang saat mobil Papi mulai memasuki pekarangan dua rumah besar yang dibatasi pagar kecil di tengahnya. Tampak Bunda dan Ayah yang sudah menanti di depan pintu seberang melambaikan tangan tengah menyapa kehadiran Enggo yang tangannya penuh memegang barang bawaan.

"Mas Enggo! Syukur udah pulang kamu Nak, gimana sehat?" Bunda langsung saja menghampiri saat Enggo tersenyum manis tampilkan deretan gigi rapinya sebelum masuk ke dalam rumahnya sendiri.

"Sehat Ibun! Ibun gimana? Ayah juga sehat kan?"

Sesi basa-basi itu diakhiri dengan Bunda yang menyerukan jamuan makan malam sebagai rutinitas mingguan mereka, tetapi kali ini spesial karena Mami pun memang menyetujui untuk menjadikan ini sebagai sesuatu yang berbeda dari biasanya, Homecoming party katanya.

Maka kemudian kelima orang itu sudah duduk di meja makan rumah Mami, ditemani masakan yang telah disiapkan Bunda dan Ayah saat menunggu Enggo pulang dan beberapa lauk yang sempat diolah Mami sebelum pergi menjemput Enggo siang tadi.

"Tungguin Adek dulu ya, katanya udah deket kan Bun? Sekalian ini nasinya lupa Mami jeglegin euy!" Mami berujar antusias karena akhirnya Enggo dapat kembali bergabung di meja makan setelah sebulan lamanya.

"Adek sekarang sering ya belajar di luar gitu, Bun?" Enggo akhirnya buka suara setelah sebelumnya sibuk sendiri dengan handphone di genggaman.

"Iya Mas, diajakin sama Reiner sama Seina tuh mereka bertiga kan sekelas."

"Oh gitu.."

Setelahnya percakapan beralih pada bagaimana hari-hari Enggo melewati KKN —langsung jadi topik utama, beragam jenis pertanyaan dari keempat orang tuanya Enggo jawab dengan penuh ekspresi, buat meja makan dipenuhi gelak tawa akibat dramatisasi yang memang khas Enggo sekali.

Sampai akhirnya suara langkah kaki terdengar, membawa sosok Anggi yang langsung jadi pusat perhatian kelima orang lainnya di dalam ruang makan itu. "Eh Adek! Akhirnya sampai juga, sini Nak duduk kita langsung makan, pas banget udah masak nih nasinya." Bunda berdiri lalu mendorong Anggi untuk duduk berhadapan dengan Enggo di meja persegi berisikan enam kursi tersebut.

Yang selanjutnya terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu juga beberapa ujaran lucu khas Mami yang senang sekali menceritakan seluruh kesehariannya, kadangkala Anggi pun ditanya soal proses belajarnya dan disemogakan agar lancar semua urusan saat menghadapi ujian nanti.

Di sisi lain ada Enggo yang tak berhenti menatap Anggi yang masih saja menundukkan kepalanya dan seringkali mengacuhkan pandangan ketika mata keduanya tak sengaja berjumpa, mereka berdua duduk tepat berhadapan — sebagaimana mestinya, karena bahkan tempat duduk mereka berenam dalam tiap hidangan pun sudah memiliki ritme dan rasanya masing-masing, benar-benar pancarkan kehangatan keluarga yang sangat Enggo rindukan saat berada jauh dari rumah.

"Adek.." Enggo coba memanggil namun kalah dengan dentingan besi juga tukaran percakapan orang tua, "Adek Anggi.." Kini seperti dejavu karena Anggi baru berani menanamkan tatap pada panggilan kedua — persis dengan kejadian di posko beberapa minggu lalu. Setelah didapatinya atensi yang lebih muda, Enggo langsung gerakkan kepala juga matanya untuk melihat pintu di lantai atas sebagai kode yang langsung dimengerti Anggi berupa "Abis makan, langsung ikut Mas ke kamar di lantai dua."

Dan Anggi sepertinya sudah tidak bisa bersembunyi lagi, maka anggukan kepala ia beri sebelum kembali menatap kosong lauk pauk yang tersisa di atas piringnya.

"Udah semua ntong? Dessert mau kaga dessert? Mami bikin pudding kemaren tuh, Ade mau kan dessert, De?" Mami yang lebih dulu bangkit saat sudah dirasa kenyang, kembali menawarkan berbagai macam makanan–Mami memang dikenal senang berbagi santap dengan siapa saja.

"Iya nanti Mas makan Mi, ini masih kenyang banget, Mas ke kamar dulu ya, mau mandi bentar." Oke alasannya cukup masuk akal untuk kabur malam ini, tinggal menunggu apakah si Adek akan menepati janji atau malah kabur sekali lagi.

"Adek ikut Mas ke atas ya Mi, mau minta ajarin soal buat UTBK nanti." Hey Anggi, alasan jenis apa itu? Intinya Anggi sudah tidak ingin menggunakan otaknya terlalu lama untuk meramu alasan jadilah ia pun buru-buru bangkit dan meninggalkan keempat orang tua yang kembali sibuk dengan topik masing-masing.

Anggi perlahan membuka pintu kamar milik Enggo yang baru saja ia kunjungi 2 hari lalu saat si empunya sedang ia diami dan tengah berjauhan dengannya — memang ada ya orang yang sedang marahan tapi kamarnya tetap jadi akses bebas keluar masuk? Hanya ada dalam hubungan keduanya sepertinya.

"Ngomong sekarang. Gak ada kabur-kabur lagi, Mas dengerin sampai selesai." Bahkan Anggi tak sempat duduk, kini Enggo sudah berdiri di belakangnya dan menghadang satu-satunya akses pintu keluar setelah dengan cepat menguncinya — antisipasi agar si Adek benar-benar tidak bisa kabur.

Oke Anggi tenangkan dirimu – ujarnya dalam hati, lalu, "Adek salah udah marah." Jakunnya otomatis naik turun, padahal baru satu kalimat.

"Terus?" Enggo menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan alis yang juga ikut naik-turun sambil bersandar pada pintu dengan gaya slenge andalannya.

"Adek harusnya gak marah sampe ngediemin, soalnya Mas sakit itu musibah dan memang gabisa ditebak."

Hampir kekehan tawa lolos dari mulut Enggo tatkala melihat Anggi yang walaupun tinggal berdua saja di ruangan ini dengannya, si Adek masih simpan banyak takut — atau mungkin malu pada diri.

"Adek juga gak tau kenapa suka marah-marah kayak gitu padahal masalahnya sepele aja, nanti Adek belajar lagi regulasi emosi yang baik, soalnya Adek pengen bisa jadi orang yang jagain Mas bukan dijagain Mas terus."

"Kenapa emangnya kalau Mas yang jagain Adek? Salah ya?" Enggo akhirnya membalas dengan isi hatinya yang juga disimpan sejak pertukaran pesannya dengan Reiner — soal Anggi yang tak lagi ingin diberikan uang jajan olehnya.

"Ya gak salah, tapi Adek gak suka aja, jatohnya Adek kayak anak manja apa-apa harus diurusin sama Mas. Adek mau juga gantian…"

"Beneran ih Mas! Kenapa malah ketawa sih?!" Menyesal mengangkat kepalanya karena yang didapati adalah Enggo yang kali ini tengah tertawa tanpa suara sambil menutup mulutnya.

"Hahaha! Muka kamu tuh Dek, ih meles banget, jeleeek!" Enggo yang berbicara sambil tertawa pun kali ini berusaha mengatur nafasnya agar tak lagi hasilkan cemberut lebih dalam di wajah Anggi. "Mas gak marah lho kalau emang kamu pengen gantian urusin Mas, cuma caranya tuh gak begitu, Adek."

"Terus gimana caranya?"

"Caranya," ujaran Enggo menggantung, kemudian ia melangkah pelan meninggalkan pintu lalu menarik kursi belajar dan berjalan menuju kasur — usahanya memojokkan Anggi agar duduk di tepi tempat tidur itu. "Bukan kamu ngilang dan pura-pura ngerti sendirian."

Anggi yang terdorong begitu jauh dari depan pintu sampai akhirnya duduk manis sesuai rencana Enggo pun hanya mampu menelan ludah untuk entah yang keberapa kali.

"Kalau Adek capek, bilang capek. Kalau Adek kesel, bilang kesel. Mas ini Kakak kamu lho, Dek, You don't have to appear perfect in front of me. Lagipula kan semua jelek-jeleknya Adek udah Mas lihat dari kecil? Dan lagi, in order to protect someone else, you need to know how comfort feels like for yourself, jangan suka nyimpen semuanya sendiri." Sentuhan terakhirnya tertuju pada ujung hidung mancung milik si Adek, dicoleknya pelan lalu dibalas dengan kedipan mata kaget dari Anggi.

"Ish! Apaan sih!" Tangannya dengan cepat menyingkirkan milik Enggo dari bangirnya.

Enggo langsung terkekeh melihat respon si Adek barusan.

Anggi mengerjap kemudian melanjutkan kalimatnya, "Tapi Adek takut kalau ngomong banyak-banyak nanti malah jadi makin ribet, makanya Adek milih diem aja…"

Enggo mengangguk paham. "Iya, bisa jadi makin ribet, tapi kalau kamu justru diem sendirian bukannya sama aja? Yang ngebedain kan cuma Adek milih mau ribet sendiri apa milih buat ribet berdua sama Mas. Dan yang mau Mas bilang, Adek harus selalu libatin Mas, mau seribet apapun, oke gak???"

"Oke…" Anggi memainkan jarinya gugup saat tiba-tiba ditatap sangat dekat oleh Enggo, jarak keduanya hanya terhalang kaki masing-masing dengan Enggo yang mencondongkan badannya dari kursi belajar. Sambil berusaha mengalihkan pandangan, ia mulai berbicara lagi, "Adek waktu itu marah banget pas tahu Mas sakit, lebih marahnya lagi karena Adek jauh banget dari Mas Enggo, Adek ngerasa gak berguna karena gak bisa ada di sampingnya Mas..." lanjutnya kali ini mencoba menyelusupkan diri dalam pelukan Enggo — masa bodoh-lah, soalnya kemanapun matanya mengarah, Enggo akan selalu menangkapnya dalam adu tatap, maka ini adalah opsi terakhir.

Lalu ada Enggo yang otomatis membuka lebar tangannya — memperbolehkannya mencari nyaman dan masuk dalam pelukan. "Kamu ada kok, Anggi selalu ada buat Mas." Sesaat setelahnya tangan Enggo otomatis naik mengusap puncak kepala Anggi dengan sayang.

"Panggilnya Adek! Jangan Anggi!" ujar yang lebih muda, sambil menelusupkan kepalanya lebih dalam hingga kini menempel dengan dada yang lebih tua.

"Iyaaa! Ih marah-marah molooo. Adek selalu ada buat Mas." Tawa ringan keluar begitu saja dari mulut Enggo.

"Tapi kemarin tuh Ada-nya Adek kayak nyebelin kan pasti Mas? Jujur coba…" tanya Anggi dengan suara teredam yang sepertinya masih nyaman menghirup wangi tubuh belum mandi milik Enggo — yah tidak ada yang melarangnya juga sih.

"Sedikit, tapi kalau gak gitu bukan Adek namanya, jadi gapapa." Tangan Enggo kini beralih pada punggung yang lebih lebar namun sedang terlihat kecil dalam dekapannya.

"Hmm… maaf ya… Adek hari ini gak ikut jemput…" Anggi bergumam, masih sangat nyaman berada dalam pelukan Enggo.

"Udah paham banget Mas mah kalau kamu butuh waktu."

"Mas kenapa baik banget deh…"

"Ya karena Mas sayang…?"

"Adek juga sayang kalau gitu…"

"Kalau gak gitu???"

"Ya gak sayang…"

"Apasih… udah ah, lepas dulu Mas mau mandi, keringetan nih…"

Pelukan keduanya akhirnya terlepas, dan yang lebih muda langsung tertangkap sedang mengusap air matanya dengan cepat.

"IHHH ADEK NANGIS YA?"

"ENGGAK! MANA ADAAA! ADEK KELILIPAN DOANG."

"Ibuuuun Adek nangis nih, katanya makan malemnya kurang masih laper diaaaa!"

"EH! Mana ada, Adek enggak nangis karena itu!"

"Hahaha ketahuan, berarti beneran nangis `kan?"

"Enggak! Sana mandi ih kamu bau kambing tau Mas!"

"Woi ngawur! Ini bau hardworking man tau! Alias orang yang digadang-gadang bakalan punya ternak kambing di seluruh kecamatan sini."

"WOI NGAPA TU LU BEDUA TEREAK-TEREAK DI ATAS, SINI TURUN PUDDINGNYA UDAH MAMI SIAPIN NIH! NTONG! ADEEE!"

Keduanya saling pandang lalu berujar seirama tanpa sadar, "Iya Mami sabar, dikit lagi turun!"

Setelahnya hanya terdengar tawa tertahan, yang sepertinya butuh lebih sering dikeluarkan tanpa perlu proses rekonsilasi yang terlalu banyak menguras emosi pun perasaan tersembunyi seperti ini lagi.

Entah berapa hektar tanah dibutuhkan untuk menampung segala rencana membangun peternakan milik Enggo, jadi untuk kambing dan sapi hipotesa di masa kini, biarkan waktu yang mencarikan padang rumput pun kandangnya. Karena malam ini, masih harus fokus pada satu kandang berisi sayang yang masih belum jelas namanya dan sempat roboh dalam hati keduanya yang perlahan perlu dibangun kembali.