When The Alarm Goes Off, Who Can Save Me?
Minggu kemarin aku bahagia. Pagi ini aku bahagia. Tadi siang pun aku masih bahagia. Atau bahkan jika aku ingat, beberapa jam yang lalu juga aku masih bahagia.
Bahagia. Satu kata sederhana namun kuyakini intensitas penggunaannya sangatlah jarang.
Aku jarang menyadari dan meresapi momen bahagia dalam hidupku. Mungkin karena aku selalu melihat ke depan? atau mungkin pula karena aku selalu melihat kebelakang? Entahlah. Kurasa aku tak memproses perasaan bahagia dengan semestinya. Dan aku baru menyadarinya sekarang. Ketika satu peringatan dari Tuhan menghantam kepalaku tepat pukul 18.00 WIB. Peringatan Tuhan yang mengambil sepenuhnya kebahagiaanku hari itu. Peringatan bahwa kematian selalu dekat denganku, selalu berada di sekitarku, dan selalu mengintaiku.
Peringatan kematian itu aku alami di hadapan ibuku sendiri. Nafasku langsung tercekat. Tak ada satu kata yang bisa mendeskripsikan perasaanku saat peringatan itu terjadi. Pun aku juga tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. Hanya degup jantungku sendiri yang bisa kudengar. Ia berdegup kencang seraya desir darahku mengalir dengan cepat. Kurasakan bulu kuduku meremang dan waktu seakan berhenti berputar. Aku diam dalam ketidakpercayaan. Diam karena aku merasa bersalah. Diam karena aku teringat aku belum pernah benar-benar bahagia. Diam karena aku merasa belum membahagiakan orang-orang di sekitarku. Diam karena aku takut. Aku takut aku tidak memiliki cukup waktu untuk bahagia dan membahagiakan.
Ketakutan itu makin kurasakan ketika aku teringat sebuah kalimat
"Setidaknya beberapa menit sebelum kita akan mati, otak akan memberikan kita kilas balik kehidupan yang kita jalani."
Saat itulah aku mencoba mengingat momen bahagiaku dengan mama.
Gawat.
Aku justru makin tak bisa mengingat. Ketakutanku semakin menjadi karena beberapa pertanyaan muncul lagi di otakku. Pertanyaan seperti Apakah mama punya momen bahagia bersamaku? Bagaimana jika aku bukan salah satu hal yang mama ingat ketika kilas balik menghampirinya? aku ingin menjadi bagian membahagiakan di hidup mama.
Kepanikan semakin kurasakan dalam diamku. Ditambah tatapan sedih dari mama yang membuat sekujur otot di tubuhku kehilangan kekuatannya. Aku ingin berteriak, namun tubuhku seakan berhenti berfungsi.
Beberapa menit setelahnya. Aku tersenyum di hadapan mama. Kusunggingkan wajah tenang terbaikku agar mama juga ikut tenang. Kuakui, besar juga nyaliku masih bisa berkata "Tidak apa-apa, ma." padahal tanganku bergetar hebat mengepal erat di samping celana jeans yang kugunakan.
Selama ini aku menipu diriku sendiri. Aku mengabaikan perasaan bahagia karena aku selalu mendahulukan otakku yang bekerja. Ketika kesuksesan, kesehatan, atau hal-hal duniawi lainnya kudapatkan, hanya ada perasaan lega bahwa satu hal atau bahkan satu hari berhasil kulewati. Aku lupa bahwa hal tersebut tidak datang dua kali.
Satu detik yang kulalui saat ini adalah hal berharga karena aku tidak bisa mendapatkannya kembali. Sebab itulah, seharusnya aku mensyukuri dan meresapi segala sesuatu yang datang kepadaku.
Dengan merayakan dan berbagi kasih, misalnya. Merayakan disini bukan kegiatan seperti berpesta atau hal ramai lainnya. Merayakan yang kumaksud adalah kembali ke rumah.
Sebagai orang tua, mama dan papa tidak pernah menuntutku. Mereka memang memberikan segalanya, untuk itulah aku justru juga merasa harus memberikan yang terbaik. Sejak kecil selalu kuusahakan menjadi yang terbaik, yang membanggakan, yang membuat mama dan papa senang. Semakin waktu berlalu dan bertambahnya usia, aku terjebak dalam kesalahan mindsetku sendiri. Kesalahan bahwa kukira mama dan papa hanya akan menerimaku saat aku berada di versi terbaikku.
Kuliah, kerja, aku memutuskan untuk tinggal sendiri. Bukan untuk sok mandiri atau apa, aku tahu jarak rumah kami hanya 2 jam. Aku juga masih sepenuhnya diberi uang jajan bulanan. Aku menerima fakta bahwa misi kabur dari rumah ini adalah tindakan impulsif karena inferiorityku sendiri.
Ya benar. Aku malu. Aku malu karena beberapa tahun terakhir aku tidak benar-benar menjadi "lebih" dari yang lain. Tidak ada tolak ukurnya memang. Itu hanya penilaianku sendiri. Aku terbiasa memotivasi diriku sendiri dengan berpikir bahwa aku ini buruk dan aku seharusnya bisa lebih dari yang kudapatkan sekarang. Hal inilah yang juga menghambat kebahagiaanku.
Mama dan papa tidak pernah berkata bahwa aku harus selalu menjadi juara. Itu hanyalah akal-akalan egoku saja.
Aku terlalu berusaha keras memenuhi standarku hingga aku melupakan orang-orang yang seharusnya aku bahagiakan selagi aku punya waktu.
Aku menyasal baru menyadarinya sekarang. Aku menyesal mengabaikan panggilan dan selalu mengatur ponselku di mode "do not disturb". Aku menyesal tidak langsung pulang ke rumah ketika aku sepenuhnya senggang di hari liburku. Aku menyesal tidak menghabiskan malam lelahku di rumah dengan orang yang kusayang. Juga menyesal tidak pulang ke rumah ketika mendapatkan kabar bahagia. Andai aku pulang ke rumah, aku pasti bisa membuat lebih banyak kenangan bersama mama, aku bisa lebih sering memakan masakan buatannya, aku bisa menanyakan hari papa dan bagaimana pekerjaannya, aku bisa mengajari adikku PR matematikanya, kami bisa makan malam bersama sambil berbagi kasih dan kisah.
Seandainya…
Seandainya…
Seandainya..
Kata itu terus berputar di otakku. Tidak hanya itu saja. Rasa sesal ini benar-benar terasa berat di dada. Mengapa tidak sedari dahulu aku menyadarinya? setidaknya 1 tahun sebelum sekarang? seharusnya aku tahu bahwa keluargaku menerimaku karena aku adalah aku. Orang tuaku tidak menginginkan apapun kecuali waktu dan kehadiranku.
When the alarm is off, who can save me? Jika sudah kehabisan waktu seperti sekarang ini, aku bisa apa? tidak ada hal yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa beribadah, sambil menangis memohon pertolongan.
Akhir-akhir ini setiap beribadah aku selalu menangis. Teringat jika beberapa tahun belakangan selama hidup sendiri aku sangat jauh dari Tuhan. Aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, aku ini hanyalah pendosa duniawi.
Apalah arti uang, apalah arti pencapaian jika orang yang kita sayang tidak dapat melihat atau merasakannya?
Oleh karena itu, atas peringatan Tuhan ini aku belajar satu hal bahwa yang paling berharga bukanlah harta. Bagiku hal yang paling berharga adalah waktu. Setiap detik, setiap menit, setiap jam yang kujalani tidak akan aku dapatkan kembali. That's why time is priceless. Tolong hargai waktu. Jangan menunggu sempat, tapi sempatkan. Your death, it won't happen to you. It happens to your family and your friends. Dunia tidak akan mengingatmu, tapi keluargamu dan temanmu akan mengingatmu selamanya. So live your life to the fullest with the person you loved.