This month, I keep wondering and feeling less. Aku tahu kamu adalah orang yang diberkahi keberuntungan. Saat bersamamu, aku selalu merasa kamu akan menjadi seseorang yang sukses di masa depan — sambil diam-diam bertanya dalam kepalaku, apakah saat itu aku masih akan berada di sampingmu?

Aku pernah bilang ke kamu bahwa kamu adalah tipe orang yang ke mana pun pergi akan selalu disukai dan dikagumi. Waktu aku mengatakannya, kamu butuh validasi — penjelasan yang lebih jelas. Tapi aku tidak bisa memberikannya, karena aku takut kamu akan pergi.

Setelah kita berpisah, satu per satu mimpi yang dulu sering kamu ceritakan ke aku mulai terwujud: motor baru, naik Gunung Arjuna, kerja di Alfamart. Semuanya. Sekarang semua itu sudah ada di genggamanmu. Rasanya, kalau di bulan Januari kamu sudah tahu ini semua, kamu pasti bahagia.

Aku cemburu. Bukan karena apa yang kamu capai, tapi karena bukan aku lagi yang menemani kamu ketika semua itu terjadi.

Aku bisa membayangkan kamu sibuk bekerja, mungkin sudah melupakanku, mungkin sudah ada seseorang yang menggantikanku. Selama ini aku selalu dihantui oleh ucapan-ucapanmu. Hatiku terasa tidak nyaman, seperti ingin keluar dari dadaku — dipenuhi marah, kecewa, rindu, sayang, dan rasa rendah diri yang bercampur jadi satu.

Kamu pernah bilang bahwa di masa depan semua mimpimu akan indah, dan di dalamnya tidak ada aku. Tapi tahukah kamu, sejak awal aku memang tidak pernah merasa kamu benar-benar melibatkanku dalam rencana hidupmu? Aku merasa hanya menemanimu di satu fase, seolah aku hanya tempat singgah di masa remaja yang labil.

Di tempat favorit kita, aku pernah bertanya apakah kamu akan melakukan semua "kenakalan" itu pada orang setelah aku. Kamu menjawab tidak. Jawaban itu menghancurkanku.

Saat itu aku mulai mempertanyakan nilai diriku, tujuan hidupku, dan semua yang sudah aku korbankan untuk hubungan ini. Kamu berkata bahwa jika ada perempuan lain, kamu akan menjaganya dan tidak akan menyentuhnya. Tahukah kamu betapa menghina kalimat itu bagiku?

Hari itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Hari itu aku merasa masa depanku terpotong. Hari itu jarak di antara kita semakin jauh. Hari itu aku merasa kotor dan hina di hadapan Tuhanku. Hari itu aku menangis dan tidur dengan rasa bersalah yang terasa seperti menimpa keluargaku juga.

Sampai sekarang, rasanya hidup ini tidak adil. Semua mimpimu tercapai, dan mungkin perempuan yang sesuai dengan tipemu akan segera hadir. Aku berusaha berdamai. Aku menenangkan diriku dengan mengakui bahwa aku pun berdosa — karena mau, karena terbuai oleh janji-janji palsumu.

Aku masih ingat tatapan muakmu. Aku ingat caramu menghindar. Aku ingat semuanya.

Dulu, dalam hubungan kita, aku sering menangis saat menstruasi. Aku pikir itu hanya karena hormon dan sikapmu yang childish. Tapi sekarang aku masih menangis — karena merasa hidupku tertinggal, semakin tidak bernilai, dan terasa kecil saat harus berhadapan dengan dunia.

Kini aku sangat bergantung pada agamaku — agama yang kamu hindari, dan yang kamu jadikan alasan untuk mengakhiri hubungan kita. Katamu kamu tidak menyukai orang dengan agama yang kuat. Padahal, saat bersamamu, aku mempertaruhkan imanku dan menentang Tuhanku — demi kamu.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi hidupku terasa berakhir sejak harga diriku kamu injak-injak. Bahkan ketika kita kembali berkomunikasi di Instagram, kamu berkata bahwa kamu tidak punya kewajiban untuk meminta maaf. Saat itu aku yakin, mungkin aku memang tidak akan menoleh ke belakang lagi.

Aku yakin kamu tidak akan pernah mengingat setiap kata yang pernah kamu ucapkan padaku. Terima kasih atas "tumpangan" yang sering kamu banggakan. Tapi aku lebih bahagia jika kamu membanggakan dirimu dalam versi yang benar-benar berubah menjadi lebih baik.

Build a man for another woman is real, right? Semua kamu tumpahkan ke aku, sampai akhirnya kamu belajar bahwa apa yang kamu lakukan padaku tidak pantas dilakukan pada perempuan lain.