Di sebuah ruang di ujung rumahku, hiduplah seorang kenangan berparas tajam. Panggilannya Asri, perempuan pemakan bunga. Dia lahir ketika aku haus akan cinta. Sebetulnya aku tidak ingin menceritakan dia, namun akhir-akhir ini dia sedikit meracau karena tercium bunga bertebaran di jalanan.

Sesekali ku tengok Asri, tatapannya 'tak pernah berubah. Mungkin karena keinginannya 'tak kunjung nyata atau mungkin dia berada di waktu yang sama ketika aku menguncinya. Aku membuka pintu yang terkunci, Asri melirikku sambil melahap bunga yang 'tak kunjung habis. Bukankah itu bunga yang sudah ia lahap tiga tahun lalu? Atau ada seseorang yang memberinya bunga tanpa mengetuk pintu rumahku? Meski aku dihantui pertanyaan mengenai bunga yang dimakan Asri, aku dan Asri hanya berbicara melalui tatapan mata. "Aku lapar", itulah arti tatapan Asri sore itu.

Aku tidak sekejam itu, mengurung Asri tanpa memberikannya apapun. Setiap hari Sabtu sore, aku selalu menyajikan bunga segar di dalam vas berwarna kuning. Tentu saja Asri senang, dia akan melirikku sambil melahap bunga yang tak kunjung habis dengan tatapan mata yang lebih ramah dari hari biasanya. "Aneh, dia melahap bunga itu lagi", padahal bunga yang aku berikan jauh lebih segar. Sajian itu ia rangkai dengan penuh cinta. Sesekali ia memotong rambut depannya untuk mempertemukan beberapa bunga pada vas yang aku berikan. Sudah tiga tahun, tapi tidak pernah layu. Dia bukan hanya perempuan pemakan bunga. Bagiku, dia juga Dewi Bunga.

Akan menjadi cerita yang aneh jika aku melanjutkannya. Maka kubiarkan Asri mengambil alih pena ini,

—————————————

Terkadang pahit, terkadang manis. Ku lahap bunga ini, kau 'tak akan mengerti karena kau tidak pernah mau mengerti. Aku terkunci. Tapi aku membiarkannya, mungkin si Nyonya kini membencinya. Sedangkan aku tidak.

Duniaku direnggut. Mungkin tidak? Langkahku direnggut, sedangkan duniaku tidak. Duniaku kini berada di sekelilingku, tersimpan dalam vas berwarna kuning, bumiku.

Pena jelek ini. Masih saja ia gunakan. Aku 'tak pandai merangkai cerita. Sungguh.

32 Oktober, adalah hari dimana aku bergandengan dengannya. Sang pemilik bunga. Tanyakan saja siapa dia pada Nyonya. Bagiku, dia adalah pemilik bunga. Pertemuan pahit sore itu membuatku kini terkunci. Jangan salahkan Nyonya, jangan pula salahkan Sang pemilik bunga karena aku tidak pernah berusaha pergi dari ruang ini. Hari itu membuatku mengenal bumi, duniaku. Si vas berwarna kuning. Aku selalu berandai-andai bertemu Sang pemilik bunga. Mungkin dia akan mengetuk pintu ruangku, atau mungkin dia akan menitipkan bunganya pada si Nyonya, atau mungkin juga dia bersedia menyelam di dalam kuning. Pahit. Aku masih menunggumu.

Sudah aku siapkan tempat di bagian utara bumiku, untukmu. Di sana ada kupu-kupu berbulu hitam dan kucing bersayap jingga. Mereka adalah temanku. Kau akan menyukainya. Juga sudah aku siapkan, seduhan kelopak mawar hitam yang sangat kau kagumi. Aku masih ingat harum bungamu sore itu, ada tiga tangkai. Setiap tangkai memiliki tujuh kelompok atau mungkin enam kelopak. Kau memberikan satu tangkai padaku, sedangkan dua tangkai lainnya kau berikan pada tanah. Tiga tahun. Waktu yang cukup lama. Bukankah kedua tangkai itu kini sudah tumbuh menjadi menara yang bisa ditempati banyak orang?

Satu tangkai yang kini ada di genggamanku. Aku bawa pada dunia kupu-kupu bersayap hitam dan kucing berbulu jingga. Ternyata Nyonya membencinya, dia mengurungku dan tidak membiarkan siapapun tau bahkan masuk dalam ruangan ini. Aku tidak berusaha pergi karena aku tau, duniaku adalah bunga yang kini ada di genggamanku. Tidak akan pernah kubiarkan siapapun melahapnya. Ku teteskan air mata pada setiap bunga yang tumbuh di ruangan ini. "Kekal lah". Kau akan kekal, hingga aku melahap habis tangkai mu.

Sudah berlalu selama tiga tahun, tapi rasanya masih sama. Aku tidak akan bertahan tanpa bunga. Setiap berganti hari, aku memakan bunga yang tumbuh di lekukan bumiku. Tetapi hari ini, aku lahap seluruh bagian bunga itu, dengan tangkainya, juga dengan tanah yang membiarkan bunga tumbuh bersama dengan lumut di tanganku.

Tatapan Nyonya hari itu berbeda, di hari-hari sebelumnya, matanya mengatakan "sudahkah kau lupa?", lalu aku menjawab "aku lapar". Hari itu, tepat tiga tahun. Mata Nyonya mengatakan, "keluar lah, di luar banyak sekali bunga", aku menjawabnya dengan "aku lapar".

Bukan aku yang meracau, tapi engkau, Nyonya.