Aku tak sedang marah, hanya sedang menyusun kembali diriku yang tak sengaja kau runtuhkan secara perlahan. Semuanya bermula dari diam yang kau pilih, kejujuran yang tak pernah benar-benar kau beri. Kau biarkan aku percaya, padahal di balik tenangmu, kau menyimpan sesuatu yang seharusnya tak lagi kau buka.

Aku bukan tidak bisa memaafkan, aku hanya kesulitan menerima bahwa luka ini bukan karena kesalahan yang besar, melainkan karena kepercayaan yang perlahan kausayat dari dalam. Dan saat kau mengenalkannya kembali kepada duniamu, teman-temanmu hanya diam, seolah tak ada yang layak dipersoalkan, seolah yang kulalui tak cukup untuk disebut pengkhianatan yang sunyi.

Aku menyaksikan semuanya dari kejauhan, dalam diam, dengan dada yang tak sempat bertanya, hanya menahan. Dan sejak saat itu, aku tak lagi sama. Bukan karena aku ingin berubah, tapi karena aku tak tahu lagi bagaimana caranya percaya tanpa berjaga-jaga.

Jika aku terlihat jauh, dingin, atau terlalu tenang, itu bukan karena hatiku sudah padam. Tapi karena aku sedang hidup bersama trauma yang tak pernah sempat kutunjukkan kepada siapa pun, bahkan kepadamu.