Aku ingin mencintaimu dalam senyap yang paling perih, setabah rakyat yang menyaksikan tanahnya beralih. Seperti negara yang memuja gedung-gedung tinggi, yang pondasinya dipasak dari lapar yang tak bertepi; di mana megah beton berdiri di atas rintih, dan anak-anak kecil bertanya kapan perut mereka akan pulih? Aku ingin mencintaimu setuntas pabrik-pabrik melunasi hutang pada sungai-sungai yang pasrah mengalirkan racun ke nadi pemukiman, menasbihkan kehancuran sebagai bentuk kemajuan.

Lalu kau bertanya, "Mengapa cintamu tak bersuara?" Lihatlah sungai yang tak lagi punya muara. Limbahnya mengalir deras, membasuh mimpi-mimpi warga, seperti janji-janji manis yang berakhir menjadi lara. Jika kau rindu melihat cinta yang paling gila, tengoklah penguasa yang memuja sawit dengan buta; begitu posesif, hingga hutan pun kehilangan nyawa, begitu egois, hingga alam tak lagi punya sisa.

Aku ingin mencintaimu Dengan sederhana Dengan kata yang tak sempat Diucapkan api Yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu Dengan sederhana Dengan isyarat yang tak sempat Disampaikan awan kepada hujan Yang menjadikannya tiada

— Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, meski dunia ini sudah kehilangan makna. Sesederhana isyarat kayu kepada api yang melahapnya, atau sepi yang ditulis Sapardi dalam sajak-sajaknya. Sebab mencintaimu di zaman ini adalah satu-satunya luka yang paling ingin ku pelihara selamanya, mencintaimu dengan jujur adalah satu-satunya bentuk pemberontakan yang masih tersisa, sungguh mencintaimu adalah satu-satunya doa yang masih punya rupa.

Maka biarlah aku tetap hening, sebab suara yang terlalu keras biasanya hanya milik mereka yang pandai berjanji, tapi gemar mengkhianati hati.