Dalam suasana santai, kami sedang duduk-duduk di depan televisi untuk menonton acara bersama. Saya lupa detailnya, tetapi saat itu seingat saya ada bencana longsor atau banjir yang meluluhlantakkan sebuah jembatan.
Ayah saya berkecimpung di dunia konstruksi sejak ia masih mahasiswa, dan bencana itu memantik sebuah pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada beliau. Saya bertanya, apakah susah membangun sebuah jembatan yang harus banyak sekali dipikirkan konstruksinya agar tahan bencana?
Mendengar pertanyaan saya itu, ayah bukannya menjawab, malah bertanya balik, "Menurutmu, apa yang paling susah dalam mengerjakan sebuah proyek itu?". Saya jawab, "Ya sesuatu hal yang tidak pasti seperti bencana alam ini".
Beliau bilang, "Bukan. Yang paling susah adalah manusianya. Menghitung, merancang, dan mengevaluasi sebuah bangunan itu mudah. Yang susah adalah memimpin manusianya dan bekerja sama. Semua orang punya kebutuhannya masing-masing, semua orang punya pemikirannya masing-masing". Saya tanpa pikir panjang menjawab, "Setuju".
Kepercayaan itu adalah landasan semua bisnis; baik itu antara pelanggan dan penjual maupun antara pekerjanya. Barusan saja saya lihat video wawancara seorang billionaire tentang ilmu negosiasi. Semua negosiasi itu harus win-win, katanya. Tidak ada pihak yang dirugikan.
Membuat sebuah bisnis yang tujuannya adalah memberikan tempat yang aman dan nyaman, juga menuntut kita harus berpikir demikian. Jika tidak ada kepercayaan antara pemilik bangunan dan penyewa, maka yang terjadi adalah kerusakan sistemik. Bisnis, walaupun secara harfiah adalah untuk mencari keuntungan, secara naluriah tidak bisa dilepaskan dari moral dan perasaan.
Kalau Anda berbicara dengan pelanggan yang badannya kecil, jarang makan, baju lusuh, dan menunggak lagi, pasti muncul pikiran: "Mengapa bisa terjadi? Ada apa?" Dan bayangkan jika yang seperti itu ada lebih dari 10 orang, pasti kepala sakit. Belum lagi urusan fasilitas rusak, kehilangan, dan peraturan yang dilanggar.
Pendekatan yang selalu membuat bingung adalah bagaimana membuat hunian seprofesional mungkin, tetapi tidak kehilangan sisi humanisnya. Mengapa sisi humanis yang jujur itu penting?
Coba ingat kasus sekeluarga yang ditabrak mobil di parkiran oleh orang berkewarganegaraan India, di Singapura, tempo hari. Sisi humanis dari hotel tempat korban menginap keluar dengan menggratiskan si Ayah menginap selama proses penyembuhan istrinya. Efeknya, hotel tersebut jadi ramai dan rating-nya naik. Semua itu berawal dari kejujuran dan ketulusan.
Dalam berinvestasi juga seperti itu. Investasi terbaik bagi saya saat ini adalah investasi yang bisa saya kontrol secara langsung. Investasi ke sebuah pelayanan jual beli harus dibarengi dengan sisi humanisnya. Mengapa sepi? Apa yang sebenarnya terjadi? Alasan-alasan yang membuat sakit kepala dan sakit hati memang terkadang harus kita telan.
Tidak semua hal melulu tentang untung rugi. Lagi-lagi ini tentang keseimbangan antara manusia dan untung-ruginya. Kekacauan dalam memilih untuk mendahulukan empati atau mendahulukan bisnis — dipertegas, dipecat, atau berhenti bekerja sama — itulah yang membuat manusia tetap manusia.
Memimpin manusia jauh lebih kompleks daripada memperbaiki barisan kode, struktur bangunan, atau memperbaiki kerugian jual beli. Kepintaran kognitif saja tidak cukup untuk mengelola bisnis di lapangan. Solusinya adalah perbaikan terus-menerus. Selalu ada ruang untuk memperbaiki diri, bisnis, dan kehidupan di sekitar.