Tulis. lantas ku catat semuanya, semua daftar kepalsuan yang kalian semua, semuanya, kalian semua pajang di Bumi Selatan Sulawesi.
satu menjelma dua
dua menjelma tiga
lalu tiga adalah kalian semua.
aku mencari satu, satu saja yang tidak palsu. tulus. nihil. tak ada. bahkan satu. palsu yang satu menutup palsu yang lain. berlapis-lapis. tawa yang isinya hitung-hitungan beban.
sial.
aku masih harus bertahan setahun lagi, sebelum lulus.
dahulu aku sibuk mencari celah, di mana letak keliruku hingga kalian begitu abu-abu.
aku menyerah untuk mengerti kalian.
tak akan lagi ada tanya.
tak akan lagi ada aku?¿
Aku memacu kendaraan meninggalkan Tamalanrea, meninggalkan riuh ego dan tawa yang dipaksakan. Ada kelegaan yang luar biasa saat menyadari bahwa kalian tidak tahu aku ada di sini.
Aku duduk bersandar, memandangi kursi-kursi kosong di sekitarku, dan tersenyum kecil. Kalian tidak ada di sini. Tidak di jam ini, tidak di tempat ini.
Jarak ini adalah kemerdekaan yang kubeli dengan segelas americano. pahit. tapi, jujur.
Per hari ini, naskah itu tak lagi berisi tanya. Ku hapus bab tentang "mengapa" dan ku ganti dengan naskah pelarian.
sederhana. aku belum menghafal lekuk-nya. lurus lalu menemui beberapa belokan, sedikit melawan arus dan sampai. sampai kepada kemenangan.
Sedikit lagi. hanya sedikit lagi. kalian benar-benar tak akan pernah menemukanku.