Judul: Aku Ketemu Istriku Waktu di Rumah Sakit

Oleh: [Rayhan Vari Andika]

Aku nggak pernah nyangka, tempat kerja yang katanya angker dan penuh cerita mistis justru jadi saksi bisu kisah cinta aku. Ya, aku adalah seorang sekuriti, dan salah satu tempat kerja paling berkesan dalam hidupku adalah rumah sakit.

Dulu, sebelum aku kenal dia lebih jauh, aku pernah lihat dia jaga di IGD. Cuma sekilas waktu patroli malam, tapi entah kenapa, ada rasa yang muncul sejak saat itu. Tapi waktu itu, kami masih punya kisah masing-masing. Dia lagi LDR sama cowoknya di Jogja. Aku pun masih punya pacar, dan sama seperti dia, LDR juga.

Lama-lama, hubungan itu terasa makin jauh. Aku mulai bosan dan gak nyaman. Ternyata, dia pun merasakan hal yang sama. Dari sering ketemu di rumah sakit, aku akhirnya nekat minta nomor WA-nya langsung. Dan dia kasih.

Kami mulai ngobrol. Chat ngalir, nyambung banget. Tapi ngajak jalan? Susahnya minta ampun. Sampai akhirnya, dia mau juga keluar sekali, makan dan minum bareng. Dari situ, makin dekat, makin sering jalan. Bahkan kalau aku nggak ngajak, dia yang ngajak. Hehe.

Sampai akhirnya aku ngomong serius ke dia: "Kamu mau nggak serius sama aku?" Dia bilang, kalau memang serius, temui orang tuanya di Jogja.

Aku langsung ambil cuti 4 hari. Berangkat ke Jogja, dan alhamdulillah… orang tuanya nerima aku dengan baik. Kami ngobrol, salaman, bahkan cipika-cipiki. Mereka bilang, "Kalau kamu memang niat, bawalah orang tuamu ke sini."

Begitu pulang ke Jakarta, aku langsung bilang ke mamaku, "Mam, aku udah bilang ke orang tuanya. Aku serius. Aku mau ajak mam ke sana buat melamar." Mamaku langsung bilang siap. Tanggal ditentukan, semua disiapkan, dan akhirnya... Aku melamar Hani.

Tapi perjuangan belum selesai di situ.

Setelah lamaran, datanglah ujian yang paling berat. Aku harus pisah kerja sama Hani.

Kontrak kerjaku di rumah sakit habis. Aku keluar. Sedangkan Hani tetap bekerja di sana sampai sekarang.

Itu masa yang paling berat. Bayangin aja, udah lamaran, udah saling sayang, tapi harus pisah karena pekerjaan. Rasanya campur aduk. Sedih, nggak enak, dan hampa. Tapi cinta kami tetap jalan. Kami tetap saling komunikasi, saling support.

Bahkan, meski nggak lagi kerja bareng, aku tetap berjuang dari luar. Makin semangat nabung, makin giat nyiapin masa depan. Dan akhirnya… Kami menikah.

Dan sekarang, alhamdulillah… Hani sedang hamil anak pertama kami. Usia kandungannya sudah lima bulan. Kami menantikan kehadiran buah hati dengan rasa syukur, haru, dan cinta yang terus tumbuh dari awal sampai sekarang.

Di tempat yang katanya penuh cerita horor, aku justru menemukan cinta paling tulus dalam hidupku. Dan meski jalan kami sempat terpisah, hati kami tetap menyatu.

---