Jari-jariku teremat dalam tanah. Remah-remahnya menumpuk dan kotor di dalam sela-sela jari dan kukuku. Ku gurat tanah dengan jari telunjuk dan jempol, melukis dan menulis apapun yang terasa bagaikan batu dalam dadaku. Rasanya sesak, gondok, muak. Air mata menggenang terbendung di pelupuk mata, menunggu sampai kiranya pemilik mata ini menghendaki puluhan tetes air untuk meluncur ke pipi bak air terjun.
Aku. Benci. Jadi. Orang. Baik.
Kugaruk tanah di dekat sepatuku itu dengan geram seolah tanah itu adalah tersangka utama atas kesengsaraan dalam hidupku.
Aku. Benci. Jadi. Diriku.
Air mata mulai meluncur, tumpah dan mengalir deras di kedua pipiku. Aku bekap mulutku sendiri dengan lengan. Tanganku gemetar terus menggaruk tanah, melampiaskan hasrat kotor yang ingin kulakukan pada orang lain dan dunia ini.
Aku. Bosan. Menjadi. Orang. Sabar.
Entah Tuhan mana yang mengajarkan manusianya sabar hingga mati, pikirku. Tak ada Tuhan yang seperti itu. Menahan kesabaran agar tak meledak, menurutku, sungguh menyiksa. Tuhan bukan penyiksa. Aku tahu itu, dan aku masih mempertahankan kepercayaan itu.
"Katakan padaku, Noah Dawatra," Aku berujar dengan serak pada sosok di belakangku, "jika aku sudah bosan menjadi manusia seperti yang diinginkan kitab-kitab dan wejangan orang tua, apa Tuhan akan mempertimbangkan melemparku ke neraka?"
Sosok itu, Noah, justru terkekeh ringan, "Aku yang bosan melihat orang baik berubah menjadi jahat sebab manusia lain mengeliminasinya dari kelompok karena tak sesuai standar." Ia melangkah di hadapanku, berhenti, ikut duduk di tanah tempat aku menggaruk tanah.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya dengan tenang, "lingkungan ini hancur?"
"Aku muak menjadi anak baik," bisikku, kembali terisak, "aku muak bersabar. Aku muak melantunkan doa-doa yang tak kunjung mendapat hasil. Aku muak merasakan sesuatu yang tak menyenangkan lalu dilabeli masyarakat sebagai cobaan."
"Aku tanya apa yang kau inginkan," Noah berujar lagi, masih dengan nada tenangnya dan mata gelap yang menatapku dalam.
Aku menelan ludah. Menelan pahit-pahit isak tangis yang menyesakkan dada.
"Seumur hidup…" Aku terisak lagi, kali ini sesenggukanku lebih keras. Bahuku berguncang, "aku…"
Aku ingin tahu bagaimana rasanya mengabaikan chat, sapaan, dan perlakuan seseorang, yang masyarakat sebut sebagai silent treatment.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya mengumpat kasar.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya mengkritik kelakuan lawan jenis tanpa harus khawatir diri ini akan ditikam atau diperkosa karena melukai ego mereka.
Aku ingin tahu bagaimana caranya mencampakkan seseorang.
Aku ingin tahu bagaimana memiliki seseorang yang kita inginkan tanpa perlu menyematkan cincin dan mengucap sumpah janji pernikahan.
Aku ingin tahu rasanya merenggut harta seseorang karena orang itu memiliki riwayat perlakuan yang tak baik kepadaku maupun keluargaku.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya mendominasi keluarga besar yang notabene-nya selalu mencela usaha ayah dan ibuku.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya memaksa seseorang menjadi pendengar utamaku.
"Aku ingin…," Aku mulai berbicara, nadaku terbata dan putus asa. Air mataku menetes ke tanah yang acak-acakan bagai baru saja terkena tembakan rudal, "sehari saja… Sehari saja, biarkan aku melewati batas moral masyarakat."