Hujan turun sejak pagi. Saya tatap langit yang juga pudar.

Di meja kayu, secangkir kopi dingin menunggu. Namun, saya masih enggan menyentuhnya. Sudah lama saya tak benar-benar menyentuh apa pun. Bahkan diri saya sendiri.

Hidup terasa seperti ruangan luas yang kosong, tanpa pintu keluar, tanpa jendela yang terbuka.

Saya teringat masa-masa dulu, ketika kata-kata masih bisa menolong diri saya. Saya menulis sampai jari-jari saya gemetar, menulis sampai rasa sakit saya mengecil dan terkurung di antara huruf-huruf.

Namun, sekarang saya takut membuka catatan itu. Takut menemukan monster lama yang pernah saya kunci, takut kalau ternyata saya tak lagi punya tenaga untuk menutup pintu setelahnya.

Sunyi kembali datang, duduk di samping saya. Saya ingin mengusirnya, tapi, ia selalu tahu cara membuat saya menyerah.

Mungkin ini cara dunia membalas dendam. Setelah semua tawa palsu, setelah semua senyum yang saya jahit di wajah supaya orang lain tidak melihat retak dalam diri saya, kini saya harus membayar dengan keheningan yang terlalu panjang.

Di luar, hujan mereda.

Jalanan berkilau, saya menatap bayangan diri di genangan. Samar dan terdistorsi. Saya mencoba tersenyum, hanya untuk memastikan diri saya masih ada.

Namun, bayangan yang ada tak kembali tersenyum.

None