Satu jam yang lalu aku berdiri tegap di peron stasiun kereta rel listrik yang dilalui lin biru. Kugenggam secarik kertas berisikan daftar tujuan kemana aku akan melintasi hidup tanpa pilu. Dimana semua seharusnya akan berjalan lancar sesuai dengan angan-angan yang beterbangan syahdu.

Memang pada dasarnya melamun ialah kegiatan yang wajib hukumnya bercumbu ria bersama derap hari bilamana tempatnya di stasiun dibumbui waktu menunggu armadanya hadir. Kegiatan membuang waktu di sela hampanya benak haruslah berakhir. Kutemui sesosok dirimu yang suguhkan kelindan antara teduh pun keindahan berupa syair.

Satu jam yang lalu, kala lembayung senja pamerkan diri sebelum cakrawala dikuasai ratu malam. Kedua mata pandangku bak disihir untuk selalu terpaku pada dirimu mengharap satu salam. Lamun kau justru cergas meyerahkan dirimu untuk ikut tertarik menjalin obrolan tak harap ada waktu yang padam.

Dalam satu jam kutemui aku yang ingin membuang secarik kertas yang semula kugenggam erat. Yang dipenuhi banyaknya tujuan hidup tak sesaat. Memilih untuk dibawanya oleh dirimu kemana saja, musabab dalam enam puluh menit aku terjerat.

Ada hal lain yang dapat buat seluruh isi tubuhku semakin menginginkanmu lebih. Demi hapuskan memorimu dan aku yang sempat sedih. Demi menjajal semua tapak hidup yang belum kita coba bersama nan penuh kasih.

Kamulah satu-satunya dari sejuta khalayak yang menjadi manifestasi doaku meskipun obrolan yang terlaksana berisikan duniamu dan aku itu baru saja berlangsung satu jam yang lalu.

Kini isi pada selembaran kertasku sudahlah telak, aku ingin semua perjalanan kita terasa mengumpulkan banyak kesenangan yang sesaki dada. Bersamamu, perjalanan kita masihlah panjang. Sayang.

M, 2026.

ps. i love you endlessly, shailendra